Akurat Logo

Buku Memburu Muhammad Viral, Bolehkah Membuat Judul Karya yang Provokatif dalam Islam?

Lufaefi | 28 September 2026, 07:30 WIB
Buku Memburu Muhammad Viral, Bolehkah Membuat Judul Karya yang Provokatif dalam Islam?
Buku Memburu Muhammad - Istimewa

AKURAT.CO Sebuah judul buku terkadang sudah cukup untuk membuat orang berhenti menggulir layar. Kalimat yang tidak biasa, kontroversial, atau terasa provokatif dapat mengundang rasa penasaran sebelum pembaca mengetahui isi bukunya.

Fenomena semacam ini kembali menjadi perhatian setelah judul buku “Memburu Muhammad” ramai diperbincangkan. Judul tersebut memunculkan pertanyaan lain yang tidak kalah menarik: bagaimana sebenarnya Islam memandang penggunaan judul karya yang provokatif untuk menarik perhatian pembaca?

Dalam dunia penerbitan, judul memang memiliki fungsi penting. Judul harus mampu menggambarkan isi, membangun rasa ingin tahu, sekaligus membuat sebuah karya mudah dikenali. Namun, dalam perspektif Islam, kebebasan berekspresi tetap memiliki batas berupa tanggung jawab moral.

Al-Qur’an memberikan prinsip penting dalam berkomunikasi. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Ahzab ayat 70:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

Ayat tersebut berbicara tentang perkataan yang benar atau qaulan sadida. Prinsip ini dapat menjadi pedoman bahwa sebuah judul, meskipun dibuat menarik, tidak semestinya mengandung kebohongan, manipulasi, atau sesuatu yang sengaja menyesatkan pembaca.

Baca Juga: Nasaruddin Umar Terpilih Jadi Ketua Grand Imam Sedunia di IGIC 2026

Lantas, apakah membuat judul provokatif otomatis dilarang dalam Islam?

Tidak selalu.

Pertama, judul yang menarik perhatian pada dasarnya bukan persoalan. Dalam komunikasi, seseorang memang perlu memilih bahasa yang efektif agar pesan yang disampaikan dapat diterima. Selama judul tersebut menggambarkan isi karya secara jujur dan tidak melanggar prinsip agama, penggunaan bahasa yang kuat atau tidak biasa tidak otomatis menjadi sesuatu yang terlarang.

Sebuah judul boleh saja membuat pembaca penasaran. Bahkan, dalam konteks karya ilmiah populer, sastra, jurnalistik, atau buku pemikiran, judul yang tidak biasa terkadang diperlukan agar sebuah gagasan mendapatkan perhatian.

Yang menjadi persoalan adalah ketika provokasi tersebut dibangun dengan kebohongan.

Kedua, judul tidak boleh menipu pembaca. Islam memberikan perhatian besar terhadap kejujuran dalam menyampaikan informasi.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”

Prinsip tabayun tersebut relevan dengan praktik komunikasi modern. Judul tidak seharusnya dibuat sedemikian rupa sehingga pembaca memperoleh kesan yang berbeda dari isi sebenarnya.

Misalnya, sebuah buku tidak membahas sesuatu sebagaimana yang ditampilkan judulnya, tetapi judul sengaja dibuat ekstrem agar mendapatkan klik, penjualan, atau perhatian publik. Praktik semacam ini dapat bermasalah dari sisi etika karena memanfaatkan ketidaktahuan pembaca.

Ketiga, judul juga perlu mempertimbangkan kehormatan pihak yang dibicarakan.

Ketika sebuah karya membahas tokoh agama, ulama, Nabi, atau figur yang dihormati masyarakat, penggunaan kata-kata provokatif perlu dipertimbangkan secara lebih hati-hati. Bukan berarti semua bentuk kritik atau kajian terhadap tokoh agama dilarang, tetapi cara penyampaiannya tetap harus memperhatikan adab.

Al-Qur’an mengajarkan:

وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ

“Janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (QS Al-Hujurat: 11)

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi