Akurat

Attaqwa Hari Ini dan Esok: Pendidikan Inklusif, Moderasi Beragama dan Misi Global

Eko Krisyanto | 6 Agustus 2025, 13:03 WIB
Attaqwa Hari Ini dan Esok: Pendidikan Inklusif, Moderasi Beragama dan Misi Global

MEMASUKI usia ke-69, Yayasan Perguruan Attaqwa tidak hanya menengok ke belakang, tetapi juga menatap ke depan dengan tekad kuat. Dunia telah berubah. Teknologi digital merambah ke setiap lini kehidupan. Dinamika sosial-politik global juga makin kompleks.

Namun, Attaqwa membuktikan bahwa pesantren tidak pernah kehilangan relevansi. Bahkan, di tengah kegamangan zaman, lembaga pendidikan berbasis nilai seperti Attaqwa justru menjadi jangkar moral dan pusat pembaharuan.

Saat ini, Attaqwa mengelola satuan pendidikan dari tingkat dasar hingga tinggi: RA, MI, MTs, MA, SMA, SMK, Ma’had Aly, hingga Institut Agama Islam Kyai Noer Alie. Tak hanya itu, lembaga sosial seperti Darul Aytam menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan yang menyeluruh: membentuk santri yang berilmu sekaligus peduli.

Pendidikan Multidimensi: Akhlak, Ilmu dan Kemandirian

Di tengah derasnya arus pendidikan berbasis kompetisi dan orientasi pasar, Attaqwa tetap menanamkan pentingnya pendidikan yang berakar pada akhlak. Sejak awal, pendekatan pendidikan Attaqwa tidak hanya menargetkan penguasaan ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan kemampuan hidup. Spirit “Bener, Pinter, Terampil” yang diwariskan KH. Noer Alie dihidupkan dalam setiap aktivitas pendidikan — dari kelas hingga kegiatan sosial.

Menurut KH. Salahuddin Wahid, pesantren ideal adalah lembaga yang mampu melahirkan generasi unggul secara spiritual, intelektual, dan sosial. Attaqwa menjawab tantangan ini dengan merancang sistem pembelajaran yang integratif: menggabungkan kajian kitab kuning dengan pendidikan formal yang diakui negara, penguatan bahasa asing (Arab dan Inggris), serta pelatihan keterampilan hidup (life skills) untuk membangun kemandirian dan kreativitas santri.

Baca Juga: Dari Bekasi Menerangi Nusantara, Warisan KH. Noer Alie dan Misi Pendidikan Attaqwa

Pendekatan pembelajaran di Attaqwa juga diarahkan pada model pembelajaran mendalam: mindful, meaningful, dan joyful learning. Santri tidak hanya diajak menghafal, tetapi diajak memahami dan mengalami makna dari setiap ilmu yang dipelajari. Mereka tidak hanya diajarkan ilmu, tetapi juga bagaimana ilmu itu bisa digunakan untuk hidup dan menghidupkan orang lain.

Inovasi Digital dan Literasi Global

Pesantren sering dianggap identik dengan tradisionalisme. Tapi Attaqwa menunjukkan bahwa pesantren pun bisa adaptif, bahkan inovatif. Di era digital, Attaqwa mendorong penguatan literasi digital, pengembangan e-learning, digitalisasi perpustakaan, serta pelatihan guru berbasis teknologi.

Mengacu pada pandangan Prof. Komaruddin Hidayat, pesantren harus menjadi pusat inovasi moral dan intelektual. Untuk itu, Attaqwa mendorong integrasi antara nilai-nilai Islam dan teknologi.

Pengembangan kurikulum berbasis literasi data, teknologi, dan kewargaan global mulai diterapkan. Guru dilatih menjadi pendidik profesional yang tak hanya piawai dalam materi, tapi juga adaptif terhadap perkembangan zaman.

Santri dibimbing untuk bisa mengakses ilmu dari berbagai sumber global, tanpa kehilangan akar tradisinya. Ini adalah bentuk “ijtihad digital” dalam pendidikan — menjaga nilai, tapi juga berani berinovasi.

Moderasi Beragama: Pilar Perdamaian dan Harmoni Sosial

Di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan ancaman radikalisme, Attaqwa memegang teguh nilai moderasi beragama. Prinsip “Panca Cinta” menjadi basis penguatan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan: cinta kepada Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan bangsa.

Kementerian Agama RI (2022) mencatat bahwa pesantren yang mengedepankan nilai moderasi memiliki potensi besar menjadi agen perdamaian, baik di tingkat lokal maupun internasional. Attaqwa mengimplementasikan nilai-nilai ini melalui program kurikulum berbasis cinta (KBC), pendidikan lintas budaya, dan pembiasaan toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Para santri tidak hanya diajarkan tentang perbedaan, tetapi juga dilatih untuk hidup bersama dalam keragaman. Sikap terbuka, inklusif, dan adaptif menjadi bagian dari pendidikan karakter yang terus dibentuk.

Peran Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat

Attaqwa tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga membangun masyarakat. Melalui Darul Aytam, ribuan anak yatim dan dhuafa dibina dengan pendidikan gratis, pendampingan karakter, hingga pelatihan keterampilan. Model ini menegaskan bahwa pesantren bukan menara gading, tetapi rumah pengabdian.

KH. Noer Alie pernah berkata bahwa ilmu yang tidak bermanfaat bagi masyarakat adalah ilmu yang hampa. Maka pengabdian sosial menjadi ruh dari setiap aktivitas pendidikan di Attaqwa. Hal ini sejalan dengan pandangan Haedar Nashir bahwa pesantren adalah benteng moral bangsa dan agen solidaritas sosial.

Strategi Masa Depan: Dari Bekasi untuk Dunia

Milad ke-69 menjadi momentum strategis bagi Attaqwa untuk menyusun peta jalan pendidikan masa depan. Beberapa strategi prioritas yang disiapkan antara lain:

Pertama, Pendidikan Digital Bermutu. Di mana konteks Pendidikan yang menyelaraskan kurikulum dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan zaman. Kedua, Penguatan Riset Pendidikan Pesantren, dengan cara menjadikan Attaqwa sebagai pusat literasi dan pengembangan model pendidikan Islam yang kontekstual. 

Ketiga, Penguatan Jaringan Alumni Nasional dan Internasional untuk membangun kontribusi nyata di dalam dan luar negeri serta kolaborasi lintas sektor dan negara

Menjalin kerja sama strategis dengan pemerintah, kampus, lembaga internasional, dan dunia pesantren. Keempat, Pendidikan Transformatif dan Inklusif dengan cara mendorong sistem pembelajaran yang berdaya saing, membumi, dan terbuka terhadap perubahan.

Semua strategi itu adalah wujud dari visi besar Attaqwa: “Dari Bekasi untuk Bangsa dan Dunia.” Ini bukan sekadar ungkapan, tetapi komitmen jangka panjang untuk menghadirkan pendidikan yang membebaskan, memberdayakan, dan mendamaikan.

Baca Juga: Profesor Australia Kritik Negara Arab-Islam: Terlalu Banyak Bicara, Minim Tindakan untuk Gaza

Penutup

Attaqwa bukan hanya lembaga pendidikan. Ia adalah rumah nilai, wadah pembentukan karakter, dan jembatan antara ilmu dan amal. Dalam usianya yang ke-69, Attaqwa terus melangkah dengan semangat warisan KH. Noer Alie, menjadikan pendidikan sebagai jalan pengabdian.

Seperti kata Gus Sholah, “Ilmu yang berakar pada nilai, amal yang berlandaskan iman, dan pengabdian yang menembus batas bangsa — itulah wajah pesantren masa depan.” Dan wajah itu hari ini nyata di Attaqwa.

Abdul Rojak
(Dosen Mata Kuliah Profesi Keguruan UIN Jakarta, Alumni Attaqwa)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
Lufaefi
Editor
Lufaefi