Membongkar Permainan Mafia Beras yang Rugikan Rakyat

AKURAT.CO Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) adalah bantuan sosial pangan dalam bentuk non tunai dari pemerintah yang diberikan kepada KPM (kartu penerima manfaat) setiap bulannya, melalui mekanisme akun elektronik yang digunakan hanya untuk membeli bahan pangan di pedagang bahan pangan/e-warung yang bekerjasama dengan bank.
Belakangan ini BPNT banyak dikeluhkan masyarakat, sebab bantuan yang diberikan terkadang tak sesuai harapan seperti beras yang kualitas jelek dan bau. Menanggapi hal itu salah satu penyalur utama BNPT yaitu Bulog mulai mengendus ada mafia bermain untuk penyelewengan dana BPNT.
Mafia Beras Bermain, Rugikan Masyarakat Miskin
Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan pemerintah saat ini merugi Rp 9 miliar per bulan karena dirong-rong oleh para mafia. Budi Waseso atau akrab disapa Buwas juga menyebut kerugian yang ditanggung negara akibat ulah oknum atau mafia yang melakukan kejahatan pada penyaluran beras BPNT mencapai Rp5 triliun.
Buwas menjelaskan Pemerintah melalui Kementerian Sosial menganggarkan Rp20,8 triliun untuk program BPNT yang dialokasikan untuk 15,6 juta keluarga. Namun, adanya penyimpangan penyaluran beras BPNT telah merugikan Negara setidaknya 25 persen dari anggaran tersebut.
"Kurang lebih yang disimpankan setiap tahun Rp5 triliun, lebih dari sepertiga anggaran. Apalagi, Presiden menambah kegiatan BPNT ini menjadi Rp60 triliun, semakin banyak uang yang dikorupsi," kata Buwas pada konferensi pers di Kantor Perum Bulog Jakarta, Senin (23/9/2019).
Dia mengatakan para mafia tersebut mengoplos beras BNPT dengan beras kualitas rendah dalam penyaluran curangnya, selain itu terjadi pemotongan besaran beras yang seharusnya 10 Kg menjadi 7 Kg. Buwas menyebutkan, Keluarga Penerima Manfaat (KPM) harusnya menerima jenis bantuan beras premium, namun di lapangan beras medium dengan harga Rp 7.500 per kilogram yang malah tersebar.
Buwas juga mengatakan harusnya setiap KPM menerima total BNPT senilai Rp 110.000, namun karena kelakukan oknum nakal maka setiap KPM mendapat kerugian Rp 30.000.
Selain itu, Buwas juga menduga bahwa karung berlogo Bulog diperjualbelikan secara bebas di situs online dengan harga Rp 1.000 per karung. Karung ini digunakan untuk mengoplos beras berkualitas rendah.
Bulog Temukan 300 E-Warung 'Siluman'
Perum Bulog menemukan ada 300 e-warung "siluman" yang tersebar di Indonesia untuk digunakan dalam melakukan kecurangan penyaluran Beras Bantuan Pangan Non-Tunai (BNPT).
Bulog mengatakan e-warung siluman ini biasanya berkamuflase dari tempat tambal tukang ban, dimana mereka beroperasi untuk menyalurkan beras oplosan dari para oknum tidak bertanggung jawab.
Kemudian penerimaan BNPT juga dipaksa untuk membeli di e-warung siluman. Jika menolak oknum mengancam akan menghapus mereka dari daftar penerima BNPT.
Harusnya e-warung yang legal merupakan tanggung jawab Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan terdaftar di Kementerian Sosial (Kemensos).
Selain itu Buwas juga mengatakan tim independen-nya menemukan bahwa ada tindakan penyelewengan lainnya dalam pencarian dana BNPT yang diterima keluarga penerima manfaat (KPM) lewat kartu elektronik.
Dia menyebut bahwa oknum meminta KPM untuk mengumpulkan kartu elektronik kemudian bantuan itu malah dicairkan dengan nominal yang tak sesuai seharusnya, yaitu Rp 110.000
“Oknum kumpulkan kartu dari KPM lalu ke e-warung untuk menggesek kartunya untuk ditukarkan dengan uang tunai. tapi Ada yang Rp 50.000, Rp 70.000, paling besar Rp 80.000. KPM ini jadi nggak terima beras, tapi terima uang,” ucap Budi.
Realisasi Penyaluran Beras BPNT Tak Akan Capai Target
Direktur Operasional Bulog Tri Wahyudi Saleh menjelaskan, bahwa realisasi Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) akan tidak tercapai disebabkan karena oknum nakal atau para mafia yang selalu bermain beras oplosan.
Ia mengatakan, sampai per September 2019 realisasi penyaluran beras Bulog untuk BPNT baru mencapai 30.000 ton. Harusnya tahun ini target yang disalurkan untuk BPNT mencapai 700.000 ton.
"Harusnya target 700 ribu ton sampai akhir tahun, sekaramg masih 30 ribu ton, harusnya sudah 150 ribu ton," ujarnya.
Bulog sendiri memperkirakan Bulog hanya bisa menyalurkan 90.000 ton beras untuk BPNT sampai dengan akhir tahun atau setara dengan 12,8 persen dari target yang telah ditentukan. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





