Akurat Logo

Kenapa Krisis Iklim Picu Inflasi Pangan?

Eko Krisyanto | 4 Oktober 2023, 14:40 WIB
Kenapa Krisis Iklim Picu Inflasi Pangan?

AKURAT.CO Isu krisis iklim kerap kali digaungkan oleh pemerintah, ilmuwan, dan juga aktivis-aktivis lingkungan di berbagai belahan dunia. Namun sayangnya, isu ini seolah dianggap tak terlalu krusial oleh masyarakat.

Namun diterima atau tidak, krisis iklim terus mengancam kehidupan Bumi dan seluruh kehidupan yang ada di atasnya. Fenomena tak memercayai krisis iklim ini disebut dengan Climate Change Denial.

Fenomena Climate Change Denial tak hanya terjadi di Indonesia saja. Berdasarkan survei yang dilakukan YouGov pada Juli-Agustus 2020, Fenomena Climate Change Denial masyarakat Indonesia berada di peringkat atas (21%), mengalahkan Amerika Serikat (19%) dan Arab Saudi (18%). 

Baca Juga: Alarm Krisis Iklim Makin Nyata! Percepatan Transisi Energi Mendesak   

Kondisi geografis Indonesia yang dilewati garis khatulistiwa sendiri dapat dipahami menjadi salah satu alasan mengapa warga Indonesia banyak yang tak memercayai krisis iklim. Kondisi geografis Indonesia membuat banyak sekali kejadian dan bencana terjadi di Indonesia. Sehingga ketika ada bencana-bencana terjadi akibat perubahan iklim, masyarakat akan menganggap itu sebagai hal yang biasa.

Hal ini berbeda dengan masyarakat yang tinggal di subtropis dengan memiliki 4 musim. Masyarakat di negara-negara 4 musim, akan lebih merasakan dampak dari krisis iklim karena perubahan suhu panas yang tidak biasa. Sedangkan Indonesia dengan kawasan tropis, seolah ‘terbiasa’ dengan suhu yang semakin panas.

Meski krisis iklim dapat berdampak pada semua sektor, namun, dampak nyata yang seharusnya bisa membuat masyarakat Indonesia sadar akan nyatanya krisis iklim adalah inflasi pangan. 

Sektor pangan yang sangat bergantung pada temperatur, ketersediaan air, curah hujan tentu akan sangat terdampak akibat krisis iklim. Krisis iklim dapat mengakibatkan bencana hidrometeorologi seperti curah hujan ekstrim, angin kencang, banjir, kekeringan, hingga puting beliung. Bencana tersebut tentu saja mengancam panen di sektor pertanian. 

Gagal panen tentu menjadi hal yang mengerikan bagi petani. Tapi seharusnya, gagal panen bukan hanya mengerikan bagi petani, namun seluruh umat manusia. Pasalnya gagal panen yang terjadi terus menerus akan menurunkan pasokan kebutuhan pangan. 

Seperti konsep ekonomi yang dikenalkan oleh Alfred Marshal tentang elastisitas harga permintaan (price elasticity of demand). Secara teori dalam model ekonomi supply and demand, orang akan membeli lebih sedikit barang yang mengalami kenaikan harga.

Namun menurut Marshall, teori supply and demand tidak akan terjadi pada barang inelastis seperti obat-obatan dan makanan, karena merupakan barang yang penting untuk kehidupan sehari-hari.

Jadi ketika bahan pangan meningkat karena suplai sedikit, masyarakat tidak lantas berhenti membeli bahan pangan tersebut. Masyarakat akan tetap membeli karena kebutuhannya, namun mereka akan lebih selektif dalam membeli dengan memerhatikan harga. Sayangnya, proses selektif berdasar harga itu hanya akan membuat masyarakat mengenyampingkan kebutuhan gizi yang nantinya akan menimbulkan permasalahan baru. 

Dari sini tentu dapat terlihat betapa krisis iklim dapat menimbulkan efek domino pada kehidupan manusia. Harga pangan yang meningkat akan membuat masyarakat khususnya masyarakat miskin kesulitan untuk menjangkaunya. Akibatnya bukan hanya kelaparan saja, melainkan akan terjadi malnutrisi lebih banyak lagi.

Jadi, krisis iklim bukan hanya sekedar tentang suhu udara yang sangat panas, musim kemarau, hujan yang sangat lebat hingga menyebabkan banjir, atau bencana-bencana lainnya. Namun krisis iklim juga dapat berdampak pada krisis pangan. (Adinda Shafa Afriasti)

 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.