BTN dan Misi Besar 3 Juta Rumah: Dari Pembiayaan Rakyat hingga Transformasi Digital Berkelanjutan

AKURAT.CO Di tengah backlog perumahan nasional dan target ambisius Program 3 Juta Rumah per tahun, kehadiran lembaga pembiayaan yang kuat bukan lagi pilihan—melainkan kebutuhan strategis.
Di sinilah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menegaskan perannya sebagai pilar utama pembiayaan perumahan nasional sekaligus motor inklusi keuangan keluarga Indonesia.
Awal 2026 menjadi momentum penting. Berdasarkan data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), penyaluran KPR Sejahtera FLPP nasional mencapai 7.312 unit senilai Rp912,4 miliar hanya dalam periode 1–31 Januari.
BTN mencatatkan penyaluran tertinggi, memperkuat rekam jejaknya sebagai bank dengan jaringan pembiayaan rumah rakyat terluas.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menegaskan, capaian ini bukan sekadar angka, melainkan refleksi kesiapan sistem dan kemitraan yang telah dibangun selama puluhan tahun.
“Kami berkomitmen memperluas akses pembiayaan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Dominasi ini menunjukkan kesiapan jaringan, teknologi, dan kolaborasi yang kami miliki,” ujarnya.
Dengan kuota nasional FLPP 2026 sebesar 350.000 unit, peran BTN semakin sentral dalam menopang target 3 juta rumah per tahun—agenda konstitusional yang menyentuh langsung kualitas hidup rakyat.
Namun BTN tidak berhenti pada pembiayaan konvensional. Di usia ke-76 tahun, transformasi besar sedang berlangsung.
Peluncuran superapp Bale by BTN pada 9 Februari 2025 menjadi tonggak digitalisasi. Hingga akhir 2025, aplikasi ini telah digunakan 3,7 juta nasabah, mempercepat layanan perbankan, termasuk pengajuan KPR yang kini semakin praktis dan transparan.
Baca Juga: BTN Kuasai Penyaluran KPR FLPP di Januari 2026
Kehadiran BTN Digital Store di berbagai kota besar juga memangkas waktu pembukaan rekening menjadi hanya 3–5 menit melalui integrasi data kependudukan.
Digitalisasi ini bukan sekadar modernisasi sistem, melainkan strategi memperluas inklusi—terutama bagi generasi milenial dan Gen Z yang memasuki fase pembelian rumah pertama.
Rumah sebagai Agenda Konstitusional
Ekonom Universitas Surakarta (UNSA), Agus Trihatmomo, menilai pembiayaan perumahan adalah fondasi utama keberhasilan Program 3 Juta Rumah.
“Rumah adalah kebutuhan primer. Negara wajib hadir, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang tak mampu mengakses hunian layak secara mandiri,” ujar Agus kepada Akurat.co, Kamis (19/2/2026).
Menurut Agus, sektor properti memiliki efek berganda yang luas. Setiap pembangunan rumah menyerap tenaga kerja langsung—dari konstruksi hingga manajemen proyek—serta menggerakkan rantai pasok bahan bangunan, logistik, hingga UMKM lokal.
Ia menekankan pentingnya manajemen pembangunan yang inklusif dan tidak monopolistik. Pendekatan berbasis wilayah juga menjadi kunci: model hunian vertikal untuk kota besar, sementara di pedesaan dan pesisir perlu pendekatan adaptif sesuai karakter ekonomi masyarakatnya.
Dalam konteks pembiayaan, Agus menilai skema subsidi bunga dan uang muka terjangkau sangat krusial.
Program pembiayaan dari BTN dinilai mampu menjaga keseimbangan antara keterjangkauan harga dan kualitas bangunan.
Namun ia mengingatkan, pengawasan harus ketat agar rumah subsidi tepat sasaran dan tidak disalahgunakan untuk spekulasi.
“Keberhasilan program ini bukan hanya soal jumlah unit, tetapi tata kelola yang adil dan profesional,” ujarnya.
Baca Juga: Genap Berusia 76 Tahun, BTN Bertansformasi Jadi Bank yang Lebih Modern
Transformasi Digital dan Ekosistem Berkelanjutan
Transformasi BTN juga mendapat perhatian dari pengamat properti, Anton Sitorus, Ia menilai, digitalisasi di sektor KPR adalah keniscayaan global yang mempercepat akses sekaligus meningkatkan transparansi.
“Digitalisasi mempermudah proses tanpa menghilangkan prinsip kehati-hatian. Idealnya memang hybrid—administrasi digital, tetapi edukasi dan konsultasi tetap personal,” jelasnya.
Anton melihat BTN berada di jalur yang tepat: mempercepat layanan tanpa mengurangi akuntabilitas. Transformasi ini juga memperkuat integrasi ekosistem—antara pemerintah, pengembang, dan masyarakat.
Lebih jauh, BTN mulai bergerak beyond mortgage. Program Rumah Rendah Emisi dan inovasi sosial seperti konversi sampah menjadi pengurang cicilan KPR menunjukkan pendekatan baru: pembiayaan yang sejalan dengan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).
Langkah ini tidak hanya memperluas inklusi keuangan, tetapi juga menanamkan kesadaran keberlanjutan dalam kepemilikan rumah.
Bagi Anton, kekuatan utama transformasi bukan pada kecepatan semata, melainkan pada kepercayaan.
“Transformasi yang berhasil adalah yang memperluas akses, menjaga keamanan sistem, dan membangun kepercayaan publik,” ujarnya.
Membangun Lebih dari Sekadar Rumah
Program 3 Juta Rumah bukan sekadar proyek pembangunan fisik. Ia adalah investasi sosial jangka panjang—tentang martabat, stabilitas keluarga, dan masa depan generasi berikutnya.
Melalui pembiayaan inklusif, digitalisasi layanan, kolaborasi ekosistem, dan inovasi berkelanjutan, BTN menunjukkan bahwa membangun rumah berarti membangun harapan.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menegaskan, komitmen perseroan tidak berhenti pada pencapaian angka penyaluran kredit semata.
“BTN tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi mengemban amanah untuk membantu jutaan keluarga Indonesia memiliki hunian yang layak dan terjangkau. Transformasi yang kami lakukan—baik dari sisi digitalisasi maupun inovasi pembiayaan—bertujuan memastikan akses rumah semakin luas, proses semakin mudah, dan dampaknya semakin berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi menjadi kunci keberhasilan program nasional ini. Sinergi antara pemerintah, pengembang, dan lembaga keuangan harus terus diperkuat agar manfaatnya dirasakan merata di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Jadi Pemenang BTN Housingpreneur 2025, Para Inovator Siap Dukung Sektor Perumahan
Jika konsistensi dan kolaborasi ini terus terjaga, dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang bukan hanya jutaan unit rumah yang berdiri—tetapi jutaan keluarga yang hidup lebih aman, produktif, dan sejahtera.
Di sanalah peran BTN menemukan maknanya: bukan sekadar membiayai rumah, melainkan menghadirkan fondasi masa depan bagi bangsa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










