Akurat

Dampak Perkembangan Teknologi Terhadap Gaya Belanja dan Perilaku Konsumtif Generasi Z

Shalli Syartiqa | 10 Januari 2024, 19:51 WIB
Dampak Perkembangan Teknologi Terhadap Gaya Belanja dan Perilaku Konsumtif Generasi Z

AKURAT.CO Teknologi telah memberikan dampak yang signifikan terhadap gaya belanja dan perilaku konsumtif generasi Z.  Kemudahan, kenyamanan, serta beragamnya pilihan yang ditawarkan oleh belanja online telah membuatnya menjadi pilihan utama bagi generasi Z.

Hal ini terlihat dari kesungguhan generasi Z dalam menggunakan platform e-commerce dan media sosial untuk berbelanja. Mereka telah menjadi pengguna digital yang sangat mahir dan hal ini memunculkan inovasi perilaku belanja yang berdampak negatif.

Berdasarkan Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Vol.11 yang ditulis Giovani Santoso, perilaku generasi Z dalam berbelanja online sangat dipengaruhi oleh ulasan dari individu yang dipercayai. Tak hanya itu, perilaku belanja generasi Z dipengaruhi oleh Key Opinion Leaders (KOL) atau influencer yang mereka kagumi. Faktor seperti harga, lokasi, dan iklan memainkan peran penting dalam perilaku belanja generasi ini.

Dalam hal konsumsi, teknologi juga memainkan peranan penting dalam membentuk perilaku generasi Z. Mereka memanfaatkan platform media sosial dan konten digital seperti video di YouTube dan TikTok untuk mencari referensi produk dari teman-teman sebaya sebelum melakukan pembelian. Hal ini menunjukkan bahwa generasi Z adalah konsumen setia konten digital dan sangat memengaruhi strategi pemasaran produk. Kebanyakan generasi Z lebih memilih metode pembayaran digital dan aktif menggunakan aplikasi pembayaran seperti QRIS dan e-wallet.

Menurut Jurnal Sahmiyya Vol.2 yang ditulis Nafisah Asnal, sifat konsumtif generasi Z bukan hanya disebabkan dari digitalisasi ekonomi tetapi juga faktor hedonisme. Mereka menjadikan sebuah trend sebagai ajang untuk mengedepankan diri atau disebut dengan fear of missing out (FOMO). Hal tersebut menjadi fenomena yang marak di kalangan generasi Z.

Perilaku konsumtif kini telah menjadi suatu lifestyle yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan emosional daripada memenuhi kebutuhan fungsional. Hal ini mengakibatkan perubahan perilaku dari perencanaan belanja menjadi belanja tanpa rencana, bahkan bersifat spontan.

Transformasi ini dipicu oleh berbagai faktor yang berkembang melalui lifestyle, termasuk hedonisme dan materialisme. Saat ini, banyak individu yang tidak autentik, terutama di kalangan generasi Z yang cenderung mengikuti gaya hidup barat, meniru dan membeli produk yang digunakan oleh tokoh terkenal seperti aktor atau aktris yang mereka idolakan.

Generasi Z yang terbiasa dengan perkembangan teknologi dan keterbukaan pikiran, mengalami pergeseran paradigma dalam hal gaya belanja dan konsumsi produk. Pengaruh teknologi pada kebiasaan belanja dan konsumsi generasi Z tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan dan kecepatan dalam melakukan transaksi, tetapi juga berhubungan dengan kesadaran terhadap isu-isu lingkungan, seperti dampak negatif dari praktik fast fashion.

Generasi Z yang mengkonsumsi produk fast fashion dengan mempertimbangkan tren ingin memunculkan image fashionable, yakni image seseorang yang peduli dengan perkembangan tren terbaru. Mereka berusaha menciptakan citra sebagai individu yang peduli dengan perkembangan tren terkini melalui pilihan pakaian mereka. Harapannya, orang lain dapat menginterpretasikan pesan yang ingin disampaikan melalui busana yang dipilih.

Dampak buruk terhadap lingkungan dan permasalahan ketenagakerjaan muncul sebagai konsekuensi dari praktik fast fashion. Produsen seringkali mengesampingkan aspek keselamatan, jam kerja, dan pengupahan yang adil bagi pekerja. Selain diberikan upah di bawah standar, terdapat masalah pembayaran upah yang tertunda. Di sisi lain, produk dijual dengan harga tinggi, namun para pekerja yang menghasilkan produk tersebut harus menunggu berbulan-bulan untuk menerima bayaran.

Sementara itu, generasi Z harus mengerti akan isu penggunaan bahan pakaian yang tidak ramah lingkungan dan limbah tekstil. Mereka harus memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya memilih merek dan produk yang mendukung keberlanjutan, dan menolak praktik produksi pakaian yang merugikan lingkungan. Pabrik merupakan konsumen energi utama dan oleh karena itu merupakan penyumbang utama gas rumah kaca.

Selain itu, penggunaan kapal untuk pengiriman produk menyebabkan peningkatan emisi CO2 karena bahan bakar bunker yang digunakan mengandung belerang 1800 kali lebih banyak dibandingkan dengan bahan bakar domestik AS. Hal ini menjadikan sektor pengiriman sebagai penyumbang polusi yang signifikan.

Oleh karena itu, untuk mengatasi isu fast fashion, generasi Z memerlukan pilihan-pilihan pakaian dan produk yang memiliki komitmen terhadap penggunaan keberlanjutan, baik dalam hal bahan baku maupun praktik produksinya. Hal ini menjadi sinyal bagi perusahaan-perusahaan untuk bergerak menuju praktik produksi yang lebih ramah lingkungan.

Adopsi teknologi seperti Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR), yang memungkinkan pengalaman belanja yang lebih interaktif dan terhubung dengan nilai-nilai keberlanjutan, dapat menjadi pilihan yang tepat bagi perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan preferensi konsumsi generasi Z yang selalu terhubung dengan teknologi.

Salah satu cara untuk meminimalisir dampak fast fashion di tengah perkembangan teknologi dan perilaku konsumtif generasi Z adalah dengan meningkatkan kesadaran akan dampak lingkungan dari kegiatan konsumsi. Generasi Z dapat diajak untuk lebih mempertimbangkan pembelian pakaian, seperti dengan memperbaiki pakaian yang rusak daripada membeli baru dan memilih pakaian brand lokal. Hal ini dapat membantu mengurangi konsumsi berlebihan dan dampak lingkungan negatif dari produksi pakaian.

Selain itu, pendidikan dan peningkatan kesadaran tentang keberlanjutan dan etika produksi pakaian sangat penting. Generasi Z perlu mendapatkan informasi tentang praktik-produksi pakaian yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Hal ini mungkin membantu mereka melihat perlunya peran individual dalam mengurangi dampak buruk yang disebabkan oleh fast fashion.

Dengan memadukan solusi yang berkelanjutan dan pendidikan tentang dampak fast fashion, diharapkan generasi Z dapat membentuk perilaku konsumen yang lebih bertanggung jawab dan membantu mengurangi dampak negatif fast fashion bagi lingkungan dan masyarakat.

 

Penulis: Titania Isnaenin Azizah, Mahasiswi semester 5D Program Studi Jurnalistik, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.