Mulai Sekarang, Jangan Percaya Buku Parenting!

AKURAT.CO, Kamu sedang butuh nasihat tentang parenting? Saran terbaiknya adalah buang semua buku tentang parenting. Kok bisa? Buku parenting hanya berisi sains yang buruk dan asumsi tentang budaya, kesehatan, dan kebutuhan dasar. Ingat, nasihat terbaik tentang parenting tidak selalu terdapat di buku.
Terus, apa yang dilakukan ayah dan bunda tanpa buku parenting? Yang perlu diketahui bahwa buku parenting hanya berisi teknik. AkuratParenting melansir CBA News pada Jumad, (4/1), berikut merupakan penjelasan kenapa kamu tidak memerlukan buku parenting.
Sederhanakan saja!
Orangtua tidak mengetahui segalanya. Banyak orang menyerah dan ingin mengetahui banyak hal. Akhirnya, mereka membeli banyak buku tentang parenting. Mereka beranggapan dengan buku bisa mendapatkan konsep tentang parenting yang terbaik. Akhirnya, banyak orangtua pun menjadi gila.
Parenting di dalam buku itu terlalu saintifik. Banyak orangtua tidak memahaminya. Terkadang, buku parenting juga terlalu populer. Akibatnya orangtua terombang-ambing tak jelas.
Misalnya, bagaimana anak bisa tidur dengan nyenyak di malam hari. Satu teori meminta agar anak menangis puas dahulu sehingga bisa tidur nyenyak. Tapi, saran lain menyarankan mungkin bayi lapar, kedinginan atau sakit. Bagaimana ayah dan bunda bersikap?
Jangan terpatok pada budaya tertentu
Ada kelompok orang yang menyarankan agar orangtua tidak boleh mengatakan kata “tidak” dan “jangan” kepada anaknya yang masih kecil. Meskipun anaknya melakukan kesalahan besar. Orang tua tidak boleh mengatakan hal tersebut. Namun, kondisi itu sangat tergantung dengan budaya keluarga tersebut.
Ketika anak berkelahi dengan kakak atau adiknya, reaksi ayah bunda juga sebaiknya menahan amarah. Coba praktikkan ayah dan bunda dengan mengambil nafas yang dalam sebelum berbicara pelan-pelan dengan sang anak. Nada suaranya pun harus terlihat normal. Tidak boleh naik.
Anak memiliki karakter yang berbeda
Ada kisah orangtua tunggal yang mengikuti kursus parenting. Dalam setiap sesinya, instruktur memberikan banyak tips dan ide. Tapi, ternyata itu hanya berlaku untuk anak tertentu saja dan tidak bisa diterapkan ke anaknya. Sebagian buku parenting ditulis oleh pakar. Tapi saran tersebut tidak berlaku untuk semua orang.
Asumsi waktu, uang, dan keahlian
Buku parenting berisi banyak asumsi. Dibutuhkan keahlian untuk mengimplementasikan asumsi tersebut. Hal terpenting adalah bagaimana ayah dan bunda bisa menikmati parenting dan bagaimana menikmati keberuntungan memiliki anak. Syukur itulah yang harus diutamakan.
Kebanyakan buku parenting hanya fokus pada implementasi saran. Mereka mengabaikan bagaimana orangtua menguntung dari nasihat tersebut. Padahal, ayah dan bunda merefleksikan bagaimana keajaiban anak dan keluarga.
Kenapa tidak perlu buku parenting? Karena keluarga itu hidup dalam kelompok yang bergenerasi. Ada kakek dan nenek, ada bibi dan paman. Ada komunitas yang mendukung. Ada tetangga yang siap membantu.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





