Akurat Logo

Kisah Malin Kundang dari Kalimantan Selatan, Gua Batu Hapu

| 17 Desember 2018, 18:08 WIB
Kisah Malin Kundang dari Kalimantan Selatan, Gua Batu Hapu

AKURAT.CO, Bercerita tentang Kalimantan Selatan, wilayah ini tak hanya punya sungai dan hutan lebat yang sudah lama menjadi andalan rata-rata wilayah Borneo.

Di Desa Batu Hapu, Kecamatan Hatungun, Tapin, Kalimantan Selatan, punya sebuah gua yang dilengkapi dengan kisah legenda seperti kisah Malin Kundang dari Ranah Minang yang sudah begitu lama membumi.

Ya, dua kisah ini sama-sama berlatar anak durhaka yang tak mengakui ibunya, setelah sudah sukses dan kaya raya.

Adalah Angui, putera dari Nini Kudampai, yang dahulu keduanya hidup miskin setelah ayah mereka tiada. Nini yang seorang janda miskin, ditinggalkan Angui untuk pergi merantau ke tempat yang jauh. Setelah sukses, lelaki itu kembali ke kampung halamannya dan mendapati seorang janda tua yang masih tetap hidup miskin. Meski tahu bahwa wanita itu adalah Nini, ibunya, Angui tak mengakuinya.

Itu karena ia telah sukses mempersuntuling Keling, seorang puteri raja dari tanah seberang, sebagai istrinya. Malu karena latar belakang keluarga, khususnya ibunya yang miskin, Angui tak mengakui wanita itu.

Nini yang murka lalu kemudian mengucapkan sumpah serapah, dan mengutuk Angui beserta armada dan segala isinya. Kapal milik Angui yang membawa serta kekayaan mereka, hancur berkeping-keping dan semua yang ada saat itu seketika berubah menjadi batu.

Uniknya, gua yang dari mitos penduduk desa berasal dari anak durhaka itu bukan berada di tepi laut seperti Batu Malin Kundang di tepi Pantai Air Manis, Kota Padang, Sumatera Barat. Gua Batu Hapu ada di tengah pegunungan.

Gua Batu Hapu. INSTAGRAM/klikpromote

Tentu, hawanya cukup dingin, karena diselimuti hutan hujan yang lebat. Tebal. Kamu bisa masuk. Silahkan!

Mulailah dari tangga beton di mulut gua yang sengaja dibuat untuk bisa mengakses bagian dalamnya. Kamu tak disarankan masuk saat matahari belum menembus rongga ini. Karena, cukup gelap. Meski, kamu sudah pakai senter atau headlamp. Menunggulah sampai seisi gua lebih terang, agar kamu bisa melihat stalagtit dan stalagmit cantik yang ada di dalamnya.

Meski gua ini sudah cukup aman untuk wisatawan, kamu tetap berhati-hati karena tanahnya agak becek. Maka, pakailah pelindung kaki yang aman agar lebih kamu tak cidera.

Sayangnya, destinasi keren ini belakangan banyak dikotori tangan-tangan tak pantas, yang menuliskan ini dan itu di dalam gua, yang membuatnya agak berantakan. Ya, fandalisme. Tidak terpuji.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.