RUPTL 2025-2034 Jadi Kabar Baik Buat Sektor EBT
Hefriday | 13 Agustus 2025, 22:13 WIB

AKURAT.CO Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko IPK) optimistis investasi di sektor energi baru dan terbarukan (EBT) akan mengalami lonjakan signifikan setelah diterbitkannya Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN periode 2025-2034.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko IPK, Rachmat Kaimuddin, menyebut titik awal perkembangan investasi EBT akan dimulai ketika RUPTL tersebut mulai diimplementasikan.
“Mulai titik nolnya pada saat RUPTL keluar. Kita lihat dari waktu enam bulan sampai satu tahun ke depan, dua tahun ke depan, di situlah prosesnya,” ujarnya di Jakarta, Rabu (13/8/2025).
Rachmat menyoroti bahwa RUPTL terbaru yang diluncurkan pada Mei lalu membawa arah baru yang lebih ambisius. Menurutnya, dokumen perencanaan tersebut mencerminkan pergeseran besar menuju peningkatan porsi listrik ramah lingkungan.
“RUPTL kita yang 2025-2034 itu sudah sangat ambisius. Benar-benar shifting yang luar biasa dari ambisi kita untuk lebih banyak lagi listrik hijau,” tuturnya.
Berdasarkan data semester I 2025, pertumbuhan investasi EBT baru mencatat kenaikan 0,6%. Namun, Rachmat meyakini angka tersebut akan terdongkrak signifikan seiring realisasi proyek-proyek yang tercantum dalam RUPTL.
Dari sisi lain, Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Nurul Ichwan, menilai lambatnya pertumbuhan investasi di sektor EBT saat ini disebabkan oleh lesunya permintaan listrik di pasar.
“Pertumbuhan pasar yang tersendat menyebabkan permintaan terhadap listrik menurun,” kata Nurul.
Nurul menjelaskan, tantangan utama EBT bukan hanya pada kapasitas produksi, tetapi juga pada ketersediaan pasar yang siap menyerap listrik hijau. “Listrik ini bukan barang yang bisa disimpan. Ketika dia sudah berproduksi, dia harus dibeli. Kalau tidak dipakai, ya hilang,” jelasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah tengah mendorong pembangunan ekosistem kendaraan listrik (EV) guna meningkatkan konsumsi listrik. Langkah ini diharapkan tidak hanya menekan emisi karbon, tetapi juga menciptakan pasar yang menyerap energi dari pembangkit EBT.
Menurut Nurul, sebagian besar investor yang masuk ke sektor EBT di Indonesia adalah pihak swasta. Meskipun pembeli utamanya adalah PLN, para investor cenderung menunggu hingga pasar domestik berkembang lebih stabil.
“Mereka masih dalam fase menunggu sampai pasar di Indonesia berkembang,” tambahnya.
RUPTL PLN 2025-2034 menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW) dalam 10 tahun ke depan. Dari jumlah tersebut, 61% atau 42,6 GW berasal dari EBT, 15% atau 10,3 GW dari fasilitas penyimpanan energi (storage), dan 24% atau 16,6 GW dari sumber energi fosil seperti gas (10,3 GW) dan batu bara (6,3 GW).
Pemerintah berharap porsi dominan EBT dalam RUPTL kali ini menjadi sinyal kuat bagi investor global bahwa Indonesia berkomitmen penuh menuju transisi energi berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










