Akurat Logo

Mengenal Dandhy Dwi Laksono, Sosok Idealis di Balik Film Dirty Vote

Iwan Gunawan | 12 Februari 2024, 10:17 WIB
Mengenal Dandhy Dwi Laksono, Sosok Idealis di Balik Film Dirty Vote

AKURAT.CO Film dokumenter berjudul Dirty Vote dengan durasi 1 jam 57 menit, ramai jadi perbincangan setelah penanyangannya di YouTube PSHK Indonesia pada masa tenang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, Minggu (11/2/2024). Bahkan film dokumenter ini berhasil mencapai 2,2 juta penonton setelah 20 jam ditayangkan.

Dirty Vote menjadi kali keempat film dokumenter buatan Dandhy Dwi Laksono. Pada tahun 2014 melalui produksi WatchDoc, Dandhy meluncurkan film dokumenter bertajuk "Yang Ketu7uh" saat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Kemudian tahun 2017, Dandhy menjadi sutradara dari film "Jakarta Unfair" jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta.

Baca Juga: Trending di X! Ini Link Nonton Dirty Vote, Film Dokumenter yang Bongkar Sisi Gelap Pemilu 2024

Tak berhenti di situ, Dandhy kembali merili film "Sexy Killers" tahun 2019 bertepatan dengan masa tenang Pemilu 2019. Dengan mengangkat isu jaringan oligarki pengusaha batu bara beserta elite politik, film dokumenter ini sukses menyita perhatian publik hingga ditonton sebanyak 21 juta kali.

Melansir dari berbagai sumber, Dandhy Dwi Laksono dikenal sebagai seorang jurnalis dengan produk jurnalistiknya seperti buku hingga film dokumenter dengan pendekatan jurnalisme investigasi.

Pria kelahiran 29 Juni 1976, Lumanjang, Jawa Timur ini dikenal sebagai sosok idealis yang cukup kritis melalui karyanya. Keberaniannya dalam bersuara membuat Dandhy sering mendapatkan ancaman dari berbagai pihak. Salah satunya ancaman tersebut sampai pada keluarganya yakni istrinya dipotret oleh orang tidak dikenal.

Sebagai aktivis, Dandhy pernah ditangkap Polda Metro Jaya tahun 2019 dengan tuduhan ujaran kebencian dan diduga melanggar Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Hal ini terjadi karena Dandhy mengunggah cuitan mengenai peristiwa di Papua dan Wamena pada September 2019.

Lulusan S1 Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran ini juga memiliki banyak pengalaman di media yang tidak dapat diragukan lagi.

Baca Juga: Minta Masyarakat Tenang, TKN Prabowo-Gibran Sebut Film Dirty Vote Berisi Fitnah

Dandhy memulai perjalanan di media sebagai reporter di tabloid dan majalah Warta Ekonomi, kemudian sebagai editor PAS FM Radio, AHA Digital Lifestyle Magazine hingga turun langsung ke media televisi, seperti Liputan 6, SCTV, RCTI dan lainnya sampai 2009. Dandhy terakhir menjabat sebagai Editorial Consultant First Media News hingga tahun 2011.

Dia juga aktif melakukan perjalanan ke pedalaman yang disebut Ekspedisi Biru menggunakan motor untuk mengulik isu energi, ekonomi mikro, kearifan lokal dan sosial budaya. Melalui perjalanan tersebut, Dandhy menuangkannya ke dalam film dokumenter pendek dengan isu lokal namun cukup sensitif dan cakupan nasional yang jarang berani diekspos oleh media secara mendalam.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.