Ketahanan Pangan Era Prabowo Menguat, Sumut Catat Surplus 27 Ribu Ton Beras

AKURAT.CO Sumatera Utara (Sumut) mencatat surplus produksi beras sebanyak 27.633 ton hingga Oktober 2026.
Produksi beras di provinsi tersebut mencapai 144.066 ton, sedangkan kebutuhan masyarakat tercatat 116.433 ton.
Capaian itu terungkap dalam diskusi bertajuk "Dua Tahun Pemerintahan Prabowo: Swasembada Pangan dan Nasib Petani Sumatera Utara" yang digelar DPW Koalisi Muslim Milenial (KOMUNAL) Sumatera Utara di Hotel Cordela Medan, Minggu (1/11/2026).
Koordinator Sumut Bergetar, Maulana Ginting, memaparkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara yang menunjukkan sejumlah komoditas pangan juga mengalami surplus.
Selain beras, produksi cabai merah mencapai 14.213 ton, melampaui kebutuhan 9.855 ton. Produksi cabai rawit tercatat 7.514 ton, sementara kebutuhannya sebanyak 3.712 ton.
"Per Oktober 2026, kebutuhan beras Sumut 116.433 ton, sementara produksinya 144.066 ton. Kita surplus 27.633 ton. Cabai merah, kebutuhannya 9.855 ton, produksinya 14.213 ton. Kemudian cabai rawit, kebutuhan 3.712 ton, produksinya 7.514 ton," kata Maulana.
Maulana juga menyoroti Nilai Tukar Petani (NTP) Sumatera Utara yang mencapai 157,97. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan NTP nasional sebesar 131,11.
Menurutnya, capaian NTP menjadi salah satu indikator perkembangan sektor pertanian dan kondisi ekonomi petani di Sumatera Utara.
Rektor Universitas Labuhanbatu, Ade Parlaungan Nasution, mengapresiasi sejumlah capaian pemerintah di sektor pangan.
Namun, ia menilai evaluasi tetap diperlukan, terutama terkait data kesejahteraan petani perkebunan.
"Angka NTP meningkat, namun belum dikeluarkan data petani perkebunan. Tapi memang kita apresiasi Pak Prabowo menggeser paradigma pembangunan dari yang tadinya kapitalistik kepada sosialistik," ujar Ade.
Sementara itu, pengurus Tani Merdeka Sumatera Utara, Desi Novita, menilai Sumatera Utara memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Potensi tersebut ditopang sektor pertanian, hortikultura, perikanan, dan perkebunan.
Menurut Desi, hasil pertanian Sumatera Utara tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga dipasarkan ke provinsi lain hingga menembus pasar ekspor.
Tokoh pemuda Sumatera Utara, Surya Kurniawan, turut menyoroti kebijakan pemerintah menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk sebesar 20 persen.
Ia menilai kebijakan tersebut dapat membantu meringankan biaya produksi petani.
Baca Juga: Air Perpipaan Tekan Laju Penurunan Tanah di Jakarta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 2Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 3Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 4Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 7Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 8Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 9Harga Cabai Berangsur Turun Awal November
- 10Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia








