Akurat

Fakta Menarik Film Pengepungan di Bukit Duri yang Wajib Diketahui

Rahmat Ghafur | 18 April 2025, 20:00 WIB
Fakta Menarik Film Pengepungan di Bukit Duri yang Wajib Diketahui

AKURAT.CO Film Pengepungan di Bukit Duri sedang menjadi perbincangan hangat di dunia perfilman Indonesia karena alur cerita yang menarik dan keren. 

Tidak heran jika fakta menarik film ini banyak dicari oleh para pecinta film Indonesia. 

Baca Juga: Link Nonton Pengepungan di Bukit Duri Resmi, Bukan LK21 dan IndoXXI: Klik di Sini!

Film yang disutradarai oleh Joko Anwar ini mengangkat latar belakang sejarah yang penuh ketegangan dan drama, dengan balutan aksi yang memukau. 

Berikut beberapa fakta menarik dari Pengepungan di Bukit Duri yang wajib kamu ketahui.

  1. Riset Mendalam Selama Bertahun-tahun

Penulisan skenario Pengepungan di Bukit Duri merupakan hasil proses panjang yang dilakukan oleh Joko Anwar selama 17 tahun. 

Waktu yang tidak singkat ini mencerminkan keseriusan dan kedalaman riset yang ia lakukan demi menyusun narasi yang tidak hanya kuat secara cerita, tetapi juga relevan secara sosial dan historis. 

Dalam sebuah wawancara, Joko Anwar menyebutkan bahwa ia membutuhkan waktu tersebut untuk mencapai kedewasaan dalam bercerita, agar film ini mampu menyampaikan pesan penting dengan cara yang tepat dan bermakna.

  1. Mengangkat Isu Sosial tentang Kekerasan Remaja

Di balik ketegangan dan dinamika cerita yang disajikan, Pengepungan di Bukit Duri menyisipkan pesan mendalam tentang urgensi menolak kekerasan, khususnya di kalangan remaja. 

Film ini menyoroti bagaimana konflik yang terjadi di lingkungan sekolah dapat mencerminkan keretakan sosial yang lebih luas, termasuk relasi antara generasi muda dan orang dewasa. 

Melalui narasi tersebut, Joko Anwar mengajak penonton untuk merefleksikan pentingnya solidaritas, empati, dan kebersamaan di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi.

  1. Kolaborasi Sinematik Lintas Benua

Pengepungan di Bukit Duri merupakan hasil kerja sama strategis antara rumah produksi Indonesia, Come and See Pictures, dan raksasa industri film global, Amazon MGM Studios. 

Proyek ini menandai kolaborasi perdana Amazon MGM Studios dengan mitra produksi dari Asia Tenggara dalam kategori film layar lebar.

Inisiatif ini lahir dari semangat kedua belah pihak untuk menjalin kerja sama internasional, membuka jalur baru bagi sinema Asia di panggung global. 

Proses kolaborasi dimulai sejak 2021 dan membuahkan hasil tiga tahun kemudian, dengan rampungnya produksi pada 2024.

  1. Seleksi Pemeran yang Panjang dan Penuh Tantangan

Selama empat bulan penuh, Joko Anwar bersama casting director menjalani proses pencarian pemain yang intens dan melelahkan.

 Tidak mudah menemukan aktor yang benar-benar mampu merepresentasikan karakter sesuai visi cerita. Ia bahkan sempat mengalami frustrasi akibat ketatnya kriteria yang harus dipenuhi.

 Setiap peran diikuti oleh sekitar 20 peserta audisi, menunjukkan betapa selektifnya tahap ini. 

Setelah melalui berbagai tahapan penyaringan yang ketat, akhirnya terpilihlah para aktor dan aktris muda potensial yang dipercaya menghidupkan film The Siege at Thorn High dalam versi internasionalnya.

  1. Eksplorasi Genre Baru setelah Fase Horor

Pengepungan di Bukit Duri menjadi titik balik bagi Joko Anwar yang selama beberapa tahun terakhir dikenal lewat karya-karya horornya. 

Kali ini, ia kembali menjelajahi ranah aksi-thriller, genre yang terakhir ia sentuh lewat Gundala pada 2019. 

Perubahan tersebut langsung menarik perhatian publik, khususnya pencinta film tanah air yang haus akan keberagaman cerita dan pendekatan baru dalam perfilman nasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
D