Akurat Logo

Ekspor Hilirisasi Mineral RI Diprediksi Tembus Rp899 Triliun, Naik 45 Persen di Era Prabowo

Moehamad Dheny Permana | 21 Oktober 2026, 10:57 WIB
Ekspor Hilirisasi Mineral RI Diprediksi Tembus Rp899 Triliun, Naik 45 Persen di Era Prabowo
Ilustrasi ekspor Indonesia.

AKURAT.CO Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memproyeksikan nilai ekspor produk hilirisasi mineral Indonesia mencapai USD 50 miliar atau sekitar Rp899 triliun pada 2026.

Angka tersebut meningkat sekitar 45 persen dibandingkan capaian 2024 yang sebesar USD 34,5 miliar atau sekitar Rp620 triliun.

Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto, mengatakan peningkatan tersebut didorong oleh ekspor produk hilirisasi nikel, aluminium, serta komponen baterai litium.

“Kami hitungan dari Dewan Ekonomi Nasional sampai dengan akhir tahun ini hilirisasi nikel, hilirisasi aluminium, dan hilirisasi tadi komponen-komponen litium baterai itu nilainya akan mencapai sekitar 50 miliar dolar atau naik hampir sekitar 45 persen dibandingkan ekspor kita pada tahun 2024,” kata Seto dalam keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

“Jadi ini merupakan prestasi yang tadi kami sampaikan sangat baik kepada Bapak Presiden karena selama dua tahun periode pemerintahan beliau, ekspor hilirisasi kita itu bisa meningkat sekitar 45 persen,” imbuhnya.

Seto menjelaskan, hilirisasi di Indonesia tidak hanya berfokus pada nikel, tetapi juga berkembang ke sektor aluminium dan komponen baterai litium.

Berdasarkan data yang dihimpun DEN, nilai ekspor produk aluminium pada 2026 diproyeksikan mencapai USD 7,2 miliar atau sekitar Rp129,5 triliun.

Angka tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan capaian sekitar USD 3,5 miliar atau Rp62,9 triliun pada 2024.

“Ke depannya kita perkirakan untuk aluminium ini ekspornya bisa melebihi sekitar 10 miliar dolar seiring dengan penambahan investasi dari smelter-smelter aluminium yang baru di Indonesia,” jelas Seto.

Sementara itu, dalam sektor hilirisasi komponen baterai litium, Indonesia telah memproduksi berbagai komponen, termasuk anoda dan katoda baterai.

Indonesia juga memiliki fasilitas pemurnian litium atau lithium refinery, meskipun tidak memiliki sumber daya litium sendiri.

"Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi (hilirisasi) yang lebih lengkap," ucapnya.

Baca Juga: Kajian DEN Ungkap Dampak MBG terhadap Kehadiran dan Semangat Belajar Siswa

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.