Proyek Titan Belum Groundbreaking, Kementerian ESDM Ungkap Kendala

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) buka suara terkait kelanjutan proyek integrasi baterai kendaraan listrik (EV) di Halmahera Timur, Maluku Utara.
Adapun, groundbreaking proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) konsorsium Zhejiang Huayou Cobalt Co dan Indonesia Battery Corporation (IBC) dijadwalkan pada Oktober 2025.
Namun, sampai dengan saat ini groundbreaking dari proyek yang disebut sebagai proyek titan ini belum terjadi. Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ahmad Erani Yustika mengatakan, realisasi proyek tersebut belum berjalan secepat yang diproyeksikan pemerintah.
Baca Juga: Ada Pergantian Direksi, ESDM Pastikan Proyek Titan Tetap Berjalan
Erani, yang menjabat sebagai Sekretaris Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, menyampaikan bahwabhingga saat ini kesepakatan antara Huayou dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam belum menemukan titik temu.
“Ada beberapa kerja sama antara Antam dengan Huayou masih belum inilah, sampai sekarang masih dalam kajian, masih dalam, enggak secepat seperti yang kita bayangkan,” kata Erani di Kementerian ESDM dikutip, Kamis (22/1/2026).
Erani menambahkan bahwa kelanjutan proyek ini masih terus berjalan. Namun, ia mengakui masih memerlukan waktu lebih untuk memfinalisasi kesepakatan antara kedua perusahaan.
“Sampai sekarang, sampai sekarang itu masih rencana itu masih berjalan. Tetapi secara teknis mereka masih memerlukan waktu ya untuk memfinalisasi kesepakatan kerja sama di antara beberapa pihak itu,” tambah Erani.
Diberitakan sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan proyek yang merupakan konsorsium Zhejiang Huayou Cobalt bersama Indonesia Battery Corporation (IBC) tetap akan jalan.
Meski adanya pergantian pucuk pimpinan di IBC imbas Toto Nugorho lengser dari jabatannya sebagai Direktur Utama, Yuliot menyebut proyek ekosistem baterai ini akan terus dijalankan oleh direksi baru. Akan tetapi, Yuliot tidak mengungkapkan secara gamblang siapa nama pimpinan baru IBC tersebut.
“Komitmen Pelaksanaan Kegiatan Investasi, kan dalam rangka joint venture. Ini kan tetap jalan, walaupun itu kan sudah ada Dirut (IBC) yang baru juga, yang melanjutkan kegiatan,” kata Yuliot di Kementerian ESDM dikutip, Minggu (14/9/2025).
Adapun, Proyek Titan merupakan proyek strategis dengan nilai investasi total mencapai USD9,8 miliar atau sekitar Rp165,6 triliun.
Proyek ini dirancang sebagai ekosistem terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari pertambangan nikel, pemurnian melalui fasilitas RKEF dan HPAL, hingga produksi prekursor, katoda, dan sel baterai EV.
Huayou masuk menggantikan LGES untuk melanjutkan proyek senilai USD8 miliar atau sekitar Rp130,6 triliun dalam skema joint venture bersama Indonesia Battery Corporation (IBC).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










