Target Dedieselisasi Perlu Diperluas ke Pembangkit Listrik Energi Fosil Lain

AKURAT.CO Rencana Presiden Prabowo melakukan dedieselisasi dengan mengganti 13 Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) merupakan sinyal Indonesia tidak bisa lagi bergantung pada BBM, terlebih di tengah krisis geopolitik Timur Tengah.
Namun, langkah ini seharusnya diikuti penghentian pembangunan pembangkit fosil lain seperti gas dan batu bara yang juga rentan terhadap volatilitas global.
Dwi Wulan Ramadani, Policy Strategist Coordinator CERAH mengatakan, dalam banyak skema perdagangan internasional harga gas masih dikaitkan dengan harga minyak (oil-indexed). Kenaikan harga minyak saat ini pun secara langsung akan mendorong kenaikan harga gas.
Baca Juga: Pasokan Pembangkit Listrik Aman, Bos PLN: Stok Batu Bara 15,9 Hari dan Gas 12 Hari
Selain itu, di tengah tren kenaikan harga komoditas global, ketergantungan pada batu bara juga menciptakan kerentanan baru yang serupa dengan minyak bumi.
Kondisi tersebut membuat rencana penambahan pembangkit listrik berbasis gas hingga 10,3 gigawatt (GW) dan batu bara 6,3 GW dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 tidak sejalan dengan cita-cita ketahanan energi Presiden Prabowo.
“Program dedieselisasi akan mencapai dampak yang jauh lebih signifikan jika diperluas dengan menyetop rencana pembangunan pembangkit listrik gas dan batu bara, termasuk implementasi pensiun dini PLTU, mengingat batu bara masih mendominasi bauran energi nasional secara masif. Apalagi, dengan harga energi global sedang berfluktuasi seperti sekarang ini, pengembangan PLTS skala besar dan energi terbarukan lainnya menjadi semakin relevan,” kata Dwi.
Kebijakan dedieselisasi –yang merupakan bagian dari ambisi 100 GW PLTS– menjadi momentum untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil yang selama ini membebani fiskal dan stabilitas ekonomi dalam negeri.
Pasalnya, lonjakan subsidi energi akan terus membayangi Indonesia selama masih bergantung pada energi fosil yang harganya ditentukan oleh kondisi geopolitik global.
“Krisis energi global yang mengancam Indonesia menjadi saat yang tepat bagi pemerintah untuk mengintegrasikan target pembangunan 100 GW PLTS ke dalam RUPTL. Langkah ini menjadi mitigasi yang tepat untuk menggantikan energi fosil yang mahal dan tidak stabil, dengan sumber daya domestik yang lebih terprediksi,” ucap Dwi.
Apalagi, lanjut Dwi Wulan, laporan terbaru Bank Dunia merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7% dari sebelumnya 4,8% pada Oktober 2025.
Revisi ini mencerminkan adanya tekanan global terhadap negara berbasis komoditas, termasuk dampak volatilitas energi terhadap fiskal, nilai tukar, dan investasi.
Tata Mustasya, Direktur Eksekutif Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN) mengatakan, guncangan ekonomi sering memaksa lahirnya reformasi kebijakan.
Krisis energi global saat ini harus menjadi pendorong transisi energi di Indonesia, sekaligus transformasi ke arah ekonomi hijau dan berkelanjutan melalui program 100 GW PLTS.
Menurut Tata, langkah tersebut tidak hanya mendorong ketahanan energi, namun juga mendorong industrialisasi hijau. Namun, langkah ini perlu dibarengi dengan pemberian insentif bagi industri manufaktur dan panel surya di dalam negeri yang akan berdampak bagi ekonomi.
“Jika dijalankan, program 100 GW akan memperkuat ketahanan energi. Program ini dengan desain implementasi yang tepat, juga bukan merupakan ongkos, tapi investasi untuk penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” jelas Tata.
Tata menambahkan, untuk mengimplementasikan ambisi 100 GW PLTS, pemerintah harus membuka partisipasi publik, komunitas, dan sektor swasta.
Sebab, saat ini pemerintah memiliki keterbatasan anggaran, tercermin dari rasio pembayaran utang terhadap APBN (debt service ratio) di tahun 2026 yang mencapai sekitar 50%.
“Dua kebijakan penting untuk quick wins 100 GW adalah power wheeling untuk industri dan atap surya oleh rumah tangga. Pemerintah harus membuka seluas-luasnya kesempatan publik, swasta, dan komunitas berpartisipasi dalam 100 GW melalui reformasi kebijakan. Dengan kebijakan dan insentif yang tepat, kalkulasi SUSTAIN menunjukkan kita bisa mendapat tambahan kapasitas 2,9-5,8 GW dalam dua tahun ke depan hanya dari penggunaan atap surya oleh rumah tangga,” tutur Tata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 34 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 6Asuransi Astra Serahkan Toyota Veloz Hybrid kepada Dommy Eriko, Pemenang Undian GASPOL 2026
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








