Akurat Logo

Mengenal Asal Usul Nama Pancoran! Lengkap Sejarah Pembuatan Patung Dirgantara

| 16 Agustus 2023, 10:00 WIB
Mengenal Asal Usul Nama Pancoran! Lengkap Sejarah Pembuatan Patung Dirgantara

AKURAT.CO, Pancoran merupakan salah satu daerah yang ada di Jakarta Selatan. Dulu, kawasan tersebut bagian dari kecamatan Mampang Prapatan.

Kemudian, Kecamatan Pancoran resmi berpisah dari kecamatan Mampang Prapatan pada tahun 1991. Daerah Pancoran memiliki simbol atau ciri khas yang sudah tidak asing lagi bagi warga Jakarta, yakni Patung Dirgantara atau yang lebih dikenal dengan Patung Pancoran.

Tugu tersebut terletak di depan komplek perkantoran Wisma Aldiron Dirgantara yang dulunya adalah Markas Besar TNI AU. Daerah ini juga mempunyai sejarah tentang asal usul nama Pancoran yang menarik untuk disimak.

Dikutip dari beberapa sumber pada Rabu (16/8/2023), simak asal usul nama Pancoran dan proses pembuatan patungnya berikut ini.

Asal Usul Nama Pancoran

  • Berasal dari Cerita Rakyat Betawi

Asal usul nama Pancoran diambil dari cerita rakyat Betawi yang mengangkat sebuah kisah tentang Pangeran Jaya Berhati Mulia yang rela berkorban. Dikisahkan hidup seorang raja di daerah Jakarta Selatan yang dikaruniai tiga anak, yaitu Pangeran Jaya, Suta, dan Gerinda. Suatu hari, raja berencana untuk mencari penerus tahta kerajaan. Tahta tersebut harus diwariskan kepada salah satu dari ketiga anaknya tersebut.

Raja lantas memerintahkan ketiga anaknya pergi dari istana untuk memulai misi dalam rangka meneruskan tahta kekuasaan. Mereka mulai menyisir perjalanan sebagai misi dari sang ayah. Di tengah perjalanan, mereka mulai kehabisan energi dan kehausan. Tak lama, mereka menemukan sebuah sumber air yang disebut dengan telaga pancuran. Suta dan Gerinda langsung bergegas meminum air tersebut tanpa mempedulikan larangan sumber air tersebut.

Setelah meminum air, kedua anak sang raja itupun tewas di tempat. Hal tersebut membuat Pangeran Raja terkejut. Lalu, muncul seorang kakek yang mengatakan bahwa penyebab kedua adiknya tersebut tewas karena kedua asiknya meminum air telaga tanpa meminta izin.

Pengeran Jaya yang kebingungan kemudian memohon kepada sang kakek agar dapat menghidupkan kembali kedua adiknya. Kemudian sang kakek menawarkan tukar nyawa. Dimana nyawa Pangeran Jaya ditukar dengan kedua adiknya yang sudah mati.

Pangeran jaya menyetujui tawaran tersebut dan langsung meminum air dari sumber yang sama agar ia tewas dan adiknya hidup kembali. Namun, setelah meminum air tersebut, Jaya masi hidup dengan utuh. Sang kakek kagum dengan pengorbanan yang dilakukan oleh Pangeran Jaya.

Kakek tadi kemudian memberi tantangan kepada ketiga putra raja tersebut. Ia memerintahkan untuk mencabut suatu tongkat dan barang siapa yang bisa mencabutnya, ia akan menjadi ahli waris kerajaan.

Dari ketiga putra raja, hanya Pangeran Jaya yang dapat mencabut tongkat ini. Itu artinya, ialah yang berhak menjadi raja selanjutnya.

Singkat cerita, ketiga anak tersebut kembali ke istana dan menemui sang Ayah. Sang raja kemudian resmi menurunkan tahtanya kepada Pangeran Jaya. Sebagai seorang pemimpin, Pangeran Jaya kemudian memberi nama sumber air tersebut sebagai Pancoran.

Filosofi dan Proses Pembuatan Patung Dirgantara

1. Filosofi Patung

Selain asal usul nama pancoran, Patung Dirgantara atau Pancoran ini juga memiliki sejarah yang menarik untuk diketahui. Patung ini dirancang oleh Edhi Sunarso sekitar tahun 1964-1965 dan dibantu oleh Keluarga Arca Yogyakarta. Dipilihnya nama Patung Dirgantara karena menggambarkan manusia angkasa.

Filosofi dari patung ini sendiri merupakan patung yang menggambarkan semangat keberanian bangsa untuk menjelajah luar angkasa. Patung ini juga mewakilkan keperkasaan bangsa Indonesia di bidang dirgantara.

2. Dipantau Bung Karno

Patung Dirgantara ini merupakan rancangan atas permintaan Bung Karno. Karenanya, Bung Karno sering terlibat dalam proses pembuatan patung ini. Proses penyusunan Patung Pancoran ini sering ditunggui atau dipantau oleh Bung Karno. Sehingga kehadirannya selalu merepotkan aparat keamanan yang bertugas mengawal sang Kepala Negara.

3. Proses Pemasangan dengan Derek

Patung Pancoran ini akhirnya dapat rampung dan dapat dipajang pada akhir tahun 1966. Proses pemasangan asal usul patung pancoran menggunakan derek tarikan tangan. Patung ini memiliki beberapa potongan yang mempunyai berat masing-masing sekitar 1 ton.

Dipilihnya lokasi penempatan Patung Pancoran karena dianggap strategis. Karena merupakan pintu gerbang kawasan Jakarta Selatan dari Lapangan Terbang Halim Perdana Kusuma. Tempat ini juga dahulunya dekat dengan Markas Besar Angkatan Udara Republik Indonesia.

4. Spesifikasi dan Biaya Membuat Patung

Patung pancoran ini memiliki berat mencapai 11 ton, dengan tinggi patung kurang lebih 11 meter dan kaki patung yang mencapai 27 meter. Dalam pekerjaannya, Ir Sutami ditunjuk sebagai arsitek yang dibantu oleh PN Hutama Karya. Adanya Gerakan 30 September PKI pada tahun 1965 sempat menyebabkan keterlambatan proses patung ini.

Dari segi anggaran pemasangan, patung ini dibayar sekitar Rp5 juta dari total dana Rp12 juta yang ditanggung oleh Edhi Sunarso. Biaya pemasangan tersebut tidak dilunasi oleh pemerintah walaupun Bung Karno sempat menjual mobilnya seharga Rp1 juta.

proses pengecorannya dilakukan oleh Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.