Berikut Kondisi-Kondisi yang Membuat Kita Perlu Memodifikasi Modul Ajar Kecuali? Simak Jawaban Berikut!

AKURAT.CO Pada materi kali ini, kita akan belajar mengenai memodifikasi modul ajar yang sesuai dengan kebutuhan murid kita.
Dalam kesempatan ini akan menggunakan mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Jejak sebagai contoh.
Seperti yang disampaikan pada materi sebelumnya, untuk merancang kegiatan, kita perlu mengacu kepada profil pelajar Pancasila, ATP 3 karakter, dan elemen dari mata pelajaran masing-masing.
Ibu Fine adalah guru kelas 8 SMP, ia bersama rekannya bertanggung jawab untuk membuat modul ajar Bahasa Indonesia.
Modul ini juga akan dipakai oleh salah satu dalam kelompoknya sebagai inspirasi.
Ibu Vivin memilih modul ajar yang dikembangkan dari Kemdikbud Ristek dan TIK from Guru Berbagi untuk dimodifikasi.
Modifikasi ini dilakukan berdasarkan kebutuhan dan kondisi muridnya, serta sarana dan prasarana sekolah.
Ia sedang menyusun modul ajar mengenai teks argumentasi. Model belajarnya adalah luring. Apa saja yang dipelajari saat memilih model ajar?
Umumnya, pada modul ajar yang tersedia, komponennya sudah cukup lengkap. Ia cukup mempelajari dulu modul ajar tersebut secara keseluruhan, kemudian melihat kembali ATV yang sudah disusunnya.
Apa saja yang bisa dipelajari? Satu kelebihan atau hal yang dapat diaplikasikan dari modul ajar tersebut adalah tujuan pembelajaran dan produk akhir yang selaras dengan perencanaannya.
Kegiatan dirancang dalam metode diskusi dan proyek ini bisa menjadi penguatan untuk sikap dan profil pelajar Pancasila.
Materi pembelajaran juga sesuai dengan misi sekolahnya untuk menumbuhkan dan meningkatkan budaya literasi.
Metode pembuatan kerangka teks argumentasi yang disajikan dapat menggali pemikiran kritis dari muridnya.
Tersedia assessment diagnostik yang juga bisa dipastikan ada kegiatan interaktif yang akan menarik minat muridnya.
Baca Juga: Apa yang Menjadi Pertimbangan Ibu dan Bapak dalam Menentukan Kenaikan Kelas Selama Ini?
Kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran bisa digunakan untuk kondisi muridnya, dan terdapat kegiatan tambahan bagi murid yang belum mencapai kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran.
Dua bagian dari modul ajar yang tidak dapat diaplikasikan. Ia menemukan beberapa kendala terkait durasi serta sarana dan prasarana. Model pembelajarannya daring, sedangkan ia berencana untuk kegiatan luring.
Tidak tersedia fasilitas multimedia untuk mendukung kegiatan di sekolahnya. Durasi waktu pertemuan berbeda dengan durasi di sekolahnya. Sumber belajar yang berupa media internet tidak bisa digunakan.
Dari kendala tersebut, kemudian Ibu Fine mempertimbangkan apakah modul ajar ini dapat digunakan atau tidak.
Ternyata, dengan beberapa modifikasi, modul ajar tetap bisa digunakan sebagai referensi. Kegiatan darinya pun bisa disesuaikan untuk rela sore.
Sekarang kita akan melihat bagaimana Ibu Fine memodifikasi agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan muridnya.
Untuk menyesuaikan durasi belajar, Ia memodifikasi beberapa kegiatan, seperti menggunakan Sticky Notes untuk menyampaikan hasil diskusi agar pemaparan hasil diskusi dapat lebih singkat.
Beberapa kegiatan yang menjadi kelihatan mandiri murid, penyesuaian jumlah anggota kelompok, mengalihkan beberapa pemaparan guru ke dalam bentuk mediatex sehingga dapat dibaca langsung oleh murid.
Mirip seperti kita pelajari saat membahas materi media belajar. Beberapa kendala terkait sarana dan prasarana belajar bisa diatasi dengan memodifikasi terkait konten isi modul ajar.
Bisa dilihat dari dua sudut pandang, yaitu guru sebagai pengguna dan mengaplikasikan modul ajar, dan murid sebagai pihak yang mengikuti kegiatan.
Dari sudut pandang guru, rancangan kegiatan asesmen pertemuan dibuat lebih rinci agar dipahami oleh rekan-rekannya. Glue diarahkan untuk menggunakan isu yang relevan di sekolah untuk latihan membuat teks argumentasi.
Dari sudut pandang murid, penyesuaian pertanyaan refleksi sesuai dengan muridnya setelah menentukan alternatif dari semua kendala yang ditemukannya. Ibu Fine tinggal menyusun ulang modul aja tersebut menjadi modul ajar yang dapat digunakan ulang.
Sekian hasil modifikasi modul ajar yang dilakukan Ibu Fine. Kali ini Bapak/Ibu guru bisa melihat pertanyaan dari refleksi diatas.
Pertanyaan:
Merancang modul ajar sebenarnya adalah proses kita merancang kegiatan belajar. Hal-hal yang perlu ditentukan saat merancang modul ajar adalah:
-
Rincian kegiatan belajar
-
Bahan ajar yang diperlukan murid
-
Dimensi profil pelajar pancasila yang akan ditumbuhkan
-
Semua benar
Pertanyaan:
Berikut kondisi-kondisi yang membuat kita perlu memodifikasi modul ajar, kecuali
-
Sarana dan prasarana yang disarankan tidak tersedia
-
Kemampuan dan karakteristik murid yang berbeda
-
Capaian pembelajaran yang berbeda
-
Kondisi lingkungan sekolah yang berbeda
Tanya : Menurut Ibu dan Bapak guru, pembelajaran yang membosankan itu yang seperti apa?
Jawab : Belajar teori selama 2-3 jam pelajaran dan mencatat saat guru tidak datang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini





