Akurat Logo

DPR Dihuni 8 Fraksi Adu Kuat Oposisi

Roni Anggara | 16 Februari 2024, 16:25 WIB
DPR Dihuni 8 Fraksi Adu Kuat Oposisi



AKURAT.CO Hasil Pemilu 2024 potensi memengaruhi jumlah fraksi di DPR. Mencermati dinamika hasil hitung cepat lembaga survei maupun penghitungan sementara KPU, terbuka kemungkinan komposisi partai di parlemen tak mengalami perubahan signifikan, kecuali terpentalnya PPP dari Senayan.

Peneliti Formappi Lucius Karus menilai, kalau jumlah fraksi dari sembilan menjadi delapan, maka bukan tidak mungkin dinamika pemerintahan ke depan berlangsung seru, dalam konteks setiap pengambilan keputusan di DPR. Asalkan, terdapat empat partai oposisi.

"DPR akan dinamis kalau terdapat komposisi empat partai pendukung pemerintah, diimbangi empat partai oposisi," kata Lucius, di Jakarta, Jumat (16/2/2024).

Baca Juga: Oposisi Berebut Masuk Putaran Kedua, Siapa Lawan Prabowo-Gibran?

Hasil hitung cepat Litbang Kompas, maupun lembaga survei lainnya memberi gambaran DPR ke depan bakal diisi penghuni lama periode 2019-2024 minus PPP. Golkar, Gerindra, Demokrat dan PAN masuk barisan capres-cawapres nomor urut 2, Prabowo-Gibran yang unggul versi hitung cepat.

Sedangkan Nasdem, PKB dan PKS masuk barisan paslon capres-cawapres nomor urut 1, Anies-Muhaimin yang terbenam versi hitung cepat, dengan konklusi pilpres berakhir dalam satu putaran. PDIP yang mengusung Ganjar-Mahfud unggul pada pileg versi hitung cepat, telah memberi sinyal bakal berada di luar pemerintahan.

Baca Juga: Ditinggal Jokowi, PDIP Mulai Oposisi

Lucius menyebut, empat partai yang kalah pada pilpres bisa menjadi oposisi. Sekalipun banyak pihak masih menunggu hasil penghitungan resmi KPU, kalau benar terjadi adanya keseimbangan jumlah partai pendukung pemerintah dengan yang kontra, hal itu tak membawa dampak buruk bagi demokrasi.

"Kalau DPR periode sekarang kan mayoritas dari parpol pendukung pemerintah, kita bisa lihat hasilnya dalam setiap pengambilan keputusan seperti apa. Kalau terjadi keseimbangan ada empat fraksi oposisi, pengambilan keputusan butuh argumentasi dan lobi-lobi yang tak mudah," ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.