Akurat Logo

Tokoh MUI Beberkan 8 Dusta Amerika dalam Perang Melawan Iran

Lufaefi | 26 April 2026, 14:45 WIB
Tokoh MUI Beberkan 8 Dusta Amerika dalam Perang Melawan Iran
Pengurus MUI Yanuardi Syukur (Instagram @yankor)

AKURAT.CO Seorang tokoh Majelis Ulama Indonesia (MUI) memaparkan sejumlah dugaan kebohongan yang dilakukan Amerika Serikat dalam konflik melawan Iran.

Pernyataan ini disampaikan oleh Yanuardi Syukur dalam sebuah tulisan opini yang menyoroti narasi perang yang dinilai menyesatkan publik, seperti dilansir MUI Digital, Sabtu (25/4/2026).

Menurut Yanuardi, sejak serangan dimulai pada 28 Februari 2026, berbagai klaim dari pemerintah AS tidak sepenuhnya sesuai fakta di lapangan. Ia bahkan menilai pola komunikasi pemerintah AS sebagai bentuk manipulasi informasi.

“Saking seringnya berbohong, tidak salah kemudian dikatakan bahwa Pemerintahan Trump ‘berbohong semudah ia bernafas," katanya.

Baca Juga: Media Ibrani Ungkap Pergeseran Doktrin Militer Israel di Tengah Perang Iran

Ia menyebut kebohongan tersebut bukan sekadar propaganda biasa, tetapi bagian dari strategi komunikasi untuk membentuk persepsi publik.

“Kebohongan tersebut bukan sekadar propaganda, melainkan strategi membanjiri publik dengan informasi kontradiktif yang dirancang untuk membingungkan publik," lanjutnya.

Salah satu poin utama yang disorot adalah tuduhan bahwa Iran memiliki senjata nuklir. Yanuardi menilai klaim tersebut tidak berdasar.

Ia mengutip pandangan analis Mitchell Plitnick yang menyebut bahwa lembaga intelijen AS justru memiliki kesimpulan berbeda.

“Secara konsisten menyimpulkan bahwa Iran tidak memiliki program senjata nuklir aktif sejak 2003,” kata pria yang juga merupakan akademisi itu.

Selain itu, Badan Tenaga Atom Internasional juga disebut tidak menemukan bukti adanya program nuklir aktif tersebut.

Yanuardi juga menyoroti alasan serangan yang disebut sebagai respons atas ancaman Iran. Ia menilai narasi tersebut tidak kuat secara faktual.

Mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, ia menuliskan bahwa keputusan menyerang lebih dulu diambil sebagai langkah antisipatif.

“Dan kami tahu bahwa jika kami tidak menyerang mereka lebih dulu, kami akan menderita korban yang lebih tinggi,'' lanjut dia.

Namun, menurutnya, Pentagon sendiri mengakui tidak adanya bukti intelijen bahwa Iran tengah merencanakan serangan langsung terhadap AS.

Selain itu, klaim keberhasilan militer AS juga dipertanyakan, termasuk pernyataan bahwa ribuan target telah dihancurkan dan program nuklir Iran berhasil dilumpuhkan.

Baca Juga: Iran Sebut Amerika Cari Jalan Selamatkan Muka Atas Kekalahan dari Iran

Mengutip analis Shaiel Ben-Ephraim, Yanuardi menilai klaim tersebut tidak sepenuhnya akurat.

Ia menyebut bahwa fasilitas nuklir Iran “hampir tidak tersentuh” meski terjadi serangan besar-besaran.

Tulisan tersebut juga menyinggung bahwa narasi perang tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik domestik, termasuk di Israel.

Secara keseluruhan, Yanuardi menyimpulkan bahwa berbagai klaim yang disampaikan pemerintah AS perlu dikaji ulang secara kritis, mengingat dampaknya tidak hanya pada konflik militer tetapi juga pada persepsi global terhadap perang tersebut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi