Wisata Halal sebagai Ruang Dialog Budaya

ARTIKEL ingin dimulai dari satu pertanyaan sederhana. Ketika kita mendengar istilah wisata halal, apa yang sebenarnya kita pahami? Apakah ini hanya strategi pasar untuk meraih wisatawan Muslim? Atau ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang bergerak di baliknya?
Banyak orang melihat wisata halal sebagai tren. Lalu industri membaca peluang. Populasi Muslim dunia besar. Kelas menengah Muslim tumbuh. Daya beli meningkat. Maka pasar merespons. Logika ini masuk akal. Tetapi kalau kita berhenti di sana, kita kehilangan dimensi sosial dan kultural yang jauh lebih penting.
Bagi saya, atau mungkin bagi sebagian kita, wisata halal adalah ekspresi kesadaran nilai. Umat Islam tidak meninggalkan imannya ketika ia bepergian. Ia membawa keyakinannya ke bandara, hotel, restoran, bahkan ke pantai. Ia tidak memisahkan antara ruang ibadah dan ruang wisata secara kaku.
Baca Juga: Makau Genjot Wisata Halal dan Ekspansi Pasar Asia Tenggara Lewat Mega Sale Jakarta
Di sinilah letak persoalannya. Modernitas mengajarkan pemisahan. Agama sering didorong masuk ke ruang privat. Tetapi realitas sosial menunjukkan hal yang berbeda. Nilai tetap bekerja di ruang publik.
Konsep halal sendiri sering disempitkan hanya pada makanan. Padahal dalam Islam, makna halal sudah meluas. Ia menjadi prinsip hidup. Karena halal itu menyangkut etika, batas, tanggung jawab, dan kesadaran spiritual.
Maka ketika seorang Muslim bertanya tentang restoran halal di luar negeri, ia sebenarnya sedang menjaga konsistensi nilai. Ketika ia mencari musala di pusat perbelanjaan, ia sedang menegaskan identitasnya secara wajar.
Bukan karena sok agamis, ego, atau hal pejoratif lainnya.
Bahkan jika dirasakan lebih jauh, perubahan menjadi terasa ketika mobilitas global meningkat. Wisatawan Muslim tidak lagi sedikit. Mereka hadir dalam jumlah besar. Mereka datang dari Indonesia, Malaysia, Timur Tengah, dan berbagai negara lain. Mereka membawa kebutuhan yang jelas.
Di sinilah industri tidak bisa menutup mata. Hotel mulai menyediakan penunjuk arah kiblat. Restoran mengurus sertifikasi halal. Bandara menyiapkan ruang salat. Ini bukan sekadar fasilitas teknis. Ini adalah respons terhadap tuntutan sosial.
Tetapi di sini kita juga perlu bersikap kritis. Industri bekerja dengan logika keuntungan. Setiap kebutuhan bisa berubah menjadi komoditas. Nilai bisa berubah menjadi label.
Halal bisa menjadi sekadar branding. Marketnya ada. Penganutnya banyak. Apalagi, coba. Di aras logika ini, industri berpikir bagaimana mengeksplorasi kesempatan ini sebagai cuan.
Maka ketika kita melihat paket wisata halal, hotel halal, bahkan pantai halal. Pertanyaannya, apakah substansinya terjaga? Atau hanya kemasan yang diperindah?
Tentu saja kita tidak ingin melihat ini secara sinis. Sebab ternyata ada sisi positif yang nyata. Pengakuan terhadap kebutuhan Muslim menunjukkan adanya ruang dialog. Dunia pariwisata global belajar menghormati perbedaan. Wisatawan Muslim merasa lebih aman dan nyaman. Ada rasa diterima. Ada rasa diakui. Itu penting.
Namun kita juga harus waspada terhadap reduksi identitas. Muslim bukan hanya konsumen yang peduli label. Identitas Islam tidak berhenti pada sertifikat dan pemisahan fasilitas. Islam adalah nilai etis yang luas: kejujuran, kebersihan, keadilan, keramahan. Jika wisata halal hanya menonjolkan simbol tanpa memperkuat etika layanan, maka kita kehilangan esensinya.
Dalam konteks ini, kita bisa menemukan bahwa wisata halal sebagai proses negosiasi. Wisatawan Muslim belajar berinteraksi dengan budaya lain tanpa kehilangan prinsip. Industri belajar menyesuaikan layanan tanpa merasa terancam. Di antara keduanya, ada proses saling memahami. Proses ini tidak selalu mulus. Tetapi di situlah dialog terjadi.
Sementara itu, kepercayaan menjadi kunci. Wisatawan mempercayai bahwa label halal benar-benar bermakna. Industri mempercayai bahwa konsistensi layanan akan membangun loyalitas. Negara mempercayai bahwa sektor ini dapat mendorong ekonomi tanpa memicu ketegangan sosial. Semua bergerak dalam satu jaringan relasi yang kompleks.
Pada akhirnya, wisata halal bukan soal eksklusivitas. Wisata halal adalah tentang konsistensi nilai di tengah dunia yang semakin terbuka. Ia menunjukkan bahwa iman tidak menghambat mobilitas. Ia justru memberi arah. Ia memberi batas yang sehat. Ia memberi makna.
Jadi, ketika kita berbicara tentang wisata halal, jangan hanya melihatnya sebagai produk industri. Lihatlah fenonema ini sebagai cermin perubahan sosial. Di sana ada kebangkitan kelas menengah Muslim. Di sana ada globalisasi yang terus bergerak. Di sana ada identitas yang terus dinegosiasikan. Sekaligus di sana ada ruang-ruang dialog yang aktif, terbuka, dan positif.
Pertanyaan besarnya bukan apakah wisata halal akan terus berkembang. Itu hampir pasti. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita mampu menjaga ruh etiknya? Apakah kita mampu memastikan bahwa halal tidak berhenti pada label, tetapi hadir sebagai nilai yang hidup?
Di titik itulah wisata halal benar-benar menjadi ruang dialog budaya. Bukan ruang jual beli semata, tetapi ruang pertemuan nilai, kepentingan, dan kesadaran bersama. []
______
*Tantan Hermansah, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota Sub Komisi Ekonomi Islam dan Wisata Halal MUI Pusat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





