Apakah Peluru Karet Mematikan? Berikut Penjelasan Lengkapnya!

AKURAT.CO Peluru karet — yang biasa disebut less-lethal atau kinetic impact projectiles (KIP) — dimaksudkan untuk menekan eskalasi tanpa membunuh. Namun pada praktiknya, proyektil ini tetap berpotensi menyebabkan luka serius, kecacatan permanen, bahkan kematian, terutama jika ditembakkan dari jarak dekat, mengenai kepala atau dada, atau digunakan di luar prosedur yang benar.
Selama gelombang unjuk rasa akhir Agustus 2025, laporan medis dan temuan Komnas HAM menunjukkan adanya korban dan indikasi penggunaan kekuatan berlebihan, sehingga soal SOP dan akuntabilitas kembali mengemuka.
Apa itu “peluru karet” sebenarnya?
Istilah peluru karet menampung banyak jenis proyektil. Ada yang benar-benar terbuat dari karet atau busa (sponge rounds), ada yang berupa peluru logam berlapis karet, bean-bag, atau plastik keras.
Secara umum kelompok ini disebut kinetic impact projectiles (KIP): proyektil yang dirancang menyalurkan energi tumbukan untuk melumpuhkan gerak, bukan menembus seperti peluru tajam.
Masing-masing varian berbeda dalam massa, bentuk, dan kecepatan — sehingga risiko cederanya juga berbeda. Meski dimaksudkan “less-lethal”, KIP tetap menimbulkan cedera serius bila digunakan tidak tepat.
Bagaimana peluru karet bisa menyebabkan kematian?
Bahaya utama datang dari energi kinetik yang disalurkan pada titik tumbukan. Semakin besar massa (m) dan kecepatan (v) proyektil, semakin besar energi yang diteruskan — rumusnya ½·m·v² — dan itulah yang merusak jaringan tubuh.
Beberapa mekanisme fatal yang sering tercatat:
-
Trauma kepala/otak. Benturan ke kepala dapat menyebabkan fraktur tengkorak, perdarahan intrakranial, atau cedera otak traumatik yang berpotensi fatal atau menyebabkan kecacatan permanen.
-
Trauma toraks (dada). Hantaman ke dada dapat mematahkan rusuk, merusak paru, atau menyebabkan cedera jantung seperti tamponade. Kasus penetrasi dada oleh bean-bag atau peluru berinti keras juga pernah terjadi.
-
Penetrasi & fragmen. Beberapa KIP punya inti keras atau bisa pecah sehingga menyebabkan luka tembus—bukan sekadar memar.
-
Kompplikasi medis lanjutan. Perdarahan internal yang terlambat terdeteksi, infeksi, atau emboli dapat memperburuk kondisi hingga berujung pada kematian.
Ringkasnya: dampak bergantung pada jenis proyektil, jarak tembak, lokasi tumbukan, dan seberapa cepat korban mendapat perawatan medis.
Faktor yang memperbesar risiko fatal
Beberapa variabel yang menentukan apakah hantaman akan jadi ringan atau berakibat fatal:
-
Jarak tembak. Produsen biasanya menetapkan jarak minimum aman. Menembak dari jarak dekat menghasilkan energi yang lebih besar dan risiko penetrasi.
-
Tipe proyektil. Sponge rounds cenderung “lebih lunak” daripada rubber-coated metal atau plastik keras, tapi tidak ada yang 100% aman.
-
Situs tumbukan. Kepala, wajah, dan dada jauh lebih berbahaya dibanding lengan atau tungkai. Luka pada mata hampir selalu menghasilkan kebutaan pada mata yang terkena.
-
Pelatihan & SOP. Penggunaan tanpa SOP jelas, tanpa pelatihan jarak aman, atau tanpa pencatatan kejadian meningkatkan peluang salah sasaran dan cedera serius.
Bukti ilmiah: seberapa sering fatalitas terjadi?
Tinjauan sistematis dan laporan organisasi HAM/medis menemukan pola berulang: KIP telah menyebabkan kebutaan, patah tulang parah, cedera otak, dan sejumlah kasus kematian.
Beberapa korban bahkan menderita kecacatan permanen setelah terkena KIP. Data-data ini mendorong seruan pembatasan penggunaan dan pengawasan ketat.
Kasus di Indonesia: apa yang dilaporkan akhir Agustus 2025?
Dalam gelombang demonstrasi akhir Agustus 2025, beberapa media lokal melaporkan pasien yang dirawat akibat dugaan terkena proyektil damped/impact. Komnas HAM mencatat ratusan penangkapan dan mengidentifikasi indikasi penggunaan kekuatan berlebihan pada beberapa aksi.
Mereka juga membuka layanan pengaduan bagi korban dan merekomendasikan investigasi independen untuk kasus yang menyebabkan luka berat atau kematian karena laporan awal sering berubah setelah verifikasi medis, klaim penyebab luka sebaiknya merujuk pada pemeriksaan rumah sakit atau forensik resmi.
Standar internasional & apa yang disarankan para ahli
Organisasi internasional, termasuk PBB dan organisasi HAM, menganjurkan pembatasan ketat penggunaan less-lethal weapons. Inti rekomendasinya:
-
Jangan menembak ke kepala atau dada.
-
Tetapkan jarak aman minimum dan pastikan perangkat diuji akurasi/efektivitasnya.
-
Latih personel dan catat setiap insiden secara detail.
-
Lakukan investigasi independen bila terjadi cedera serius atau kematian.
Panduan-panduan ini dirancang untuk meminimalkan risiko sekaligus menjamin akuntabilitas bila terjadi penyalahgunaan.
Jika kamu atau orang di sekitar terkena: langkah cepat (pertolongan pertama)
Jika ada yang terkena KIP, lakukan hal berikut segera:
-
Bawa ke fasilitas kesehatan — luka yang tampak kecil bisa menyembunyikan cedera internal.
-
Hentikan perdarahan dengan tekanan langsung (kain bersih).
-
Jangan mencoba mencabut proyektil yang tertanam sendiri — biarkan tenaga medis menangani.
-
Waspadai tanda bahaya: sesak napas, nyeri dada hebat, pingsan, muntah darah, gangguan penglihatan — ini darurat.
-
Catat waktu kejadian, jarak tembak (jika diketahui), dan kumpulkan bukti (foto luka, video kejadian, saksi) untuk verifikasi medis/forensik.
Ringkasan & pesan penting
Peluru karet dan proyektil sejenis memang dimaksudkan sebagai alternatif non-mematikan, tetapi tidak pernah sepenuhnya aman. Hasil akhir antara ringan sampai fatal ditentukan oleh jenis proyektil, jarak tembak, lokasi tumbukan, dan kepatuhan terhadap SOP serta pelatihan petugas.
Kasus-kasus akhir Agustus 2025 menunjukkan perlunya investigasi independen, SOP yang jelas, dan transparansi untuk melindungi publik dan memastikan akuntabilitas.
Baca Juga: Presiden Prabowo Instruksikan TNI-Polri Tindak Tegas Aksi Anarkis
Baca Juga: Apa Itu False Flag? Berikut Penjelasan dan Cara Kerjanya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





