Jelang Muktamar NU ke-35, Muncul Lima Poros Paslon, Siapa Terkuat?

AKURAT.CO Dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama kian menguat dengan munculnya sejumlah poros kekuatan di internal organisasi.
Meski secara formal NU tidak mengenal istilah pasangan calon, peta politik yang berkembang menunjukkan adanya konsolidasi figur menuju perebutan posisi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
Pengamat sekaligus warga NU, HRM. Khalilur, menilai kontestasi kali ini tidak bisa dilepaskan dari keterkaitan erat antara dua posisi puncak tersebut.
“Dalam praktik politik organisasi, kepemimpinan NU tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu merupakan hasil dari konfigurasi dua poros sekaligus, Rais Aam dan Ketua Umum,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Baca Juga: PWNU Jatim Ancam Mosi Tidak Percaya Jika PBNU Tak Gelar Muktamar Agustus 2026
Menurutnya, mekanisme pemilihan Rais Aam melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menjadi titik krusial yang menentukan arah organisasi ke depan. Karena itu, perebutan pengaruh dalam menentukan komposisi anggota AHWA mulai terlihat sebagai arena strategis antar kelompok.
Khalilur mengungkapkan, dinamika internal semakin menghangat seiring munculnya sejumlah manuver politik, termasuk yang melibatkan Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf.
Pergerakan ini disebut berkaitan dengan upaya memetakan kiai-kiai yang akan memiliki hak suara dalam menentukan Rais Aam.
Situasi tersebut memicu rivalitas antara dua kutub utama, yakni kubu yang menginginkan Miftachul Akhyar tetap menjabat dan kubu yang mendorong kembalinya Said Aqil Siradj ke posisi Rais Aam. Persaingan kedua figur ini menjadi magnet bagi dukungan di tingkat wilayah dan cabang.
Selain itu, terdapat sedikitnya lima poros kekuatan yang mulai terbaca. Salah satu yang akan maju adalah poros petahana yang dipimpin Ketua Umum PBNU saat ini, Yahya Cholil Staquf.
Baca Juga: Harlah ke-92, GP Ansor Napak Tilas Berdirinya NU dengan Bersepeda 123 Km dari Bangkalan ke Jombang
Meski peta kekuatan mulai terlihat, hasil akhir Muktamar tetap sulit diprediksi. Tradisi penghormatan kepada kiai sepuh dan dinamika musyawarah dinilai masih menjadi faktor penentu yang dapat mengubah arah dukungan di saat-saat terakhir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 4Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 5Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 6Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 7Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 8Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat
- 10KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji







