Rehabilitasi Sawah Terdampak Bencana Sumatera Harus Dibarengi Evaluasi Produksi Pangan

AKURAT.CO Pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp 877 miliar ke tiga provinsi terdampak bencana banjir dan longsor di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Anggaran itu disebut dapat digunakan oleh masing-masing provinsi, untuk merehabilitasi lahan pertanian yang hancur karena banjir bandang.
Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera mencatat terdapat 94.742 hektare sawah yang terdampak bencana di 3 wilayah tersebut.
Baca Juga: BNI Rehabilitasi 50 Hektare Mangrove di Banyuwangi, Berikan Dampak Ekonomi ke 5.000 Warga
Wakil Ketua Komisi IV DPR, Alex Indra Lukman, mengatakan rehabilitasi jangan hanya dipahami sebagai proyek pemulihan fisik sawah. Melainkan jadi bagian dari strategi perlindungan ketahanan pangan nasional jangka panjang, di tengah meningkatnya risiko bencana dan tekanan terhadap sektor pertanian.
Sebab, bencana yang merusak lahan pertanian pada dasarnya tidak hanya berdampak pada petani di tingkat lokal. Tetapi juga memengaruhi stabilitas produksi pangan, distribusi hasil pertanian, hingga potensi tekanan harga pangan di tingkat masyarakat.
Karena itu, dia mengingatkan agar setiap kerusakan sawah akibat banjir, longsor, atau bencana hidrometeorologi lain perlu dibaca sebagai indikator meningkatnya kerentanan sektor pangan nasional terhadap perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
"Maka langkah rehabilitasi lahan perlu dibarengi dengan evaluasi yang lebih menyeluruh mengenai ketahanan infrastruktur pertanian Indonesia menghadapi bencana," kata Alex melalui keterangan tertulis, Minggu (10/5/2026).
Pimpinan Komisi bidang Pertanian DPR itu pun mengatakan, persoalannya bukan hanya bagaimana memperbaiki sawah yang rusak. Tetapi bagaimana memastikan kawasan pertanian produktif tidak terus-menerus mengalami kerusakan berulang setiap musim ekstrem.
"Untuk itu, ada beberapa aspek penting yang perlu menjadi perhatian Pemerintah," paparnya.
Baca Juga: Kasus Stroke Masih Tertinggi, RS Premier Bintaro Perkuat Rehabilitasi
Pertama, ketepatan sasaran rehabilitasi dan kecepatan pemulihan produksi. Rehabilitasi lahan harus dipastikan benar-benar menjangkau wilayah yang paling terdampak dan segera mengembalikan kemampuan petani untuk kembali menanam.
Hal ini dinilai penting sebab keterlambatan pemulihan sawah pada akhirnya berdampak langsung terhadap pendapatan petani dan stabilitas pasokan pangan daerah.
Kemudian aspek kedua adalah penguatan infrastruktur mitigasi pertanian. Pemerintah perlu memperkuat sistem irigasi, drainase, embung, hingga perlindungan daerah aliran sungai di kawasan pertanian rawan bencana.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 4Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 5Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 6Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 7Prediksi Spanyol vs Kroasia di UEFA Nations League: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 8Kalender Jawa 29 September 2026: Selasa Wage Cocok untuk Apa? Ini Watak dan Neptunya
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah








