Akurat

Apakah Jika Palestina Merdeka Maka Dunia Akan Kiamat? Ini Penjelasan Lengkap dari Ulama dan Hadis

Idham Nur Indrajaya | 11 Oktober 2025, 15:24 WIB
Apakah Jika Palestina Merdeka Maka Dunia Akan Kiamat? Ini Penjelasan Lengkap dari Ulama dan Hadis

 

AKURAT.CO Belakangan ini, beredar luas di media sosial sebuah klaim yang membuat sebagian orang resah: “Jika Palestina merdeka, maka kiamat akan datang.” Ungkapan ini kerap dikaitkan dengan sebuah hadis yang menarasikan bahwa ketika khilafah atau kekuasaan Islam kembali ke Baitul Maqdis (Yerusalem/Palestina), maka saat itu akan terjadi gempa bumi, bencana besar, dan tanda-tanda dekatnya hari kiamat. Namun, apakah benar demikian? Apakah kemerdekaan Palestina memang menjadi pertanda akhir zaman?

Untuk menjawabnya, perlu ditelusuri sumber hadis yang sering dijadikan dasar keyakinan tersebut, penjelasan para ulama, serta bagaimana pandangan Islam tentang rahasia datangnya hari kiamat.


Hadis yang Jadi Dasar Klaim “Palestina Merdeka = Kiamat”

Hadis yang sering dikutip untuk mendukung anggapan ini diriwayatkan oleh Abu Dawud. Berikut teks lengkapnya:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا أَسَدُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنِي ضَمْرَةُ أَنَّ ابْنَ زُغْبٍ الْإِيَادِيَّ، حَدَّثَهُ قَالَ: نَزَلَ عَلَيَّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَوَالَةَ الْأَزْدِيُّ، فَقَالَ لِي: بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَغْنَمَ عَلَى أَقْدَامِنَا...
(HR. Abu Dawud)

Dalam hadis ini, Rasulullah SAW bersabda kepada Abdullah bin Hawalah:

“Wahai Ibn Hawalah, ketika kamu melihat khilafah telah turun ke Baitul Maqdis (Yerusalem), maka saat itu akan mendekat gempa bumi, bencana besar, dan masalah besar. Pada hari itu, saat Kiamat akan lebih dekat bagi manusia daripada jarak ini antara tanganku dan kepalamu.”
(HR. Abu Dawud)

Sepintas, hadis ini terlihat seolah menyebut bahwa ketika kekuasaan Islam kembali ke Palestina, kiamat akan segera terjadi. Namun, dalam tradisi ilmu hadis, setiap riwayat harus dikaji tingkat keasliannya melalui penelusuran sanad (rantai perawi) dan matan (isi hadis).


Bagaimana Kualitas Hadis Ini Menurut Para Ulama?

Menurut penjelasan dalam Syarh Sunan Abi Dawud karya Ibnu Ruslan, hadis ini memang diriwayatkan melalui beberapa perawi, di antaranya Ahmad bin Salih, Asad bin Musa, dan Muawiyah bin Salih. Namun, peneliti hadis Syuaib Al-Arnaout menilai hadis ini lemah (dhaif).

Beberapa alasan hadis ini dikategorikan lemah antara lain:

  1. Kredibilitas perawi yang diragukan.
    Muawiyah bin Salih memang dikenal cukup kuat, tetapi sebagian riwayatnya dinilai mencurigakan.

  2. Perawi yang tidak dikenal pasti.
    Abdullah bin Zughb (atau Zughb bin Abdullah) disebutkan sebagai perawi yang statusnya tidak jelas dan tidak dikenal secara luas di kalangan ahli hadis.

  3. Konsistensi riwayat yang tidak stabil.
    Adanya variasi nama perawi dalam beberapa versi riwayat menciptakan keraguan atas keautentikannya.

Selain itu, isi hadis ini berisi ramalan atau prediksi masa depan yang tidak cocok dengan karakter hadis-hadis shahih lainnya. Karena itu, para ulama menegaskan bahwa hadis ini tidak dapat dijadikan hujjah (dalil yang kuat), terutama dalam urusan akidah seperti halnya soal Hari Kiamat.

Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah jilid 1, dijelaskan bahwa dalam hal akidah, umat Islam hanya wajib mempercayai dalil yang mutawatir (riwayat yang sangat kuat dan banyak). Hadis lemah tidak bisa dijadikan dasar keyakinan.


Konteks Sejarah Hadis: Antara Kekhalifahan dan Bencana

Ibnu Ruslan menjelaskan bahwa Abdullah bin Hawalah hidup hingga masa kekhalifahan Muawiyah bin Abi Sufyan dan Abdul Malik bin Marwan, dua pemimpin besar pada era Bani Umayyah. Menariknya, pada masa itu memang terjadi banyak gempa bumi dan konflik besar di dunia Islam.

Misalnya, pada tahun 90 Hijriah, terjadi serangkaian gempa bumi yang mengguncang wilayah Syam dan sekitarnya, menghancurkan bangunan-bangunan tinggi. Konflik besar pun pecah antara Al-Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi dan Abdullah bin al-Asy’ats, yang berlangsung selama seratus hari dan melibatkan puluhan pertempuran.

Dengan kata lain, hadis tersebut mungkin saja menggambarkan konteks sejarah di masa lampau, bukan prediksi tentang masa depan atau tanda kiamat.


Penjelasan Ulama tentang Makna Hadis

Ulama besar seperti Al-Khithabi dalam Awnul Ma’bud menafsirkan hadis ini bukan sebagai nubuat tentang kiamat, melainkan peringatan tentang kekacauan dan fitnah di masa pemerintahan Bani Umayyah. Ia menulis:

وإنما أنذر أيام بني أمية وما حدث من الفتن في زمانهم
Artinya, “Nabi SAW hanya memperingatkan tentang zaman Bani Umayyah dan kesengsaraan yang terjadi pada masa mereka.”

Penjelasan ini menunjukkan bahwa hadis tersebut lebih bersifat historis dan kontekstual, bukan isyarat bahwa kemerdekaan Palestina akan memicu kiamat.


Pandangan Islam tentang Rahasia Hari Kiamat

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui kapan kiamat akan terjadi, bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri tidak mengetahuinya.

Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 187:

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, ‘Kapan terjadi?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia.’”

Pesan yang sama juga ditegaskan dalam QS. Al-Ahzab ayat 63:

“Orang-orang bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah bahwa pengetahuan tentang hal itu hanya ada di sisi Allah. Tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat.”

Dari ayat-ayat ini jelas bahwa pengetahuan tentang kapan kiamat terjadi adalah hak prerogatif Allah, bukan sesuatu yang bisa ditentukan atau diprediksi oleh manusia, bahkan berdasarkan hadis sekalipun jika tidak sahih.


Hadis tentang Perang di Baitul Maqdis: Makna yang Sebenarnya

Beberapa hadis lain juga menyinggung tentang perjuangan umat Islam di Baitul Maqdis (Yerusalem). Dalam riwayat Muslim disebutkan:

“Senantiasa ada sekelompok dari umatku berperang di atas perintah Allah, menang terhadap musuh mereka, orang yang menyelisihi mereka tidak membahayakan mereka hingga hari kiamat datang dan mereka masih dalam kondisi seperti itu.” (HR. Muslim)

Riwayat Ahmad menambahkan penjelasan:

“Mereka berkata, ‘Ya Rasulullah, dan mereka di mana?’ Beliau bersabda, ‘Baitul Maqdis dan sekitarnya.’” (HR. Ahmad)

Namun, para ulama menilai bahwa tambahan “Baitul Maqdis dan sekitarnya” belum mencapai derajat mutawatir. Artinya, tidak ada dalil yang pasti bahwa kemenangan umat Islam di Palestina menjadi tanda kiamat. Yang lebih tepat, hadis ini menggambarkan keteguhan umat Islam dalam memperjuangkan kebenaran hingga akhir zaman.


Kemerdekaan Palestina Bukan Pertanda Kiamat

Dari seluruh kajian hadis dan pandangan ulama di atas, kesimpulannya jelas:
Kiamat tidak akan terjadi hanya karena Palestina merdeka. Kemenangan Palestina adalah bagian dari perjuangan kemanusiaan dan keadilan, bukan pertanda akhir dunia.

Keyakinan bahwa “jika Palestina menang maka dunia akan kiamat” justru bisa menimbulkan kesalahpahaman dan bahkan rasa takut yang tidak berdasar di masyarakat. Padahal, mendukung perjuangan rakyat Palestina merupakan bentuk solidaritas dan kemanusiaan yang diajarkan Islam.

Seperti ditegaskan dalam tafsir al-Munir karya Syekh Wahbah al-Zuhaili, ayat tentang kedekatan kiamat merupakan peringatan moral, bukan petunjuk waktu. Manusia hanya diminta untuk selalu siap menghadapi hari akhir, bukan menebak kapan ia datang.


Penutup

Kiamat adalah rahasia Allah yang tidak bisa diketahui manusia. Tidak ada hadis sahih yang menyebut bahwa kemerdekaan Palestina menjadi tanda kiamat. Yang bisa kita lakukan adalah terus berdoa, membantu perjuangan saudara-saudara kita di Palestina, dan memperkuat keimanan.

Perang dan penderitaan di sana bukan isyarat akhir zaman, melainkan ujian kemanusiaan bagi dunia. Dan seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an, hanya Allah yang tahu kapan kiamat tiba.
Wallahu a’lam.

Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan isu Palestina dan kajian keislaman lain, pantau terus pembaruan beritanya di laman ini.

Baca Juga: Indonesia Tegaskan Peran Global Lewat Bantuan untuk Palestina

Baca Juga: Wujudkan Diplomasi Kemanusiaan, LDKPI Berikan Bantuan Rp200 Miliar ke Palestina

FAQ

1. Benarkah jika Palestina merdeka maka kiamat akan terjadi?

Tidak benar. Tidak ada hadis sahih yang menyebutkan secara eksplisit bahwa kemerdekaan Palestina menandakan datangnya kiamat. Anggapan tersebut berasal dari penafsiran keliru terhadap hadis tentang Baitul Maqdis dan tanda-tanda akhir zaman.


2. Dari mana asal anggapan bahwa Palestina merdeka berarti kiamat?

Anggapan ini berasal dari hadis yang menuturkan bahwa ketika khilafah Islam berpusat di Baitul Maqdis, maka kiamat semakin dekat. Namun, banyak ulama menjelaskan bahwa hadis ini bukan merujuk pada “kemerdekaan Palestina modern”, melainkan pada peristiwa-peristiwa simbolik dalam konteks akhir zaman.


3. Apakah hadis tentang Baitul Maqdis dan akhir zaman itu sahih?

Sebagian ulama menilai hadis tersebut memiliki kelemahan dalam sanad, sementara yang lain menafsirkannya sebagai hadis mauquf (perkataan sahabat, bukan Nabi). Karena itu, hadis ini tidak dapat dijadikan dasar akidah atau kepastian waktu terjadinya kiamat.


4. Bagaimana pandangan para ulama tentang isu ini?

Mayoritas ulama menyatakan bahwa tidak ada hubungan langsung antara kemerdekaan Palestina dengan datangnya kiamat. Yang pasti, kemerdekaan Palestina adalah perjuangan kemanusiaan dan keadilan, bukan tanda-tanda kiamat.


5. Apakah Palestina disebut dalam hadis akhir zaman?

Ya, Baitul Maqdis atau Yerusalem disebut dalam banyak hadis terkait peristiwa akhir zaman — seperti turunnya Nabi Isa AS, munculnya Dajjal, dan perang besar (al-Malhamah al-Kubra). Namun konteksnya bersifat simbolik dan eskatologis, bukan politik modern.


6. Mengapa isu “Palestina dan kiamat” sering viral di media sosial?

Karena kombinasi antara ketertarikan masyarakat terhadap isu eskatologi (akhir zaman) dan empati terhadap penderitaan rakyat Palestina. Namun banyak konten viral yang tidak disertai rujukan ilmiah atau tafsir ulama terpercaya.


7. Apa sikap umat Islam seharusnya terhadap isu ini?

Umat Islam sebaiknya:

  • Menyaring informasi agama dari sumber terpercaya,

  • Menghindari penyebaran narasi apokaliptik tanpa dasar,

  • Mendukung perjuangan kemanusiaan di Palestina secara rasional dan penuh empati.


8. Bagaimana cara mengetahui apakah suatu hadis sahih atau tidak?

Gunakan sumber hadis yang diakui seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, atau kitab Sunan. Selain itu, bisa merujuk ke penjelasan ulama ahli hadis seperti Imam Nawawi, Ibn Hajar al-Asqalani, dan ulama kontemporer.


9. Apakah umat Islam perlu takut dengan tanda-tanda kiamat?

Tidak perlu takut, tapi harus waspada dan memperbanyak amal saleh. Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar umat tetap berbuat baik meski kiamat sudah di ambang mata.


10. Apa pesan utama dari artikel ini?

Bahwa hubungan antara kemerdekaan Palestina dan kiamat tidak memiliki dasar kuat dalam hadis sahih. Umat Islam hendaknya tidak mudah terprovokasi oleh narasi menyesatkan, melainkan fokus pada pembelaan terhadap keadilan dan kemanusiaan sesuai ajaran Islam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.