Bukan E-Commerce, Ini Penyebab Pasar Tanah Abang Tetap Sepi

AKURAT.CO Setelah TikTok Shop resmi ditutup pada Rabu, 4 Oktober 2023, publik kembali diramaikan dengan protes pedagang Tanah Abang yang meminta, e-commerce lainnya seperti Shopee, Lazada dan lainnya ikut di tutup pula, untuk mengatasi sepinya pembeli di Pasar Tanah Abang.
Padahal, penutupan platform e-commerce tersebut dinilai bukan sebagai solusi yang tepat, dalam mengatasi permasalahan sepinya pembeli di pusat grosir Tanah Abang.
Dilansir dari berbagai sumber, Senin (16/10/2023), Ketua Umum Indonesia Digital Emmpowerment Community (Idiec) Tesar Sandikapura menilai bahwa solusi yang diminta pedagang Tanah Abang tidaklah tepat.
Baca Juga: Kembali Tinjau Pasar Tanah Abang, Zulhas Tanya Pedagang: Ada Penglaris?
“Dengan kasus ini terjawablah sudah. Masalah penjualan Offline tidak ada hubungannya dengan penjualan online karena perilaku masyarakat yang sudah berubah,” ucap Tesar.
Perubahan perilaku masyarakat adalah salah satu faktor utama yang bisa berdampak pada pedagang offline, seperti di Pasar Tanah Abang. Sebab, E-commerce telah menjadi alternative yang popular untuk berbelanja karena berbagai alasan.
Perubahan Perilaku Masyarakat
Setidaknya ada 6 penyebab Pasar Tanah Abang sepi, sebagaimana rangkuman berikut.
1. Kemajuan Teknologi
Kemajuan teknologi tidak bisa disalahkan, teknologi ada tentu untuk mempermudah pekerjaan manusia. Kemajuan teknologi dan peningkatan akses internet telah memberikan pelanggan akses yang lebih mudah ke berbagai produk serta layanan melalui platform e-commerce.
Justru seharusnya, para pedagang offline, harus bisa mengikuti perkembangan teknologi ini, dengan ikut membuka toko online di platform e-commerce
2. Kenyamanan
e-commerce memberikan kenyamanan berbelanja dari rumah atau di mana saja dengan perangkat seluler, tanpa repot-repot petgi ke toko untuk memenuhi kebutuhannya.
3. Pilihan yang lebih luas
Dari e-commerce pelanggaan atau pembeli ditawarkan banyak pilihan yang lebih beragam dari toko offline, yang memungkinkan pelanggan untuk menemukan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan serta keinginan mereka.
4. Lebih murah
Harga yang ditawarkan oleh e-commerce biasanya jauh lebih murah daripada yang ada di toko offline, ini dikarenakan penjual dari platform e-commerce tidak perlu penyewaan tempat, pajak tempat, dan biaya listrik.
5. Ekplorasi dan perbandingan
Konsumen dapat dengan mudah mencari, membandingkan, serta mengerti ulasan tentang suatu produk sebelum mereka membuat kuputusan pembelian.
6. Perubahan sosial
Perubahan dalam perilaku berlanja online ini dimulai dari pandemi Covid-19, yang mengharuskan konsumen berbelanja dari rumah. Hal ini mulai menjadi kebiasaan sampai sekarang dengan mengandalkan e-commerce daripada langsung belanja di toko
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









