Malaysia, Indonesia dan Thailand, Mana Yang Paling Menarik Minat Investor Industri Halal?

AKURAT.CO Menarik membandingkan daya saing industri halal tiga negara anggota ASEAN yakni Malaysia, Indonesia dan Thailand. Sebagai gambaran peringkat industri halal (ekonomi syariah/ islamic economy) ketiganya, laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2022 yang dirilis DinarStandard bisa menjadi rujukan.
Di mana Malaysia keluar sebagai peringkat pertama, Indonesia keempat dan Thailand, di sisi lain, berada di luar 15 peringkat teratas. Lalu bagaimana sejatinya daya saing industri halal ketiga negara ASEAN ini.
Artikel berikut akan membahas daya saing ketiga negara berdasarkan 4 aspek yakni dinamika dalam 20 tahun terkini, kemudahan berbisnis bagi perusahaan multinasional, inisiatif terbaru pemerintah dan terakhir, mana yang terbaik, berdasarkan pandangan dari berbagai ahli ekonomi atau industri halal.
Dinamika 20 Tahun
Menurut Senior Partner Dinar Standard yang juga Direktur Industri Produk Halal KNEKS Tahun 2019-2023, Afdhal Aliasar, kemajuan industri halal di Indonesia dalam 2 dekade terakhir berlangsung sangat fantastis. Halal sudah menjadi sebuah persyaratan dasar yang menjadi differensiasi market Indonesia dibandingkan dengan pasar produk konsumsi di negara lainnya.
Pada dasarnya dalam kebijakan suatu negara, untuk bahan dan produk makanan/minuman konsumsi hanya memperhatikan standard food safety dan sering kali halal hanya menjadi persyaratan tambahan yang diminta oleh sebagian konsumen, namun di Indonesia persyaratan halal sudah menjadi kebijakan resmi negara.
Baca Juga: Dukung Ekonomi Syariah, BI Kebut Pendirian Halal Center
"Indonesia telah menorehkan garis yang kuat atas pondasi perkembangan halal di industri dunia. Semua industri barang konsumsi makanan dan minuman di Indonesia saat ini bisa dikatakan sudah tersertifikasi halal. Ini suatu hal yang tidak ditemukan di negara lain," ujarnya kepada Akurat.co, Senin (10/6/2024).
Sementara menurut Pengamat Ekonomi Syariah yang juga Wakil Komisaris Utama/ Komisaris Independen PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), Adiwarman Azwar Karim, pertumbuha industri halal RI dalam 20 tahun terakhir luar biasa cepat. Banyak perkembangan yang terjadi baik di industri mamin, pariwisata, kosmetik, farmasi, fashion dan keuangan.
Hal ini didorong yang semula tidak ada kebutuhan untuk membuat sertifikat halal, namun kemudian ada permintaan dari luar negeri terkait sertifikasi halal dan sebagainya. Sejak saat itu, Indonesia mulai menata industri halalnya.
"Sekarang pertumbuhan yang cepat sekali its matter of administration. RI sebagian besarnya halal, kita pergi ke warteg, restoran padang, di mana-mana halal. Yang enggak halal bisa dihitung pakai jari. Lalu orang yang jual yang enggak halal pun selalu kasih tahu ke kita konsumen bahwa ini enggak halal jadi jangan makan di sini misalnya," ujarnya.
Kemudahan Berbisnis Perusahaan Multinasional
Menurut Afdhal, ia tidak melihat perusahaan multinasional kesulitan untuk melaksanakan bisnisnya di Indonesia. Asalkan mereka serius untuk membangun fasilitas industri di sini, sendiri karena mereka yakin tidak akan ada masalah yang berarti. Contohnya, nama besar seperti Unilever yang pabriknya sudah beroperasi puluhan tahun di Indonesia, mereka memenuhi persyaratan halal.
"Adapun yang mungkin sering merasa ekosistem Indonesia sulit karena adanya persyaratan halal adalah para pedagang (importir) yang memang tidak atau belum mempunyai komitmen membangun industri di Indonesia," ujarnya.
Ditambahkan, dukungan pemerintahpun sudah sangat jauh membaik dari tahun ke tahun, dan bahkan terkait halal sudah banyak sekali fasilitasi pemerintah yang memudahkan bisnis industri halal untuk berkembang baik di sisi pelatihan, dukungan lembaga pendukung seperti bertambahnya auditor, penyelia, lembaga pemeriksa dan lainnya.
Yang masih perlu diperhatikan ke depan adalah faktor dasar dalam pengembangan industri produk konsumsi yaitu dukungan logistik, sumber bahan baku, riset, dan harga. Yang mana semua faktor itu adalah hal yang umum berlaku di industri, jadi tidak spesifik hanya untuk industri halal saja.
Sependapat, Adiwarman menilai sudah banyak perusahaan besar multinasional seperti Unilever yang perkembangannya sangat cepat dan semua produknya bersertifikat halal. Ataupun hotel chain dari perusahaan multinasional, hampir semuanya saat ini di setiap kamarnya selalu ada arah kiblat, dilengkapi jet shower serta dilengkapi fasilitas sholat jumat.
Lalu juga shopping mall chain asing seperti milik Korea ataupun negara lainnya yang beroperasi di Indonesia mampu mengembangkan bisnis halalnya tanpa mengalami kesulitan. Artinya, di mall tersebutpun menyediakan tempat shalat hampir di setiap lantainya, yang memadai dan bagus, dilengkapi restoran bersertifikat halal dan sebagainya.
"Kalaupun ada yang tidak halal jelas informasinya sehingga konsumen muslim tidak ada keraguan mau makan di restoran yang mana karena jelas sekali mana-mana restoran yang bersertifikat halal dan mana yang menjual yang tidak halal," jelasnya.
Inisiatif Terbaru Pemerintah
Afdhal melihat Indonesia sudah menemukan jalannya sendiri untuk mengembangkan industri halal dunia. Suatu hal yang secara fundamental sungguh sangat baik yaitu kebijakan negara yang berpihak baik secara ekosistem maupun kelembagaan dan regulasi. PR terbesar selanjutnya adalah membangun industrinya dengan membuat produk Indonesia menjadi lebih kompetitif.
"Tak semua yang dilaksanakan negara lain seperti Malaysia dan Thailand akan cocok untuk Indonesia. Saya tidak melihat Indonesia di posisi sebagai follower dalam hal ini. Dengan kemampuan industri yang kian hari kian terus membaik, produk Indonesia akan makin berkualitas dan memiliki daya produksi yang sangat besar untuk bisa melayani kebutuhan dunia," ujarnya.
Senada, Adiwarman melihat negara lain seperti Malaysia dan Thailand misalnya, hanya seakan-akan lebih supportif ke pelaku industri. Padahal menurutnya tidak juga karena produsen halal terbesar di dunia menurutnya adalah Indonesia. Pada saat yang sama, konsumen halal terbesar di dunia juga Indonesia, sehingga produk-produk halal di Indonesia habis terserap oleh pasar domestik.
Sementara negara seperti Malaysia dan Thailand produksi mereka tak terserap di pasar domestik. Oleh karenanya, produk mereka banyak mengisi pasar di luar negeri mengingat demand di pasar domestik mereka lebih kecil. Dengan kata lain, perbandingannya tak apple to apple mengingat penduduk muslim di Malaysia dan Thailand juga sedikit.
"Indonesia kebalikannya. Kita memang produsen terbesar produk halal di dunia tapi kita juga konsumen terbesar sehingga produk kita diserap oleh pasar domestik sehingga di pasar global seakan-akan yang banyak mendominasi adalah produk-produk halal dari Malaysia atau Thailand. Malaysia penduduk muslim hanya 60% dari jumlah penduduk 30 jutaan, Thailand hanya di Pattaya, lah kita 87% dari 280 juta penduduk. Sehingga kebijakan yang diambil pemerintah gak bisa serta-merta dibandingkan dengan negara muslim kecil dalam hal jumlah penduduknya," paparnya.
Paling Menarik
Afdhal menegaskan, ada hal-hal tertentu yang Malaysia lebih unggul dibanding Indonesia yaitu kolaborasi antar industri yang memungkinkan mereka menghasilkan produk yang berdaya saing walaupun mungkin bahan bakunya tidak berasal dari dalam negerinya. Secara ekosistem Malaysia relatif kecil dan lebih mudah untuk berkoordinasi karena inter logistic yang lebih simple.
Di sisi lain Indonesia memiliki sumber bahan baku dan sumber daya manusia yang jauh lebih besar, maupun juga pangsa pasar yang sangat besar untuk dipenuhi kebutuhan produk halalnya. Awarness halal di Indonesia perlu untuk lebih sistematis dilaksanakan dalam supply chain industry. Dengan hilirisasi produk halal yang continue, Indonesia akan menjadi jawara yang sulit untuk tidak diakui kekuatannya.
Sepakat, Adiwarman juga melihat Malaysia tak lebih baik dari Indonesia dalam mendukung industri halalnya. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia sering kesulitan mencari mushola di mall negeri jiran. Menurutnya, Indonesia tak serta merta bisa dibandingkan dengan Malaysia karena tak apple to apple.
Misalnya dari sisi fashion, Indonesia menurutnya lebih maju. Pun dari sisi kosmetik, dengan merek Wardah milik PT Paragon Technology and Innovation telah mengungguli perusahaan multinasional kosmetik di Indonesia. Atau contoh lain, dalam hal jumlah universitas yang memiliki program studi ekonomi syariah, Indonesia memiliki ratusan dibanding Malaysia.
"Jadi kalau dibilang Malaysia lebih baik dalam hal supporting halal industry enggak lah. Kadang-kadang mereka mengemasnya (pencitraan/ PR) nya lebih bagus saja sehingga terdengar di media. Sementara kita kerja saja tak terlalu fokus pencitraan," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 24 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 4Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 5Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 6Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 7Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Biaya Marketplace Makin Tinggi, Brand Lokal Mulai Mengandalkan Website Sendiri
- 9Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Pungli Dokumen Imigrasi
- 10KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah








