Akurat

Gerombolan Minion dan Pola Pikir Kutu Loncat Politik

Editor Jatim | 4 November 2025, 08:19 WIB
Gerombolan Minion dan Pola Pikir Kutu Loncat Politik

BUDI ARIE membuat publik terpana. Ketua Umum Projo ini menolak menganggap bahwa Projo adalah singkatan dari Pro Jokowi. Namun masyarakat tidak mudah lupa. Jejak digital, bukti tak terbantahkan, dengan cepat muncul kembali. “Udah jelas Projo itu Pro Jokowi. Kalau bukan Pro Jokowi, bukan Projo berarti,” demikian pernyataan Budi Arie pada tahun 2018.

Kontradiksi ini segera menimbulkan tanda tanya besar: apakah penyangkalan Budi Arie merupakan sinyal perubahan haluan politik? 

Pindah haluan sesungguhnya bukan hal baru dalam ranah politik Indonesia. Sejak awal era reformasi, kita sering menyaksikan politisi dan simpatisan yang “loncat pagar” demi bertahan di lingkar kekuasaan. Perilaku ini disebut kutu loncat politik, mereka diambil dari ideologi, melainkan menempel pada figur dominan yang sedang berkuasa.

Baca Juga: Budi Arie: Projo Itu Bukan Pro Jokowi

Ketika Budi Arie ingin merapat ke kapal Prabowo, banyak yang membaca langkah itu sebagai gejala umum dari berakhirnya “era Jokowi” dan dimulainya babak baru kekuasaan nasional.

Namun yang menarik bukan sekadar siapa yang dipindahkan, melainkan pola pikir yang mendorong perpindahan itu. Untuk memahami gejala ini, mungkin kita bisa bercermin dari film animasi yang tampaknya tak ada ringkasannya dengan politik: "Minions (2015)" dan petualangan lanjutannya dalam serial "Despicable Me".

Minion: Loyalitas Tanpa Moral

Minion adalahmakhluk kecil yang lucu, polos, dan tampak menggemaskan. Namun dibalik kepolosan itu, mereka tidak memiliki sistem nilai moral yang jelas. Minion tidak mengenal kebaikan atau kejahatan. Bagi mereka, satu-satunya prinsip adalah: siapa yang paling kuat, dialah yang harus diikuti.

Minion selalu mencari “Bos baru” yang bisa memberi rasa aman dan arah. Ketika Bos lama terjatuh, Minion dengan cepat berlari menuju kekuatan baru tanpa rasa bersalah. Loyalitas mereka bukan kepada nilai, melainkan kepada kekuasaan.

Sayangnya, perilaku ini sangat mirip dengan sebagian relawan dan politik di Indonesia. Mereka bukan pejuang ideologi, melainkan operator pragmatis. Bagi mereka, kedekatan dengan pusat kekuasaan adalah sumber daya utama: akses terhadap proyek, jabatan, dan hak istimewa. Ketika sang penguasa mulai melemah, mereka segera mencari “Bos” berikutnya untuk dilayani.

 

Relawan: Dari Idealitas ke Industrialisasi Politik

Pada mulanya, gerakan-gerakan relawan seperti Projo, Jokowi Mania, dan sejenisnya muncul sebagai energi segar dari masyarakat sipil. Mereka mengusung idealisme baru: politik partisipatif, politik kerakyatan, dan perlawanan terhadap oligarki.

Namun seiring berjalannya waktu, banyak yang bertransformasi menjadi korporasi politik, entitas yang mengubah kedekatan dengan penguasa menjadi sumber ekonomi dan politik. Yang semula digerakkan oleh semangat kerakyatan berubah menjadi logika industri: siapa yang dekat dengan istana, dialah yang mendapat proyek, posisi, dan perlindungan.

Seperti Minion yang awalnya hanya ingin membantu dengan riang, para lawan ini lama-lama sadar bahwa menjadi “dekat dengan Bos Penguasa” adalah profesi yang menguntungkan. Loyalitas terhadap nilai pun bergeser menjadi loyalitas terhadap kekuasaan.

Maka, ketika Prabowo menanjak menjadi pusat gravitasi baru, banyak yang segera mendesak rapi di belakangnya. Mereka paham arah angin, dan dalam politik praktis Indonesia, arah angin sering kali lebih penting daripada arah hati.

Kekuasaan Sebagai Gravitasi Politik

Fenomena ini bisa dijelaskan melalui konsep survivalisme politik , kecenderungan aktor politik untuk bertahan hidup di tengah perubahan lanskap kekuasaan.

Di Indonesia, kekuatan politik tidak bertumpu pada ideologi yang kokoh seperti di Barat, tetapi pada figur, patron, dan akses ke sumber daya negara. Oleh karena itu, kesetiaan jarang bersifat ideologis; ia bersifat pribadi.

Dalam sistem patronase yang lemah secara kelembagaan, perpindahan tuan bahkan dianggap sebagai langkah rasional. Selama yang diikuti adalah kekuasaan, bukan nilai, peluang hidup politik tetap terjaga. Seperti Minion yang tidak jahat tapi juga tidak baik. Mereka hanya ingin tetap eksis di bawah naungan penguasa.

Dari Tawa ke kesadaran

Menonton Minion membuat kita tertawa. Namun ketika perilaku mereka menjelma di dunia politik nyata, tawa itu berubah menjadi ironi. Sebab yang hilang adalah makna politik sejati: arena perjuangan nilai dan moral. Politik menjadi mengubah pasar tempat loyalitas dijual kepada penawar tertinggi.

Para kutu loncat politik selalu punya alasan moral: demi bangsa, demi rakyat. Namun di balik retorika itu, tersembunyi bertahan dalam lingkar kekuasaan. Mereka tidak ingin berada “di luar,” karena di luar berarti kehilangan akses, kehilangan proyek, dan kehilangan relevansi.

Fenomena ini menandai apa yang bisa disebut sebagai minionisasi politik — proses ketika aktor politik kehilangan orientasi nilai dan hanya menempel pada kekuatan dominan. Jika berlangsung terus-menerus, politik tidak lagi mendidik rakyat tentang keberanian moral atau kejujuran, tetapi hanya tentang cara bertahan di bawah kekuasaan baru.

Makanya, menonton Minion seharusnya tidak sekadar membuat kita tertawa, tapi juga berpikir. Bahwa kekuasaan tanpa nilai hanyalah permainan tanpa arah, permainan di mana para Minion politik terus menari di bawah cahaya kekuasaan, tanpa pernah peduli siapa yang mereka layani dan nilai apa yang mereka perjuangkan.[]

____

Afriadi Ajo , Alumni Filsafat Islam UIN Jakarta  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
Reporter
Editor Jatim
A