Akurat

Cara Ajarkan Anak Berbisnis sejak Usia Dini: Panduan Lengkap

Naufal Lanten | 15 Agustus 2025, 02:01 WIB
Cara Ajarkan Anak Berbisnis sejak Usia Dini: Panduan Lengkap

AKURAT.CO Banyak orang tua menganggap bisnis sejak kecil itu terlalu dini, bahkan terkesan memaksakan anak. Padahal, menurut sejumlah penelitian internasional, pengalaman bisnis di usia muda justru dapat menjadi latihan keterampilan hidup yang sangat penting.

Bukan berarti anak harus mengejar omzet atau target besar. Fokusnya adalah membentuk:

  • Fungsi eksekutif: kemampuan mengatur diri, fokus, membuat rencana, dan mengeksekusi.

  • Kebiasaan uang yang sehat: menabung, membandingkan harga, mengatur pengeluaran.

  • Pengambilan keputusan: memilih berdasarkan data, bukan impuls.

  • Empati pelanggan & etika: memahami kebutuhan orang lain dan bertindak dengan integritas.

Semua keterampilan ini akan terbentuk optimal melalui pengalaman kecil yang berulang, bukan teori semata.


Bukti Ilmiah: Kenapa Bisnis Sejak Dini Masuk Akal

  1. Fungsi eksekutif berkembang pesat di masa kanak-kanak
    Menurut Center on the Developing Child – Harvard University, masa kanak-kanak adalah periode emas untuk mengembangkan keterampilan mengatur diri, fokus, dan membuat rencana. Aktivitas seperti permainan terstruktur dan role play terbukti memperkuat fungsi eksekutif—fondasi penting dalam pengambilan keputusan bisnis.

  2. Literasi finansial terbentuk sejak prasekolah
    Riset Consumer Financial Protection Bureau (CFPB) mengungkap tiga building blocks literasi finansial: fungsi eksekutif, kebiasaan/norma uang, serta keterampilan mengambil keputusan. Ketiganya mulai muncul sejak usia prasekolah hingga remaja. Latihan kebiasaan dan pengalaman nyata jauh lebih efektif dibanding hanya belajar teori.

  3. Experiential learning mempermudah transfer keterampilan
    Berdasarkan Kolb’s Experiential Learning Theory, siklus belajar “coba → refleksi → konsep → uji lagi” memudahkan anak menerapkan keterampilan di situasi nyata seperti menentukan harga, tawar-menawar, atau memberi layanan terbaik.

  4. Pendidikan kewirausahaan berdampak positif jika kontekstual
    OECD melalui program Entrepreneurship360 menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan yang kontekstual, kolaboratif, dan berbasis praktik meningkatkan sikap, niat, dan keterampilan berwirausaha pada anak dan remaja.

  5. Kebiasaan finansial memengaruhi perilaku dewasa
    Data PISA OECD menunjukkan bahwa remaja dengan literasi finansial tinggi lebih rajin menabung dan membandingkan harga sebelum membeli. Kebiasaan ini biasanya terbentuk sejak kecil.


Kurikulum Bisnis Anak di Rumah (Berbasis Usia)

Menerapkan bisnis untuk anak harus aman, menyenangkan, dan sesuai perkembangan usia. Berikut kurikulum praktis yang dapat diterapkan di rumah:

Usia 3–5 tahun (Prasekolah): Main Peran & Kebiasaan Dasar

Fokus: kontrol diri, bergiliran, menunggu, memilih; mengenal konsep nilai/pertukaran.

  • Main “toko-tokohan” dengan harga sederhana (mis. 1 koin = 1 barang). Latih antre, memberi ucapan terima kasih.

  • Gunakan 3 toples “Simpan–Belanja–Berbagi” untuk mengatur uang koin mingguan.

Usia 6–8 tahun (Awal SD): Tugas Berbayar & Proyek Mikro

Fokus: kebiasaan uang + numerasi dasar + pengalaman sederhana.

  • Beri uang saku terstruktur (mingguan) dan catat di jurnal sederhana “Masuk/Keluar”.

  • Proyek mikro 2–3 jam, misalnya jual es lilin buatan rumah ke keluarga/tetangga; catat modal, target, harga, dan sisa uang.

Usia 9–12 tahun (Akhir SD): “Mini-startup” Keluarga

Fokus: biaya-harga-laba, pelayanan pelanggan, pencatatan.

  • Gunakan kanvas bisnis 1 halaman.

  • Buku kas sederhana + stok barang.

  • Proyek 4–6 minggu seperti budi daya tanaman mini, sabun handmade, atau komik digital. Lakukan refleksi mingguan ala siklus Kolb.

Usia 13–15 tahun (SMP): Skala Kecil & Tanggung Jawab Lebih

Fokus: riset pasar mini, pemasaran etis, laporan sederhana, evaluasi kegagalan.

  • Riset 5 calon pelanggan tentang kebutuhan/harga.

  • Kelola kanal penjualan (offline atau online dengan pengawasan orang tua).

  • Laporan laba-rugi bulanan + refleksi perbaikan.

  • Proyek bernilai sosial agar anak memahami nilai di luar uang.


12 Langkah Mengajarkan Bisnis Anak (Berbasis Riset)

  1. Tetapkan tujuan belajar, bukan omzet (mengacu EntreComp).

  2. Rancang siklus pengalaman → refleksi → perbaikan (Kolb).

  3. Latih fungsi eksekutif lewat permainan dan tugas bisnis kecil (Harvard).

  4. Bangun kebiasaan uang (CFPB Building Blocks).

  5. Orang tua jadi model finansial (Data PISA OECD).

  6. Ukur kemajuan dengan indikator usia-spesifik (CFPB Measurement Guide).

  7. Gunakan proyek lintas mata pelajaran (matematika, bahasa, IPA) (OECD E360).

  8. Tumbuhkan growth mindset (Stanford PERTS).

  9. Ajarkan etika & hak anak (UNICEF).

  10. Literasi digital aman (Common Sense Media).

  11. Libatkan komunitas/mentor (OECD Schooling Redesigned).

  12. Rayakan proses lewat “demo day” keluarga.


Contoh Proyek Bisnis Anak

  • Usia 6–8: “Toko Camilan Sehat Keluarga” – Modal Rp30.000, target 10 porsi, harga Rp5.000/porsi, catat masuk-keluar, bagi laba ke 3 toples.

  • Usia 9–12: “Studio Kartu Ucapan” – Riset 5 calon pembeli, hitung biaya per kartu, uji 2 desain, survei kepuasan, revisi harga.

  • Usia 13–15: “Jasa Foto Produk Tetangga” – Sewa alat keluarga, buat paket harga, portofolio kecil, kontrak sederhana, laporan bulanan.


Cara Menilai Kemajuan Anak

Menurut CFPB, penilaian bisnis anak bisa dilakukan lewat:

  • Fungsi eksekutif: menunggu giliran, menyelesaikan pesanan, merencanakan langkah berikut.

  • Kebiasaan uang: konsisten menabung sebagian, mencatat transaksi, membandingkan harga.

  • Pengetahuan & keputusan: paham beda pendapatan, biaya, laba; mampu menjelaskan alasan memilih pemasok.


Etika dan Keselamatan

  • Prioritaskan belajar & keselamatan (UNICEF Children’s Rights and Business Principles).

  • Privasi digital aman (Common Sense Media).

  • Patuhi aturan lokal terkait izin usaha rumahan & batas usia transaksi.


Kesimpulan:
Bisnis sejak dini, jika dilakukan dengan pendekatan yang aman, menyenangkan, dan berbasis riset, bisa membentuk keterampilan hidup yang bertahan hingga dewasa. Sumber-sumber seperti Harvard, OECD, CFPB, Kolb, dan UNICEF sepakat: pengalaman kecil di masa kanak-kanak dapat memberi dampak besar pada masa depan finansial dan pribadi anak.

Baca Juga: Veronica Tan: Tantangan Didik Anak Kini Lebih Berat di Tengah Gempuran Dunia Digital

Baca Juga: 5 Pengaruh Sosok Ayah terhadap Anak Perempuan, Yuk Pahami Sebelum Terlambat!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.