Akurat

Kurator GBTI: Komunitas Tionghoa Harus Dipahami sebagai Bagian dari Indonesia

Oktaviani | 27 Januari 2026, 16:45 WIB
Kurator GBTI: Komunitas Tionghoa Harus Dipahami sebagai Bagian dari Indonesia

AKURAT.CO Selama bertahun-tahun, sejarah komunitas Tionghoa di Indonesia kerap diposisikan sebagai kisah pinggiran—dipisahkan, disederhanakan, bahkan dihindari. Cara pandang inilah yang ingin diubah Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI).

Sejak awal, GBTI tidak dibangun untuk menegaskan perbedaan, melainkan untuk menempatkan komunitas Tionghoa sebagai bagian utuh dari perjalanan Indonesia.

Kurator GBTI, Bob Edrian, menyebut gagasan tersebut sebagai benang merah pendekatan kuratorial yang dihadirkan dalam pameran permanen.

“Pesan utamanya adalah bagaimana pada akhirnya komunitas Tionghoa harus dipahami sebagai bagian dari Indonesia,” ujar Bob.

Menurutnya, pesan itu tidak disampaikan melalui narasi besar yang menggurui, melainkan melalui detail-detail pengalaman hidup.

Salah satunya dihadirkan melalui Ruang Kesaksian, ruang kedua dalam pameran permanen, yang menempatkan arsip sebagai pintu masuk memahami proses kehadiran dan perjumpaan budaya.

“Di Ruang Kesaksian, pengunjung akan melihat arsip foto yang berdampingan dengan video dokumentasi. Arsip-arsip ini kami kumpulkan dari berbagai lembaga kearsipan, termasuk lembaga negara, institusi militer, dan universitas,” kata Bob.

Arsip tersebut dipilih bukan untuk membangkitkan nostalgia semata, melainkan untuk menunjukkan peran sosial masyarakat Tionghoa dalam berbagai bidang kehidupan.

Baca Juga: Cara Membuat QRIS untuk UMKM dan Pebisnis: Panduan Lengkap dari Registrasi hingga Siap Digunakan

“Kami memilih foto-foto berdasarkan aspek peran masyarakat Tionghoa di bidang ekonomi, pemerintahan, dan pendidikan. Semua itu menunjukkan bagaimana komunitas Tionghoa hadir, berinteraksi, dan berbaur dalam masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Bob menekankan bahwa sejarah tidak pernah bersifat tunggal. Karena itu, arsip visual dipertemukan dengan video dokumentasi dan wawancara guna menghadirkan ingatan kolektif yang lebih berlapis.

“Di ruang ini juga terdapat video dokumentasi yang merekam pengalaman dan ingatan kolektif masyarakat Tionghoa di Indonesia,” katanya.

Untuk membangun narasi tersebut, tim kurator melakukan riset lapangan ke berbagai daerah agar cerita yang dihadirkan tidak terpusat pada satu wilayah dan satu versi sejarah.

“Kami melakukan riset ke Jakarta, Singkawang, Bali, Semarang, hingga Cirebon untuk menelusuri jejak pengaruh komunitas Tionghoa dalam kehidupan masyarakat Indonesia hari ini,” ujar Bob.

Bagi Bob, Ruang Kesaksian berfungsi sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini—ruang yang memperlihatkan bahwa identitas terbentuk melalui proses panjang, bukan dalam satu peristiwa.

“Ruang ini menjembatani masa lalu dan masa kini, sekaligus berbicara tentang bagaimana pengalaman komunitas Tionghoa di Indonesia terbentuk seiring waktu,” katanya.

Pendekatan tersebut berlanjut di Ruang Keakraban, ruang permanen terakhir yang secara sengaja menurunkan skala narasi ke ranah domestik dan keseharian.

“Di Ruang Keakraban, kami menampilkan berbagai bentuk asimilasi dan akulturasi budaya, mulai dari peralatan dapur, resep tulisan tangan, hingga wastra dan busana,” ujar Bob.

Di tengah ruang tersebut, sebuah meja makan besar dihadirkan sebagai simbol perjumpaan.

“Meja makan ini kami hadirkan dengan harapan pengunjung bisa datang bersama, duduk, berbincang, dan berbagi cerita,” katanya.

Baca Juga: Apa Itu Board of Peace? Lembaga Global Bentukan Trump yang Picu Pro dan Kontra Dunia

Pilihan menghadirkan permainan arcade, permainan memasak, hingga fitur memilih pakaian kerap dianggap tidak lazim bagi museum sejarah.

Namun Bob menegaskan bahwa GBTI memang tidak ingin mengulang pendekatan lama dalam mempresentasikan sejarah.

“Kami tidak memposisikan GBTI sebagai museum sejarah yang kaku. Posisi kami ada di antara galeri dan museum,” ujarnya.

Karena itu pula, tidak semua artefak yang ditampilkan merupakan benda asli.

“Sebagian artefak direproduksi agar ruang ini tidak menjadi situs edukasi yang terlalu serius,” kata Bob.

Pendekatan ini, menurutnya, justru membuka ruang belajar yang lebih inklusif, terutama bagi generasi muda.

“Dengan permainan, video, dan ruang interaktif, pengunjung muda bisa belajar secara menyenangkan sambil memahami konteks sejarah dan budaya secara lebih kompleks,” ujarnya.

Di titik inilah pesan utama GBTI kembali ditegaskan: sejarah komunitas Tionghoa bukanlah kisah tentang ‘yang lain’, melainkan bagian dari Indonesia itu sendiri.

“Sejak lama komunitas Tionghoa hidup dan mendampingi Indonesia di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, industri kreatif, gaya hidup, hingga tradisi,” kata Bob.

Bagi GBTI, sejarah tidak dimaksudkan untuk mengunci identitas, melainkan membuka ruang pemahaman—bahwa kebersamaan Indonesia dibangun dari banyak perjalanan, termasuk perjalanan panjang komunitas Tionghoa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.