Kunci Jawaban: Sikap Licik Belanda dalam Perundingan dengan Pangeran Diponegoro

AKURAT.CO Sikap Belanda dalam perundingan dengan Pangeran Diponegoro adalah contoh nyata dari intrik dan pengkhianatan kolonial.
Mereka menggunakan taktik licik dan manipulasi untuk menjebak Pangeran Diponegoro, alih-alih melakukan perundingan yang jujur.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana Belanda rela melanggar janji demi mencapai tujuan penjajahannya.
Taktik Penjebakan Melalui Perundingan
Belanda tidak menyerang Pangeran Diponegoro secara langsung, melainkan menggunakan taktik baru dengan menjebaknya melalui perundingan.
Jenderal De Kock mengutus Letkol Cleerens untuk menemui Pangeran Diponegoro di Desa Crema dan mengajaknya berunding di Magelang.
Dalam pertemuan awal antara Letkol Cleerens dan Pangeran Diponegoro, disepakati bahwa Pangeran Diponegoro dan pengikutnya tidak akan ditangkap jika perundingan gagal.
Manipulasi dan Pengkhianatan
Pangeran Diponegoro tiba di Magelang pada tanggal 18 Maret 1830, bertepatan dengan bulan Ramadhan dan disambut dengan upacara militer oleh Jenderal De Kock.
Pangeran Diponegoro ditemani oleh beberapa pengikutnya, termasuk Pangeran Diponegoro Muda (Dipokusumo), Raden Mas Jonet, Raden Mas Roub, Raden Basah Mertonegoro, dan Kyai Badarudin.
Pangeran Diponegoro mengusulkan agar perundingan diundur setelah Idul Fitri (27 Maret 1830), yang kemudian disetujui untuk dilaksanakan pada tanggal 28 Maret 1830.
Namun, pada tanggal 25 Maret 1830, Jenderal De Kock mengirim surat kepada Letnan Du Perro untuk menyiapkan pasukan guna mengepung tempat perundingan.
Pasukan diperintahkan untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya jika perundingan gagal.
Kegagalan Perundingan dan Penangkapan
Pada tanggal 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya, termasuk Pangeran Diponegoro Muda (Dipokusumo), Raden Mas Jonet, Raden Mas Roub, Raden Basah Mertonegoro, dan Kyai Badarudin, mengadakan perundingan dengan Jenderal De Kock.
Jenderal De Kock didampingi oleh Residen Valck, Letnan Roest, Mayor de Stuers, dan Kapten Roefs sebagai juru bahasa.
Dalam perundingan tersebut, Pangeran Diponegoro menuntut agar didirikan negara merdeka yang bersih dari penjajahan dan bersendikan agama Islam. Tuntutan ini tidak disetujui oleh Jenderal De Kock, yang menyebabkan perundingan gagal. Pasukan yang telah disiapkan sebelumnya kemudian diperintahkan untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan pengikutnya.
Pengasingan Pangeran Diponegoro
Setelah penangkapannya, Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado pada 3 Mei 1830.
Pada tahun 1834, ia dipindahkan ke Ujung Pandang, tempat ia wafat pada tanggal 8 Januari 1855.
Sikap licik Belanda ini tergambar jelas dalam penangkapan Pangeran Diponegoro dan pengasingannya ke Makassar, Sulawesi Selatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK








