Akurat Logo

Prabowo-Gibran Bakal Rangkul Lawan, Pengamat: Itu Bagus Tapi Rekonsiliasi Politik Tidak Selalu Berdampak Baik

Dwana Muhfaqdilla | 22 Februari 2024, 12:55 WIB
Prabowo-Gibran Bakal Rangkul Lawan, Pengamat: Itu Bagus Tapi Rekonsiliasi Politik Tidak Selalu Berdampak Baik

AKURAT.CO Pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, mengungkapkan bahwa mereka akan merangkul lawan politiknya.

Hal ini semakin digaungkan ketika mereka unggul jauh dari kedua pesaingnya, berdasarkan hasil quick count berbagai lembaga survei.

Pengamat Politik, Karyono Wibowo, menilai bahwa rekonsiliasi dalam dunia politik, tidak selalu berdampak baik.

Baca Juga: Tren Perawatan Pemurnian Darah di China Klaim Bikin Panjang Umur, Benarkah?

"Rekonsiliasi itu sesuatu hal yang baik ya, itu positif. Nah, tetapi rekonsiliasi yang sekadar hanya untuk memperkuat posisi eksekutif itu bisa menimbulkan dampak negatif, bisa menimbulkan mudarat," kata Karyono kepada Akurat.co, Kamis (22/2/2024).

Karyono mengungkapkan, bahwa dalam suatu kekuasaan, perlu adanya oposisi. Hal ini untuk menjadi penyeimbang dalam pemerintahan yang berkuasa.

"Kalau menurut saya, perlu ada oposisi ya, (agar) ada check and balance. Pemerintahan yang tanpa oposisi itu akan cenderung korup, akan cenderung otoriter, akan cenderung melakukan abuse of power," tambah Direktur Eksekutif Public Institute (IPI) ini.

Baca Juga: Apa yang Dilakukan oleh Rakyat Kalimantan dalam Menyambut Proklamasi Kemerdekaan?

Karena hal ini, ia berkeinginan para lawan politik Prabowo-Gibran tetap berada di garis oposisi pada saat Prabowo-Gibran memenangkan kontestasi Pilpres 2024.

"Saya lebih mendorong bagaimana PDI-P, PKB, Nasdem, PKS, itu lebih memilih oposisi untuk melakukan kontrol terhadap pemerintah supaya ada check and balance," tuturnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.