Akurat Logo

Mengalami Burnout atau Overthinking? Ini Cara Meraih Ketenangan Hati Lewat Jalur Langit

Lufaefi | 29 September 2026, 12:00 WIB
Mengalami Burnout atau Overthinking? Ini Cara Meraih Ketenangan Hati Lewat Jalur Langit
Burnout. - Pixabay

AKURAT.CO Rutinitas pekerjaan, tuntutan keluarga, persoalan keuangan, hingga derasnya informasi di media sosial terkadang membuat pikiran terasa penuh. Seseorang bisa terus memikirkan berbagai persoalan, sulit beristirahat, atau merasa kelelahan meskipun aktivitas fisik tidak terlalu berat.

Istilah burnout dan overthinking pun semakin sering digunakan untuk menggambarkan kondisi tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin merasa terlalu lelah menghadapi pekerjaan, terus memikirkan sesuatu yang belum terjadi, atau sulit menghentikan pikiran tentang persoalan yang sudah berlalu.

Dalam perspektif Islam, ketenangan hati tidak hanya diupayakan melalui perubahan kondisi di luar diri. Seorang Muslim juga diajarkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, berdoa, berzikir, serta menyerahkan perkara yang berada di luar kemampuannya kepada-Nya.

Namun, ikhtiar spiritual bukan berarti mengabaikan kebutuhan untuk beristirahat, mengatur beban pekerjaan, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau mencari bantuan profesional ketika diperlukan.

Lalu, bagaimana cara mencari ketenangan hati melalui “jalur langit”?

Pertama, memperbanyak zikir kepada Allah.

Al-Qur'an memberikan salah satu pesan paling terkenal tentang ketenangan hati:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra'd: 28).

Zikir dapat dilakukan dalam berbagai keadaan. Setelah salat, ketika perjalanan menuju tempat kerja, saat beristirahat, atau ketika hati mulai merasa gelisah.

Membaca istigfar, tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil dapat menjadi cara untuk mengembalikan perhatian kepada Allah di tengah pikiran yang sedang dipenuhi berbagai persoalan.

Kedua, mengadu kepada Allah melalui doa.

Ketika menghadapi masalah, manusia membutuhkan tempat untuk mencurahkan isi hati. Dalam Islam, Allah adalah tempat pertama seorang hamba memohon pertolongan.

Baca Juga: Buku Memburu Muhammad Viral, Bolehkah Membuat Judul Karya yang Provokatif dalam Islam?

Allah SWT berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.’” (QS Ghafir: 60).

Doa tidak harus selalu menggunakan kalimat yang panjang. Seseorang dapat berbicara kepada Allah dengan bahasa yang dipahaminya, menyampaikan kegelisahan, memohon kekuatan, dan meminta jalan keluar.

Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika memohon perlindungan dari kegelisahan dan kelemahan adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan.” (HR Bukhari).

Doa tersebut dapat menjadi pengingat bahwa seorang Muslim tidak harus menghadapi seluruh beban hidup seorang diri.

Ketiga, menjaga salat sebagai ruang untuk berhenti sejenak.

Di tengah kesibukan, salat dapat menjadi momentum untuk menghentikan aktivitas dan mengarahkan kembali hati kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

“Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat.” (QS Al-Baqarah: 45).

Salat bukan sekadar kewajiban yang harus diselesaikan. Ketika dilakukan dengan khusyuk, salat dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk menenangkan diri, mengingat tujuan hidup, dan menyadari bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan sekaligus.

Keempat, belajar tawakal setelah melakukan ikhtiar.

Overthinking sering kali muncul karena seseorang terus memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Kekhawatiran terhadap masa depan memang manusiawi, tetapi Islam mengajarkan agar manusia tidak menggantungkan ketenangan sepenuhnya pada kemampuan dirinya sendiri.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi