Akurat

Dari Ngabuburit ke Wisata 'War Takjil'

Afriadi Ajo | 25 Februari 2026, 13:40 WIB
Dari Ngabuburit ke Wisata 'War Takjil'
Pedagang melayani pembeli makanan di Bazaar Takjil Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta, Jumat (20/2/2026). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

SETIAP sore ketika pulang kantor di hari menjelang maghrib di bulan Ramadhan, beberapa jalanan yang saya lalui selalu punya suasana khas. Jalanan lebih ramai. Masjid lebih hidup. Lapak-lapak takjil berderet. Orang-orang berjalan santai sambil menunggu adzan. Di tempat kelahiran saya, Garut, kegiatan ini disebut ”ngabuburit”.

Dulu, ngabuburit terasa sederhana. Orang pergi ke masjid, ikut kajian, membaca Al-Qur’an, atau sekadar duduk bersama teman sambil berbincang ringan. Ada yang bersepeda kecil, ada yang berjalan kaki mengelilingi kampung. Jika sekalian membeli kolak atau gorengan, itu hanya pelengkap. Intinya bukan pada makanannya, melainkan pada waktunya—waktu menunggu dengan sabar.

Ngabuburit pada masa itu menjalankan fungsi sosial yang jelas. Ia merekatkan kebersamaan. Ia mengurangi kejenuhan puasa. Ia memperkuat solidaritas kampung. Ia menjadi ruang temu lintas usia. Anak kecil, remaja, orang tua—semua hadir dalam ritme yang sama: menunggu maghrib.

Maka Ramadhan telah membentuk suasana kolektif. Orang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Kita tidak hanya menahan lapar, karena kita berbagi pengalaman yang sama. Ngabuburit adalah medium sosial untuk merawat perasaan itu.

Namun, beberapa tahun terakhir, suasana itu berubah pelan-pelan.

Kini ngabuburit sering kali identik dengan “war takjil”. Orang berburu makanan viral. Mereka mencari lapak yang ramai. Mereka antre bukan karena butuh, tetapi karena takut kehabisan. Lebih jauh lagi, mereka memotret, merekam, dan mengunggahnya. Jika belum mengunggah, rasanya belum sah.

Di titik ini, sadar atau tidak, kita melihat pergeseran makna. Ngabuburit menjadi semacam wisata eksistensi.

Sehingga takjil tidak lagi sekadar makanan pembuka puasa. Ia berubah menjadi simbol partisipasi. Seolah-olah Ramadhan belum lengkap jika belum ikut euforia berburu jajanan. Ada dorongan yang tidak sepenuhnya lahir dari kebutuhan perut, melainkan dari kebutuhan eksistensi.

Media sosial memainkan peran besar dalam pergeseran ini. Setiap sore linimasa dipenuhi foto es buah, dessert box, aneka gorengan, dan minuman berwarna-warni. Lalu algoritma memperkuat tren. Apa yang ramai, akan semakin ramai. Apa yang viral, akan semakin diburu.

Sedihnya, yang sepi atau tidak viral, ya sepi saja.

Di sinilah fenomena FOMO—fear of missing out—bekerja. Orang takut tertinggal. Orang takut tidak ikut arus. Orang takut tidak dianggap bagian dari momen kolektif. Maka, berburu takjil menjadi semacam kredo musiman: harus ikut, harus mencoba, harus mengunggah.

Padahal inti puasa bukan di situ.

Puasa melatih pengendalian diri. Puasa mengajarkan kesederhanaan. Puasa mengajak kita merasakan lapar agar kita mengerti makna cukup. Ironisnya, menjelang berbuka justru terjadi ledakan konsumsi kecil-kecilan. Orang membeli lebih banyak dari yang sanggup dimakan. Sebagian terbuang. Sebagian hanya difoto.

Kita tidak sedang membicarakan salah atau benar. Kita sedang membaca perubahan budaya.

Ngabuburit kini juga menjadi panggung. Setiap orang tampil. Setiap orang mengelola citra. Sore hari bukan lagi sekadar waktu menunggu adzan, tetapi waktu memproduksi konten. Ada “front stage” yang ditata rapi. Senyum, tawa, dan deretan takjil tersusun cantik dalam bingkai layar.

Namun cerita ini tidak sepenuhnya negatif.

Di balik euforia war takjil, ada dampak ekonomi yang nyata. Pedagang kecil meraup keuntungan. UMKM musiman tumbuh. Ibu-ibu rumah tangga membuka lapak dadakan. Anak muda mencoba usaha minuman kekinian. Perputaran uang meningkat. Ramadhan menggerakkan ekonomi mikro.

Bagi banyak keluarga, bulan ini menjadi kesempatan menambah penghasilan. Bahkan, beberapa pedagang mengandalkan momentum Ramadhan untuk menutup kebutuhan setahun. Di sini kita melihat sisi lain yang patut diapresiasi.

Tradisi religius bertemu dengan ekonomi rakyat.

Masalahnya bukan pada membeli takjil. Masalahnya muncul ketika konsumsi menjadi tujuan utama. Ketika orang merasa harus membeli agar dianggap ikut Ramadhan. Ketika pengalaman spiritual digeser oleh tuntutan visual.

Kita hidup di zaman ketika makna mudah bergeser menjadi citra. Sesuatu dianggap nyata ketika ia terlihat. Sesuatu dianggap penting ketika ia ramai. Dalam situasi seperti ini, ngabuburit mudah berubah dari ruang refleksi menjadi ruang kompetisi kecil-kecilan.

Apakah ini berarti kita harus kembali sepenuhnya ke masa lalu? Tidak sesederhana itu.

Budaya selalu berubah. Tradisi selalu bernegosiasi dengan zaman. Media sosial tidak akan hilang. Pasar takjil tidak akan sepi. Yang bisa kita lakukan adalah mengembalikan pusat gravitasi makna.

Ngabuburit bisa tetap ramai tanpa kehilangan ruh. War takjil bisa tetap hidup tanpa menjadi obsesi. Media sosial bisa tetap digunakan tanpa menggeser esensi puasa.

Kuncinya ada pada kesadaran.

Jika membeli takjil diniatkan untuk berbagi, ia menjadi amal. Jika berkumpul diniatkan untuk silaturahmi, ia menjadi perekat sosial. Jika mengunggah foto diniatkan untuk berbagi kebahagiaan, bukan pamer konsumsi, ia tetap punya nilai.

Ramadhan selalu menawarkan ruang koreksi. Ia datang setiap tahun bukan hanya untuk mengulang kebiasaan, tetapi untuk memperbarui niat. Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah kita menunggu maghrib, atau menunggu notifikasi?

Ngabuburit seharusnya melatih sabar. Bukan melatih takut tertinggal.

Di tengah riuhnya pasar takjil dan derasnya arus digital, Ramadhan tetap mengajarkan satu hal sederhana: cukup. Dan barangkali, di situlah makna yang perlu kita jaga bersama. [ ]
_____
*Tantan Hermansah (Pengajar Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
Reporter
Redaksi
A