Akurat Logo

Seruan Boikot Produk Pro Israel Selama Ramadan, Ekonom: Pertimbangkan Dampak ke Lapangan Kerja Lokal

Silvia Nur Fajri | 12 Maret 2024, 14:56 WIB
Seruan Boikot Produk Pro Israel Selama Ramadan, Ekonom: Pertimbangkan Dampak ke Lapangan Kerja Lokal

AKURAT.CO Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelang bulan suci Ramadan mengarakan dengan kebijakan boikot produk Israel di bulan Ramadhan.

Menangapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Institut for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad mengatakan meskipun produk Israel hanya menyumbang jumlah relatif kecil dalam pasar lokal, kebanyakan dari produk tersebut terdiri dari mesin, peralatan mesin, dan produk industri. 

"Dampak dari boikot ini mungkin belum signifikan dalam penurunan penjualan, meskipun beberapa perusahaan besar seperti KFC atau McDonald's belum mengalami penurunan yang berarti," ujar Tauhid kepada Akurat.co, Selasa (20/3/2024).

Baca Juga: Boikot KFC Berujung Pemotongan Gaji

Dia juga menyoroti kurangnya kesadaran masyarakat terhadap produk-produk yang terafiliasi dengan Israel. Faktor ekonomi perlu diperhatikan dalam memprediksi konsekuensi dari kebijakan boikot tersebut, terutama terkait dengan lapangan kerja lokal.

"Masyarakat perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap lapangan kerja lokal. Jika kita mengimpor lebih banyak barang dari negara lain, kita dapat mengalami ketergantungan terhadap negara tersebut," jelasnya.

Ia juga pentingnya opini masyarakat dan efektivitas keputusan yang diambil dalam menangani isu ini. Solusi yang baik, menurutnya, melibatkan peningkatan kewirausahaan dan pengalihan tenaga kerja ke sektor lain sebagai upaya untuk membantu mereka yang terdampak mendapat pekerjaan baru.

"Perlu ada upaya untuk mendukung mereka yang terdampak agar bisa mendapatkan pekerjaan baru. Langkah-langkah seperti peningkatan kewirausahaan dan pengalihan tenaga kerja ke sektor lain bisa menjadi solusi yang baik dalam menghadapi dampak dari kebijakan boikot produk Israel," tegas Tauhid.

Dengan demikian, Tauhid memberikan pandangan yang cermat terhadap potensi dampak ekonomi dari kebijakan boikot produk Israel terhadap lapangan kerja lokal, terutama menjelang bulan suci Ramadan.

Sebelumnya Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani, menyatakan bahwa daftar produk-produk yang beredar dianggap tidak valid karena belum didukung oleh data resmi dari pemerintah atau Majelis Ulama Islam (MUI).

Dampak dari boikot tersebut menyebabkan banyak produk Indonesia terkena imbasnya, mengakibatkan kerugian bagi perusahaan dan para pekerja. 

"Faktanya, mayoritas produk yang terkena dampak adalah produk dalam negeri. Jadi, ini merugikan kita sendiri," ungkap Shinta.

Diketahui, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Muslim menjelang Ramadan untuk menghindari produk yang terafiliasi dengan Israel, termasuk dalam sahur, berbuka puasa, dan hampers Lebaran, sebagai bentuk perlawanan atas genosida Israel di Gaza.

Sekretaris Jenderal MUI, Amirsyah Tambunan mengatakan pentingnya menggunakan produk dalam negeri atau produk Palestina sebagai ekspresi cinta tanah air dan solidaritas.

"MUI mendorong masyarakat menggunakan produk dalam negeri yang tidak terafiliasi dengan Israel dan pendukungnya, sebagai bentuk ajaran cinta tanah air bagian dari iman (hubbul wathan minal iman), atau membeli produk Palestina yang telah beredar di pasar Indonesia," kata Amirsyah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.