Perhatian! Ini Penyebab Buruknya Gizi Anak

AKURAT.CO, Kondisi gizi yang buruk tak selalu terlihat kasat mata. Seringkali kenyataannya anak-anak yang memiliki napsu makan yang tinggi pun mengalami gizi yang buruk.
Anak bergizi adalah yang memiliki kandungan gizi yang seimbang di tubuhnya. Dan semua orangtua setuju, menjaga gizi seimbang pada tubuh anak tak semudah memberi mereka makan. Tak sedikit pula orangtua kebablasan memberi makan anak sehingga mereka mengalami kelebihan gizi sehingga mengalami obesitas.
“Jadi memang anak-anak, terutama yang gemuk-gemuk, yang kelebihan berat badan, ini karena banyak mengonsumsi makanan yang tinggi energi. Kemudian juga banyak mengonsumsi lemak, gula, garam, pola jajan yang tidak sehat,” papar Sekretaris Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB, Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MS saat ditemui dalam kegiatan wokrshop Program Warung Anak Sehat di The Akmani Hotel, Jakarta Pusat, Rabu (25/10).
Untuk mengetahui penyebab-penyebab buruknya gizi anak, berikut yang disampaikan Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MS.
Kurangnya mengonsumsi sayur dan buah
Sudah bisa dipastikan bahwa di sekolah anak-anak jarang mengonsumsi buah dan sayuran. Biasanya orangtua khawatir membekali buah yang nantinya sudah tidak segar dan lezat saat dikonsumsi. Atau bisa jadi sekolah-sekolah jarang menjual buah-buah botol atau makanan yang mengandung sayuran.
Jajanan yang tak sehat
Semua anak-anak pasti memiliki keinginan jajan yang tinggi. Mereka makan untuk memenuhi rasa lapar atau bahkan rasa ingin mencicipi karena tertarik dengan warna atau rasa yang kuat. Sementara kebersihan dan keamanan bahan yang terkandung tidak diperhatikan dengan baik.
Tidak sarapan
Semua orang tahu bahwa sarapan merupakan bagian yang penting dalam memulai hari. Tapi pada kenyataannya, sekitar 40 persen anak sekolah tidak mengonsumsi sarapan. Biasanya mereka dibekali uang oleh orangtuanya untuk membeli sarapan di sekolah. Sementara sebagaimana yang diketahui, anak-anak tak memperhatikan apa yang dikonsumsi.
Sarapan dengan kualitas kurang baik
Sekitar 44 persen anak-anak mengonsumsi sarapan namun dengan kualitas yang kurang baik. Kualitas kurang baik di sini maksudnya komponen makanan yang dikonsumsi tidak mengandung gizi yang seimbang.
“Misalnya gini, nasi kemudian lauknya kalo ada telor masih lumayan, tapi kalo misalnya nasi dengan mie, atau nasi dengan bihun begitu, itu kan sama-sama karbohidratnya ya. Atau sekedar nasi dengan tahu, sebetulnya ini bagus, tahu (itu) protein, tapi kurang lengkap karena tidak ada sayur, tidak ada protein hewaninya, seperti itu,” papar Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MS.
Lingkungan
Anak-anak sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan sekolah terutama yang tidak sehat dan tidak higienis ini sangat berpengaruh kepada anak-anak. Menurut pemaparan Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MS, masih banyak sekolah yang tidak memiliki kantin. Mereka kebanyakan mengandalkan penjual-penjual lepas yang bebas berjualan apa saja.
Anak memilih makanan sendiri
Anak-anak sekolah cenderung sudah dapat memilih makanannya sendiri. Dan seringkali kita kalah dengan keinginan anak alih-alih ‘masih untung mereka mau makan’. Ini yang merupakan salah satu terbentuknya gizi buruk anak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





