AKURAT.CO, Bercerita tentang Kalimantan Selatan, wilayah ini tak hanya punya sungai dan hutan lebat yang sudah lama menjadi andalan rata-rata wilayah Borneo.
Di Desa Batu Hapu, Kecamatan Hatungun, Tapin, Kalimantan Selatan, punya sebuah gua yang dilengkapi dengan kisah legenda seperti kisah Malin Kundang dari Ranah Minang yang sudah begitu lama membumi.
Ya, dua kisah ini sama-sama berlatar anak durhaka yang tak mengakui ibunya, setelah sudah sukses dan kaya raya.
Adalah Angui, putera dari Nini Kudampai, yang dahulu keduanya hidup miskin setelah ayah mereka tiada. Nini yang seorang janda miskin, ditinggalkan Angui untuk pergi merantau ke tempat yang jauh. Setelah sukses, lelaki itu kembali ke kampung halamannya dan mendapati seorang janda tua yang masih tetap hidup miskin. Meski tahu bahwa wanita itu adalah Nini, ibunya, Angui tak mengakuinya.
Itu karena ia telah sukses mempersuntuling Keling, seorang puteri raja dari tanah seberang, sebagai istrinya. Malu karena latar belakang keluarga, khususnya ibunya yang miskin, Angui tak mengakui wanita itu.
Nini yang murka lalu kemudian mengucapkan sumpah serapah, dan mengutuk Angui beserta armada dan segala isinya. Kapal milik Angui yang membawa serta kekayaan mereka, hancur berkeping-keping dan semua yang ada saat itu seketika berubah menjadi batu.
Uniknya, gua yang dari mitos penduduk desa berasal dari anak durhaka itu bukan berada di tepi laut seperti Batu Malin Kundang di tepi Pantai Air Manis, Kota Padang, Sumatera Barat. Gua Batu Hapu ada di tengah pegunungan.
Tentu, hawanya cukup dingin, karena diselimuti hutan hujan yang lebat. Tebal. Kamu bisa masuk. Silahkan!
Mulailah dari tangga beton di mulut gua yang sengaja dibuat untuk bisa mengakses bagian dalamnya. Kamu tak disarankan masuk saat matahari belum menembus rongga ini. Karena, cukup gelap. Meski, kamu sudah pakai senter atau headlamp. Menunggulah sampai seisi gua lebih terang, agar kamu bisa melihat stalagtit dan stalagmit cantik yang ada di dalamnya.
Meski gua ini sudah cukup aman untuk wisatawan, kamu tetap berhati-hati karena tanahnya agak becek. Maka, pakailah pelindung kaki yang aman agar lebih kamu tak cidera.
Sayangnya, destinasi keren ini belakangan banyak dikotori tangan-tangan tak pantas, yang menuliskan ini dan itu di dalam gua, yang membuatnya agak berantakan. Ya, fandalisme. Tidak terpuji.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 6Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 7Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 8Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai



