Butet Bagikan Lukisan Dramatis Djoko Pekik

AKURAT.CO Seniman Butet Kartaredjasa mengunggah foto kolega, pelukis Djoko Pekik, karya pelukis Sigit Santosa yang dramatis. Lukisan tersebut menggambarkan mendiang Pekik meringkuk dalam sel tahanan orba, buntut geger peristiwa 1965.
Butet sengaja mengunggahnya untuk mengenang pelukis Lekra yang berpulang pada usia 88 tahun, di Yogyakarta, Sabtu (12/8/2023). Ada sembilan slide foto yang dibagikan Butet, dia membagikan seluruh foto dalam suasana duka.
“PEKIK MERINGKUK. Suatu siang lima tahun lalu saya bersama Pak Djoko Pekik berada di Benteng Vredeburg. Juga beberapa seniman lain ada di situ. Kami meriung, ngobrol ngidul sambil menikmat teh. Tiba2 Pak Pekik mengajak kami masuk sebuah ruang yg kini sudah dipugar, berlantai granit mengkilap,” tulis Butet membagikan unggahan.
Unggahan Butet melalui akun Instagram @masbutet telah disukai lebih dari 1.000 netizen, termasuk Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid. Butet mengunggahnya sekitar pukul 15.00 WIB.
Pekik berpulang pada pukul 08.00 WIB, pagi tadi. Sosok yang pernah dijuluki pelukis Rp1 miliar tak bisa melawan takdir, sekalipun pernah merasakan ganasnya rezim militer dan politik pada masa lampau.
Lahir pada 2 Januari 1937, Pekik harus meringkuk dalam tahanan selama 1965-1972, tanpa diadili. Sebagai anggota Lekra, Pekik harus masuk tahanan lantaran diidentikkan dengan PKI. Lukisan karya Sigit Santosa yang dibagikan Butet mencoba menggambarkan kelamnya masa-masa Pekik di tahanan.
Nampak Pekik meringkuk tanpa busana, tanpa alas tidur. Kedua tangannya menjadi alas sandaran kepala, sedangkan kakiknya menekuk melawan dingin dan kelamnya suasana tahanan.
Butet membagikan detail lukisan yang menunjukkan kaki pekik terluka. “Dulu lantainya ndak seperti ini. Dari pahatan batu candi. Kasar. Kami para tapol tidur di lantai kasar itu. Tanpa tikar. Tidurnya berhimpitan. Kayak sarden. Hanya bisa meringkuk. Aku di bawah jendela itu,” tulis Butet, membeberkan pengakuan Pekik.
“Pak Pekik lalu memeragakan posisi tidurnya. Ia seperti merekonstruksi masa gelap, periode dia tahan penguasa Orde Baru: bagaimana saban malam dia bersaksi siapa saja tapol yang di-dor, bagaimana dia berinteraksi dengan CPM dan tentara yang bertugas di Vredeburg, bagaimana sesama tapol bisa saling berkhianat, bagaimana kisahnya saat ditangkap dan masa awal perkawinannya dengan Bu Tinuk. Semua full drama,” lanjutnya.
Dalam unggahannya, Butet juga mengisahkan ketika Pekik memeragakan posisinya meringkuk. Hanya dengan celana dalam, Pekik menunjukkan betapa getirnya situasi yang dialaminya ketika menjadi tapol.
Pekik termasuk kalangan seniman Lekra yang bisa menikmati reformasi. Situasi reformasi yang membuatnya tajir melintir karena lukisannya yang diberi judul “Berburu Babi Celeng” laku terjual Rp1 miliar.
Lukisan Pekik menggambarkan huru-hara masyarakat yang berhasil menangkap babi celeng ukuran jumbo. Lukisan realisnya tak kalah dramatis. Seolah merepresentasikan kondisi zaman ketika itu.
Butet mendoakan koleganya mengikhlaskan segala peristiwa yang dialami semasa hidupnya. “Semoga Pak Pekik mengakhiri perjalanan hidupnya, dengan menanggalkan semua luka dan meniupkan hawa penebusan. Ikhlas, ikhlas, ikhlas... Selamat jalan Pak Pekik. Sumangga Gusti,” tutup Butet sambil menyertakan emoji menangis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





