Harga Tiket Pesawat Selangit, Pengusaha Keluhkan Pajak dan Biaya Avtur

AKURAT.CO Kenaikan harga tiket pesawat menjadi perhatian utama. Menurut pengusaha maskapai, hal ini disebabkan oleh tingginya biaya penerbangan, termasuk berbagai pajak yang dikenakan.
Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) menyebutkan bahwa pajak menjadi bagian dari komponen non-operasional penerbangan, namun jumlahnya sangat signifikan. Menurut Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, ada banyak pajak dan bea masuk yang diberlakukan secara berganda.
"Pengusaha maskapai dikenakan pajak untuk avtur, serta pajak dan bea masuk untuk pesawat dan suku cadangnya," jelas Denon dikutip Sabtu (20/7/2024).
Baca Juga: Harga Tiket Pesawat Mahal, Kemenpar Bersama Kemenhub dan KemenBUMN Koordinasi
Ia menambahkan bahwa untuk suku cadang, selain dikenakan bea masuk, juga harus membayar PPN dan PPnBM. Denon menegaskan bahwa pajak ganda ini hanya dirasakan oleh pengusaha maskapai di Indonesia. "Di negara lain, pajak dan bea ini tidak ada," kata Denon.
Selain itu, PPN juga berlaku untuk setiap tiket pesawat yang dijual ke masyarakat, menambah beban pajak bagi pengusaha. Masalah lain yang diangkat Denon adalah biaya layanan kebandarudaraan (Passenger Service Charge/PSC) yang dimasukkan dalam harga tiket pesawat.
Meskipun biaya PSC masuk ke pengelola bandara, bukan ke pengusaha maskapai, hal ini membuat harga tiket terlihat lebih tinggi. "Penumpang tidak menyadari bahwa PSC bukan untuk maskapai tetapi untuk pengelola bandara," ujarnya.
Selain pajak, biaya operasional tinggi juga mempengaruhi mahalnya tiket pesawat. Denon menyebutkan bahwa harga avtur di Indonesia lebih tinggi dibandingkan beberapa negara tetangga.
"Harga avtur saat ini lebih tinggi dibandingkan beberapa negara tetangga," katanya.
Antrean pesawat di darat dan di udara juga memperbesar potensi bahan bakar yang terbuang. Denon juga menyoroti biaya kebandarudaraan dan layanan navigasi penerbangan yang harus dibayar oleh pengusaha.
Selain itu, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah yang kuat turut mempengaruhi biaya penerbangan. "Bila semakin kuat nilai dolar AS terhadap rupiah, maka biaya penerbangan akan ikut naik," jelas Denon.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK









