Akurat

Ketika Orang Terdekat Menjadi Sosok Pencabut Nyawa

| 4 September 2019, 16:25 WIB
Ketika Orang Terdekat Menjadi Sosok Pencabut Nyawa

AKURAT.CO, Selama Agustus 2019, masyarakat ibu kota dihebohkan dengan peristiwa pembunuhan yang terjadi di tiga lokasi. Ketiga lokasi tersebut yakni Kramatjati Jakarta Timur, Lebak Bulus Jakarta Selatan, dan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ironisnya pelaku pembunuhan merupakan orang terdekat yang seharusnya saling menjaga.

Di Kramatjati, Jumharyono tega menghabisi nyawa istrinya yang bernama Khoriah. Aksinya yang dilakukan pada Selasa (6/8/2019) terbilang sadis. Lantaran sang istri tidak mau melayani nafsu seksnya, Jumharyono langsung memukul kepala Khoriah, menggunakan batu. Tidak berakhir di situ, pria yang bekerja sebagai kuli angkut di pasar Kramatjati ini juga merobek perut sang istri menggunakan gunting.

Aksi keji Jumharyono langsung diketahui warga lantaran dirinya berupaya membakar rumah yang di dalamnya ada istri serta seorang anak berumur lima tahun. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan jejak dan barang bukti.

Peristiwa selanjutnya yakni seorang istri yang tega menghabisi nyawa suaminya. Aulia Kusuma merencanakan aksi pembunuhan terhadap suaminya bersama pembantunya dan suami dari pembantunya. Latar belakang Aulia menghabisi Edy Chandra karena korban tidak mau menjual rumah, padahal Aulia sudah terlilit hutang ke Bank sebesar Rp 10 Miliar. Atas dasar itu Aulia terus berusaha agar rumah yang berada di Lebak Bulus, Jakarta Selatan bisa dijual untuk membayar hutang-hutangnya. Mulai dari santet, hingga pembiusan dilakukan Aulia.

Puncaknya terjadi sabtu (24/8/2019). Dirinya bersama pembunuh bayaran menghabisi nyawa Edy Chandra dan anaknya yang bernama Ali Pradana (23). Setelah menghabisi dua orang tersebut para eksekutor membawa keduanya ke dalam mobil milik Edy. Di hari yang sama terjadi kebakaran di salah satu ruangan rumah tersebut. Kemudian Jasad Edy dan anaknya baru dibawa ke Sukabumi pada Minggu (3/8/2019).

Kejadian ketiga yakni seorang suami membunuh Istrinya sendiri di kawasan Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Siti Rodiyah (43), ditemukan meninggal dunia dengan beberapa luka tusuk di ketiak, perut, tangan, dan kaki, di sebuah rumah kontrakan, Jalan Pilar Lapangan Bola, Kedoya Selatan, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, Rabu (28/8/2019).

Saat itu tidak ada yang mengira jika pelaku pembunuhan wanita asal Cirebon ini adalah suaminya sendiri. Karena sang suami yang bernama Supiyandi ikut mengantar istrinya dalam kondisi berlumuran darah ke Klinik sekitar rumahnya. Aksinya terbongkar setelah penyidki Polsek Kebon Jeruk melakukan interogasi.

Melupakan Mekanisme Penyelesaian Masalah Rumah Tangga

Ketiga kasus pembunuhan yang terjadi di Ibu kota pada Agustus lalu tidak terjadi secara tiba-tiba. Namun lebih kepada suatu masalah yang sudah lama dipendam, dan menggunung hingga akhirnya terjadi puncak dari masalah tersebut.

Musni Umar menyebut ada tiga faktor yang menyebabkan seseorang membunuh pasangannya. Pertama, pasangan kurang memahami watak masing-masing. Hal ini menyebabkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Padahal, faktor ini bisa diselesaikan dengan komunikasi dan mencari persamaan antar pasangan.

"Kalau tidak bisa dicari titik temu akhirnya yang terjadi itu perbedaan demi perbedaan yang makin menonjol. Jadi sejatinya itu, kita jangan mencari perbedaan," ujar Musni kepada AKURAT.CO, Selasa (2/9/2019).

Polisi Ungkap Kasus Pembunuhan Keluarga Lebak Bulu. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Musni melanjutkan, kedua ialah faktor ekomoni dan kerap dijumpai dalam kasus pembunuhan. "Misalnya suami kehilangan pekerjaan, PHK itu kan lagi ramai sekarang ini. Jadi istri stress, kemudian hubungan jadi renggang. Bisa istri yang marah-marah terus, kan kalau makan tidak bisa ditunda. Sedangkan suami tidak bisa meredakan emosinya, kan bukan maunya juga dia di PHK, " beber Rektor Universitas Ibnu Chaldun itu.

Kondisi itu disebutnya sebagai keadaan yang memaksa. Jalan keluar dari masalah itu dikatakan Musni bisa membangun komunikasi untuk mencari solusi.

"Disinilah pentingnya duduk bersama menjaring pendapat, oke kalau begitu kita mulai hidup yang penuh kesulitan, tetapi kita yakin bisa keluar dari kesulitan. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing," imbuhnya.

Dan yang ketiga adalah banyak pasangan yang melukapan mekanisme menyelesaikan masalah rumah tangga. Menurut Musni, keluarga itu merupakan kumpulan dari dua orang berbeda menjadi satu. Tentu banyak hal yang harus dibicarakan agar bisa menyamakan pandangan atas sesuatu hal. Hal tersebut bisa terjadi karena masyarakat saat ini lebih nyaman menyendiri dengan telepon pintarnya. Sehingga komunikasi antar pasangan berkurang.

Musni mencontohkan, jika seorang istri ingin menyampaikan pendapatkan kepada suami yang baru pulang kerja. Tanpa disadari suami itu sibuk melihat telepon genggam miliknya. Dengan demikian sang istri merasa diacuhkan, sehingga di kemudian hari sang istri enggan mencurahkan apa yang dirasakannya kepada sang suami. Dan ketika ini dibiarkan terus menerus, suatu saat akan tiba puncak kekesalan karena merasa diacuhkan.


Media Sosial Berperan dalam Kasus Pembunuhan

Motif pembunuhan pada kasus yang menewaskan  Edy Chandra Purnama (54) biasa disapa Pupung M Adi Pradana (23), Dana disebut Kriminolog UI Josias Simon sebagai luapan emosi. 

Terlebih adanya tangan ketiga dalam kasus kelam itu dikatakan Josias bukan sesuatu yang tidak biasa. 

"Asumsinya dia orang biasa, kemungkinan dia dapat info dari media sosial. Kecuali dia bagaian masalahnya itu melibatkan komplotan dan itu berbeda. Asumsi saya dia dapat inspirasi dari media sosial juga," ujar Josias Selasa (3/9/2019). 

Media sosial disebutnya sebagai pemicu orang lebih emosional. Sehingga orang menyadari terjadi pembunuhan itu belakangan. 

"Media sosial itu betul-betul memberikan emosi dalam kasus-kasus yang tidak ada penyelesaian. Media sosial lebih akrab ke keluarga, kalau media massa bacaan-bacaan yang kadang dia baca kadang juga engga. Media sosial tiap hari bisa dia dapat," katanya. 

Kegiatan menghilangkan jejak dikatakannya sudah menjadi tugas pembunuh bayaran. Dan itu bukan tugas orang yang bersengketa atau berkonflik dalam rumah tangga.

Tidak hanya itu, kini media sosial kurang memberikan konseling terhadap setiap masalah. Konten di dalammnya lebih kepada pembahasan kasus dan penyelesaiannya

"Media sosial juga harus memberikan semacam himbauan, konseling kah. Saya lihat agak jarang melihat ada penyelesaian konseling seperti itu. Kalau dulu ada rubrik konseling, kalau sekarang jarang terlihat," ungkapnya.[]

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.