5 Agustus 2025 Jadi Hari Terpendek, Apakah Tetap 24 Jam dalam Sehari?

AKURAT.CO Pada 5 Agustus 2025, para ilmuwan dari berbagai lembaga pengamat bumi dan rotasinya mencatat bahwa hari tersebut mengalami percepatan rotasi yang menjadikannya hari terpendek sepanjang tahun ini.
Durasi waktu hari itu tercatat lebih pendek sekitar 1,25 milidetik dari waktu normal 86.400 detik atau 24 jam. Namun, pertanyaan yang segera muncul adalah: jika demikian, apakah hari tersebut tetap dihitung sebagai 24 jam?
Secara teknis, ya. Meski ada perubahan dalam rotasi bumi, sistem penanggalan dan perhitungan waktu kita tidak berubah. Kalender tetap mencatat 5 Agustus sebagai satu hari penuh, dan jam tetap berjalan dari 00.00 hingga 23.59 seperti biasa.
Perbedaan 1,25 milidetik itu begitu kecil hingga tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari. Namun dari perspektif ilmiah, itu adalah sinyal penting tentang dinamika yang sedang terjadi pada planet tempat kita berpijak.
Baca Juga: 5 Agustus Disebut Jadi Hari Terpendek, Ternyata Ada Hari yang Lebih Pendek di Zaman Nabi
Fenomena ini bukan pertama kali terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir, percepatan rotasi bumi memang menjadi perhatian banyak ilmuwan.
Biasanya, selama beberapa dekade terakhir, bumi justru mengalami perlambatan rotasi akibat pengaruh gravitasi bulan yang menarik massa air di lautan sehingga memperlambat rotasi bumi secara gradual. Tapi sejak tahun 2020-an, pola ini mulai berubah: bumi justru mencatat hari-hari yang lebih pendek daripada biasanya.
Ahli rotasi bumi dari Universitas Negeri Moskow, Leonic Zotov, menyebut bahwa percepatan ini tidak bisa dijelaskan sepenuhnya oleh model atmosfer atau pasang surut laut.
Sebagian besar teori mengarah pada dinamika internal bumi, terutama interaksi antara inti dalam dan inti luar bumi yang bersifat cair. Rotasi yang sedikit melambat di bagian dalam dapat mendorong percepatan di bagian luar kerak bumi.
Dari sisi astronomi, satu rotasi bumi secara akurat (sideral day) berlangsung sekitar 23 jam, 56 menit, dan 4,1 detik. Namun, perhitungan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah hari matahari (solar day), yaitu waktu yang dibutuhkan matahari untuk kembali ke posisi yang sama di langit — ini yang kita sebut sebagai 24 jam.
Maka, meskipun secara fisik rotasi bumi lebih cepat dan hari lebih pendek secara ilmiah, sistem waktu kita tetap menggunakan konvensi 24 jam.
Ada beberapa alasan mengapa sistem waktu tidak disesuaikan dengan fluktuasi sekecil itu. Pertama, perubahan sepersekian milidetik belum berdampak signifikan terhadap kegiatan manusia.
Kedua, penyesuaian waktu dunia hanya dilakukan bila perubahan mencapai ambang batas tertentu, misalnya dengan menambahkan atau mengurangi detik kabisat (leap second).
Namun sejak 2016, praktik penambahan detik kabisat juga mulai dipertimbangkan untuk dihentikan karena menimbulkan ketidaksesuaian pada sistem digital global.
Pada titik ini, pertanyaan kritis mulai muncul: jika rotasi bumi terus mempercepat, apakah kita perlu meninjau kembali cara kita mengatur waktu? Sejumlah pakar memperkirakan bahwa jika tren percepatan terus berlanjut, maka kemungkinan penyesuaian besar terhadap sistem waktu dunia — seperti pengurangan detik — bisa menjadi perdebatan baru di antara badan-badan internasional yang mengatur waktu universal (UTC).
Meskipun demikian, untuk saat ini, tidak ada perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Jam digital, jadwal transportasi, sistem satelit, dan bahkan waktu salat tetap berjalan seperti biasa. Namun di balik stabilitas tersebut, bumi sebenarnya tengah berubah. Ia berputar lebih cepat, dan secara diam-diam memperpendek hari-hari kita — milidetik demi milidetik.
Baca Juga: Fenomena 5 Agustus sebagai Hari Terpendek, Ini 5 Orang yang Merugi karena Waktu dalam Islam
Fenomena 5 Agustus ini seharusnya menjadi pengingat bahwa waktu bukanlah sesuatu yang absolut, melainkan relatif dan dinamis. Ia bukan sekadar angka di jam dinding, tetapi juga bagian dari sistem kompleks yang terus bergerak. Perubahan sekecil apapun dalam mekanisme bumi bisa memengaruhi bagaimana kita memahami hari, jam, dan bahkan kehidupan itu sendiri.
Dengan demikian, meskipun 5 Agustus 2025 menjadi hari terpendek secara rotasional, ia tetap dianggap sebagai satu hari penuh dalam kalender — tetap 24 jam. Tetapi bagi ilmuwan dan pengamat langit, hari itu adalah momen penting yang membuka ruang lebih dalam untuk memahami rahasia bumi dan bagaimana ia mengelola waktu dalam diam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









