Puas Kendarai Mobil Listrik, Deputi Kemenko Marves: Biasa Isi Bensin Seminggu Rp600 Ribu Sekarang Rp60 Ribu

AKURAT.CO Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Rachmat Kamimuddin membagikan pengalamannya setelah mengendarai kendaraan listrik. Selain lebih ramah lingkungan, utamanya mobil listrik dinilai sangat menghemat biaya secara signifikan.
Digambarkan, jika biasanya ia menghabiskan Rp500.000 hingga Rp600.000 untuk mengisi bahan bakar bensin dalam seminggu, saat ini ia hanya menghabiskan Rp60 ribu saja untuk pemakaian atau jarak tempuh yang sama. Ia telah menggunakan mobil listrik sejak tahun 2021.
"Biasanya dulu saya pas pakai kendaraan bakar isi bensin seminggu Rp500 ribu, Rp 600 ribu, sekarang saya sudah pakai mobil listrik dari 2021, isinya mungkin dengan jarak tempuh yang sama Rp60 ribuan. Jadi ini significant saving. Jadi kalau sudah pakai biasanya mau terus," kata Rachmat di sela Dekarbonisasi Sektor Transportasi dipantau secara daring, Selasa (7/11/2023).
Baca Juga: Angin Segar Industri Otomotif, Pemerintah Bakal Bebaskan Pajak Impor Mobil Listrik CBU
Ditambahkan, mobil listrik juga punya banyak benefit lain, misalnya benefit yang diciptakan oleh pemerintah seperti pajaknya berkurang maupun benefit berupa nature atau sifat alami mobil listrik itu sendiri.
Seperti diketahui, mobil listrik tidak menghasilkan emisi gas buang seperti kendaraan konvensional berbahan bakar fosil. Kemudian, mobil listrik juga memiliki efisiensi energi yang lebih tinggi dibandingkan kendaraan konvensional.
"Ada faktor melindungi lingkungan hidup. Jadi kendaraan listrik ini tidak beremisi dari knalpotnya karena nggak punya knalpot, dia nggak keluar polusinya. Kalau nggak percaya silakan naik ojek di belakang bus sama naik ojek di belakang mobil listrik, pasti berasa bedanya karena knalpotnya nggak ada," imbuhnya.
Saat ini menurutnya sudah waktunya Indonesia mendorong pasar kendaraan listrik. Jika gagal mengembangkan industri EV dan menarik investasi, Indonesia disebut hanya akan menjadi importir dan berisiko kehilangan jutaan lapangan pekerjaan.
"Hanya masalah waktu Indonesia akan ikut (tren global dalam transisi kendaraan konvensional ke EV), karena Indonesia selalu ikut biasanya juga dengan tren global. Kita bukanlah negara yang isolated. Biasanya kalau ada yang terjadi di luar sana kita juga akan adopsi, tinggal masalah waktu," kata Rachmat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 5Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat








