Hidup Perempuan yang Melawan

STASIUN Bekasi Timur 27 April 2026, 10 menit memasuki pukul 9 malam. Sebuah tragedi kecelakaan kereta api dimana KA Argo Bromo menabrak KRL Commuter Line. Kecelakaan ini memakan korban nyawa sebanyak 16 orang dan luka-luka lebih dari 100 orang, semuanya perempuan dewasa.
Dari korban meninggal dunia ada seorang guru bernama Nurlaela, atau biasa dipanggil Bu Ela oleh para murid-muridnya. Beliau mengajar di SD Pejagan Pulogebang, Jakarta Timur, dan hari itu lembur karena harus menghadiri rapat anggaran dana BOS yang terpaksa di cut agar elite-elite politik tetap mendapatkan tunjangan yang dialokasikan dari pajak yang kita bayar. Sebuah perjuangan lahir batin untuk meneruskan cita-cita luhur kita semua, “mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Hampir tiap hari Nurlaela berangkat kerja setelah subuh dan sampai kerumah setelah waktu magrib menggunakan jasa KRL. Sebuah gambaran nyata perjuangan perempuan dari kelas pekerja di negeri ini. Tidak disangka Kereta yang setiap hari membawa Nurlaela pulang dan pergi mengajar kini menjadi kendaraan terakhirnya menghadap Sang Ilahi.
Diperlukan sebuah jiwa yang kuat dan semangat baja untuk dapat tiap hari menghadapi kerasnya kehidupan saat ini. Ada jutaan perempuan didunia ini yang sedang berjuang seperti Nurlaela. Berjuang banting tulang siang dan malam demi keluarganya, demi masa depan anak-anaknya, dan demi mimpi-mimpinya yang terkadang direnggut oleh tuntutan sistem ekonomi dan politik.
Dunia kita saat ini sedang sekarat, terombang-ambing di ambang krisis ekologi, perang geopolitik yang tak berkesudahan, dan matriks finansial yang siap meledak kapan saja. Umat manusia sedang mengalami overdosis energi hipermaskulin. Energi yang karakternya disimbolkan oleh penguasa seperti Trump, Putin dan Netanyahu.
Selama berabad-abad, sistem ekonomi dan politik global telah dibajak oleh sistem kapitalisme patriarki yang ekstraktif. Paradigma yang diagungkan oleh para oligarki dan institusi otoritas ini sangatlah maskulin. Taklukkan, keruk, eksploitasi, dan menangkan kompetisi dengan brutal dan dengan segala cara.
Kita mengukur kemajuan peradaban manusia dari angka-angka fiktif bernama PDB (Produk Domestik Bruto). Berlomba membangun gedung pencakar langit yang menyerupai simbol lingga yang menembus langit, dan mendesain rudal balistik yang lebih destruktif. Dalam kacamata kaum elite ini, bumi tidak lebih dari sekadar bongkahan batu mati. Sebuah mesin yang bisa diperkosa habis-habisan demi cadangan nikel, minyak, dan batu bara untuk melanggengkan kasino kekayaan mereka.
Bumi selalu direpresentasikan sebagai entitas feminin. Bangsa Yunani menyebutnya Gaia, sementara nenek moyang kita menghormatinya sebagai Ibu Pertiwi atau Dewi Sri. Alam adalah rahim raksasa yang bersifat reseptif, memelihara, dan regeneratif. Tetapi keserakahan era industrialisasi dan kolonialisme telah mengebiri kearifan feminin ini. Kita memaksa Ibu Pertiwi untuk terus berproduksi tanpa henti bagaikan mesin pabrik, menenggelamkan siklus istirahat dan pemulihannya ke dalam lautan pupuk kimia sintetik dan limbah beracun.
Di sinilah letak urgensi mengapa kita membutuhkan energi feminin untuk menyelamatkan dunia. Perlu dipahami, energi feminin tidak melulu berbicara tentang gender biologis. Ini adalah sebuah prinsip kosmik (Yin). Jika energi maskulin (Yang) membelah, menganalisis, dan bersaing, maka energi feminin menyatukan, mensintesis, dan berkolaborasi.
Di tengah sistem yang mencetak kita menjadi gladiator yang saling membunuh satu sama lain, mengadopsi energi feminin adalah sebuah bentuk pembangkangan sipil yang paling radikal. Mengedepankan empati di atas apati, memilih gotong-royong di atas kompetisi buas, dan merawat tanah daripada mengeksploitasinya adalah jalan pedang yang sesungguhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Prancis Terbuka: Ganda Putra Indonesia Menggila, Leo/Daniel dan Raymond/Joaquin Melesat ke Perempat Final
- 3Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 420 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 5Megawati Hangestri Dapat Julukan Baru dari Media Korea, Apa Artinya?
- 6Prediksi Skor Napoli vs Roma 24 Oktober 2026: Derby del Sole Diprediksi Sengit
- 7Real Madrid vs PSG: Jose Mourinho Senang dengan Wasit yang Pimpin Laga Malam Ini
- 8Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 9KPK Sita BMW Milik Richard Erlangga dalam Korupsi BNPB, Total Ada Empat Mobil
- 10KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot

