Kementerian ESDM Dorong Sinergi Industri untuk Elektrifikasi 100 Persen Indonesia pada 2029

AKURAT.CO Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan industri dalam negeri guna mendukung percepatan elektrifikasi nasional, peningkatan efisiensi energi, serta penguatan penggunaan produk dalam negeri.
Hal tersebut disampaikan saat melakukan kunjungan ke salah satu industri manufaktur peralatan listrik dan pencahayaan di Tangerang, sebagai bagian dari upaya mendorong kesiapan industri nasional dalam mendukung program strategis sektor ketenagalistrikan.
Yuliot menekankan bahwa pemerintah tengah berfokus pada peningkatan rasio elektrifikasi nasional yang saat ini telah mencapai sekitar 98%, dan ditargetkan mencapai 100% pada tahun 2029.
Baca Juga: Wakil Ketua Komisi XII DPR Dorong Elektrifikasi di Tengah Krisis Energi
“Saat ini rasio elektrifikasi kita sekitar 98%. Kita dari tahun 2025 sudah mulai, sampai dengan 2029 kita akan mentargetkan elektrifikasi untuk seluruh wilayah sekitar 100%. Jadi ini tidak ada lagi daerah-daerah yang gelap. Jadi merdeka dari kegelapan,” kata Yuliot, Kamis (16/4/2026).
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah terus mengakselerasi program listrik desa (Lisdes) sebagai upaya pemerataan akses energi di seluruh wilayah Indonesia.
Pada tahun 2025, program ini mencakup sekitar 1.516 desa sebagai bagian dari target elektrifikasi. Secara keseluruhan, hingga tahun 2029 diperkirakan sekitar 10 ribu desa akan dituntaskan untuk memperoleh akses listrik.
Program elektrifikasi ini juga akan mendorong kebutuhan berbagai infrastruktur ketenagalistrikan dalam skala besar, sehingga membuka peluang keterlibatan industri dalam negeri dalam mendukung penyediaan peralatan dan teknologi kelistrikan.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penerapan efisiensi energi melalui pengembangan green building serta pemanfaatan energi baru terbarukan, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di sektor industri.
Lebih lanjut, Yuliot menegaskan bahwa pemerintah tengah menyiapkan regulasi untuk meningkatkan keselamatan instalasi listrik melalui penggunaan perangkat pengaman seperti Residual Current Breaker with Overcurrent (RCBO).
Dalam implementasinya, pemerintah juga mendorong agar kebutuhan perangkat tersebut dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri apabila kapasitas produksi telah tersedia.
“Kalau ini bisa diproduksi di sini, kita tidak memberikan kelonggaran untuk melakukan impor dari luar,” tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 2Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 3Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 4Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 5Pindar UKU Salurkan Rp687,18 Miliar dengan Pinjaman Macet Hanya 2,48 Persen, Jaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Risiko
- 6Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 7Blue Bird Cetak Laba Rp474 Miliar, Salah Satunya Ditopang oleh Keuntungan Penjualan Armada yang Melonjak
- 8Jadwal Siaran Langsung Liga Champions Malam Ini: Barcelona vs Aston Villa, MU vs AS Roma
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar








