Akurat

Ketegangan AS-Iran Semakin Memanas, Harga Minyak Melonjak Tajam

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 2 Maret 2026, 13:17 WIB
Ketegangan AS-Iran Semakin Memanas, Harga Minyak Melonjak Tajam
ilustrasi kilang minyak bumi

AKURAT.CO Harga minyak dunia melonjak tajam pada awal perdagangan pekan ini setelah eskalasi konflik antara Iran dan Israel meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global, khususnya dari kawasan Timur Tengah.

Melansir dari Reuters, Senin (2/3/2026) harga minyak mentah global jenis Brent crude oil melonjak sekitar 7% dan sempat menyentuh USD82,37 per barel pada perdagangan Senin, level tertinggi sejak Januari 2025.

Kenaikan ini terjadi pada perdagangan berjangka pertama setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada Sabtu.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak 8% Usai Serangan AS-Israel ke Iran

Adapun, pada 07.54 pagi waktu Indonesia barat, harga Brent tercatat berada di level USD78,24 per barel, naik USD5,37 atau sekitar 7,37%.

Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) naik USD4,66 atau 6,95% menjadi USD71,68 per barel. Sebelumnya, harga WTI sempat menyentuh USD75,33 per barel, tertinggi sejak Juni 2025.

Eskalasi konflik semakin memanas setelah Israel melancarkan gelombang serangan baru ke Teheran pada Minggu. Iran kemudian merespons dengan meluncurkan serangan rudal tambahan, sehari setelah kematian Khamenei memicu ketidakpastian besar di kawasan Timur Tengah serta mengguncang pasar energi global.

Serangan tersebut juga meningkatkan risiko terhadap aktivitas pelayaran komersial. Sejumlah rudal dilaporkan menghantam sedikitnya tiga kapal tanker di wilayah Teluk, menyebabkan satu pelaut tewas, menurut sumber industri pelayaran dan pejabat terkait.

Situasi semakin memburuk setelah Iran mengumumkan penutupan navigasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Baca Juga: Serangan Israel ke Iran Berisiko Picu Krisis Geopolitik dan Lonjakan Harga Minyak

Penutupan ini mendorong sejumlah pemerintah dan kilang minyak di Asia untuk meninjau kembali cadangan pasokan energi mereka.

Analis dari Citigroup memperkirakan harga Brent berpotensi bergerak di kisaran USD80 hingga USD90 per barel sepanjang pekan ini seiring konflik yang masih berlangsung.

Di tengah ketegangan geopolitik tersebut, kelompok produsen minyak OPEC+ pada Minggu menyepakati peningkatan produksi minyak secara moderat sebesar 206.000 barel per hari untuk April.

Namun analis dari RBC Capital Markets, Helima Croft, menilai kemampuan produsen untuk menambah pasokan secara cepat cukup terbatas.

“Pada dasarnya setiap produsen OPEC+ berproduksi pada kapasitas penuh kecuali Arab Saudi. Pemanfaatan barel cadangan akan sangat terbatas jika jalur air penting tidak dapat dioperasikan,” ucapnya.

Risiko terhadap pelayaran komersial telah meningkat dalam 24 jam terakhir, dengan lebih dari 200 kapal termasuk kapal tanker minyak dan gas cair berlabuh di sekitar selat dan perairan sekitarnya, data pelayaran menunjukkan pada hari Minggu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.