Akurat Logo

Yah! Terjerat Masalah Utang Garuda Belum Bisa Gabung Holding Aviasi Pariwisata

Viona Sebastian Nolani | 22 Oktober 2021, 21:05 WIB
Yah! Terjerat Masalah Utang Garuda Belum Bisa Gabung Holding Aviasi Pariwisata

AKURAT.CO, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengungkapkan meski PT Garuda Indonesia Tbk belum bisa masuk holding tapi tetap menargetkan bakal bergabung dengan Holding BUMN PT Aviasi Pariwisata Indonesia/Aviata (Persero) pada 2023.

"Kami harapkan restrukturisasi Garuda akan cepat tuntas dan selesai, sehingga mereka akan masuk menjadi bagian Aviata ke depan," jelas Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo, Jum'at (22/10/2021). 

Pria yang akrab disapa Tiko itu menuturkan bahwa penggabungan pada holding pariwisata tersebut akan melalui tiga tahap di mana tahap pertama telah terselesaikan pada triwulan III-2021, tahap kedua pada triwulan IV-2021, dan tahap ketiga di 2023.

Adapun untuk tahap pertama telah berhasil menggabungkan PT Hotel Indonesia Natour (HIN), PT Sarinah (Persero), PT Angkasa Pura I, PT Angkasa Pura II, dan PT Taman Wisata Candi (TWC). Kemudian, lanjutnya, proses inbreng PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) pada tahap kedua.

"ITDC akan menyusul pada triwulan IV-2021 pascaproses penyertaan modal negara (PMN) sebagai persero," imbuhnya.

Selanjutnya, kata dia, barulah Garuda akan bergabung dengan Aviata pada tahap ketiga setelah proses restrukturisasi selesai.

Ia menambahkan ketika dibentuk, Aviata digagas untuk bisa membangun peningkatan kontribusi sektor pariwisata, namun saat COVID-19 tugas holding BUMN tersebut diatur ulang agar bisa melakukan restrukturisasi pascapandemi.

Selain melakukan restrukturisasi, pria yang akrab dipanggil Tiko tersebut pun menjelaskan fokus Aviata saat ini yaitu turut menyelenggarakan kegiatan besar yang diharapkan bisa menjadi katalis untuk pemulihan sektor pariwisata Indonesia.

Salah satunya, yakni kegiatan World Superbike di Mandalika pada November 2021 yang akan menjadi awal pemulihan sektor pariwisata dan bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru pasca pandemi COVID-19.

Sebelumnya, Staf Menteri BUMN Arya Sinulingga menyebutkan Garuda Indonesia Tbk (GIAA) baru akan masuk ke dalam Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung setelah selesai melaksanakan restrukturisasi utang agar tidak membebani holding.

Arya mengatakan bahwa Garuda Indonesia harus menyelesaikan masalah keuangannya terlebih dulu sebelum bisa bergabung pada holding pariwisata dan menjalankan bisnis bersama dengan perusahaan lainnya.

"Untuk Garuda, kita tunggu saja. Masih proses, belum bisa masuk holding. Nanti holdingnya tidak baik karena ada yang bermasalah. Jangan sampai nanti jadi bubar, makanya selesaikan dulu deh Garuda. Nanti kalau restrukturisasi berhasil, baru masuk, kalau belum jangan dulu," ungkap Arya beberapa waktu lalu.

Ia menilai apabila Garuda Indonesia dipaksakan untuk tetap masuk holding pariwisata dengan kondisinya yang memiliki utang hingga Rp70 triliun lebih, dikhawatirkan akan membebani holding kendati mengembangkan bisnis secara bersama-sama.

"Bukannya mengembangkan holding pariwisata, nanti malah membebani. Tunggu saja proses Garuda, kita lihat bagaimana nanti proses restrukturisasi di Garuda," jelas Arya.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.