Akurat

Pentingnya Mengajarkan Anak Mengendalikan Emosi Sejak Usia Dini

Eko Krisyanto | 15 Januari 2026, 00:00 WIB
Pentingnya Mengajarkan Anak Mengendalikan Emosi Sejak Usia Dini

AKURAT.CO Mengajarkan anak mengendalikan emosi sejak usia dini menjadi langkah penting dalam membentuk karakter yang matang dan mampu menghadapi tekanan kehidupan.

Para ahli psikologi perkembangan menilai bahwa kemampuan regulasi emosi bukanlah bawaan lahir, melainkan keterampilan yang perlu dilatih melalui interaksi, pembiasaan, dan bimbingan orang tua.

Kemampuan ini juga berpengaruh besar terhadap prestasi akademik, kualitas hubungan sosial, serta kesehatan mental anak di masa depan.

Kemampuan mengelola emosi mulai berkembang ketika anak mampu mengenali perasaannya sendiri. Pada masa balita, anak cenderung mengekspresikan emosi secara spontan karena belum memahami cara menyalurkan perasaan dengan tepat.

Kondisi ini sering membuat orang tua kewalahan, terutama saat anak mengalami tantrum, marah, atau menangis tanpa alasan yang jelas.

Dengan pendampingan yang konsisten, anak perlahan belajar mengenali apa yang ia rasakan dan bagaimana meresponsnya secara lebih sehat.

Langkah awal yang dapat dilakukan orang tua adalah mengenalkan berbagai jenis emosi kepada anak.

Penggunaan bahasa sederhana seperti senang, sedih, marah, kecewa, atau takut akan membantu anak memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Baca Juga: Cara Mengambil Antrian Online BPJS Kesehatan Lewat Aplikasi Mobile JKN

Pengenalan emosi ini dapat diperkuat melalui buku cerita, permainan peran, maupun contoh situasi sehari-hari yang dekat dengan pengalaman anak. Proses tersebut membantu anak memahami bahwa setiap emosi adalah hal yang wajar.

Tahap berikutnya adalah melatih anak mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat. Ketika anak sedang marah atau kecewa, orang tua dianjurkan untuk memberi contoh respons yang tenang dan tidak reaktif.

Sikap ini membantu anak merasa aman serta belajar bahwa emosi dapat disampaikan tanpa ledakan amarah.

Kalimat sederhana seperti, “Kamu terlihat kesal, boleh ceritakan apa yang membuatmu merasa begitu?” dapat membuat anak merasa dipahami dan lebih terbuka.

Orang tua juga dapat mengajarkan teknik relaksasi sederhana untuk membantu anak menenangkan diri.

Latihan pernapasan, berhitung perlahan, atau memberi waktu jeda sejenak dapat membantu menurunkan ketegangan saat emosi memuncak.

Teknik ini umumnya mudah diterapkan pada anak usia prasekolah hingga sekolah dasar, dan dapat menjadi kebiasaan positif dalam menghadapi situasi yang menimbulkan frustrasi.

Konsistensi orang tua memegang peran penting dalam proses pembelajaran emosi. Anak perlu mendapatkan aturan yang jelas mengenai perilaku yang dapat diterima dan yang tidak.

Di sisi lain, orang tua juga dianjurkan memberikan apresiasi ketika anak berhasil mengendalikan emosinya.

Dukungan positif berupa pujian, pelukan, atau perhatian sederhana dapat meningkatkan rasa percaya diri anak dan mendorongnya mengulang perilaku baik tersebut.

Lingkungan keluarga yang suportif juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosional anak.

Kebiasaan berdiskusi mengenai perasaan, seperti berbincang sebelum tidur, berbagi cerita setelah pulang sekolah, atau membahas pengalaman harian, dapat membantu anak terbiasa mengekspresikan emosi secara sehat.

Baca Juga: Disk Usage 100 Persen di Windows Bikin Laptop Lemot? Ini Cara Mengatasinya

Lingkungan yang komunikatif membuat anak merasa aman untuk bercerita dan tidak menahan perasaannya sendiri.

Mengajarkan anak mengendalikan emosi memang bukan proses yang instan. Dibutuhkan waktu, kesabaran, dan komitmen dari orang tua untuk mendampingi anak di setiap tahap tumbuh kembangnya.

Meski demikian, keterampilan ini merupakan bekal penting bagi anak dalam menghadapi kehidupan.

Kemampuan mengelola emosi tidak hanya membuat anak lebih percaya diri, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, empatik, dan mampu membangun hubungan sosial yang harmonis.

Laporan: Novi Karyanti/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.