Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Tak Berdampak Signifikan terhadap Inflasi

AKURAT.CO Riset BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi tidak akan berdampak secara signifikan terhadap inflasi. Dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi terbatas, karena penggunanya adalah segmen masyarakat berpendapatan tinggi.
Selain itu, kenaikan harga hanya ditetapkan untuk Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite. Rata-rata kenaikan sekitar Rp 8.367 per liter. Sementara harga Pertamax masih belum ada perubahan.
"Meski BBM nonsubsidi mencakup 44 persen konsumsi total BBM, relevansinya terhadap inflasi melemah karena komposisinya masih didominasi Pertamax. Produk yang naik paling tajam, yaitu Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, dikonsumsi segmen berpendapatan lebih tinggi dengan efek rambatan harga yang lebih lemah," kata Chief Economist and Head of Fixed Income Research BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, dalam risetnya, Senin (20/4/2026).
Baca Juga: Anggota Komisi VI DPR: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Jangan Pengaruhi Sembako
Secara historis, kenaikan Rp 1.000 per liter pada BBM kelas atas diperkirakan hanya menambah inflasi sekitar 0,02–0,15 poin persentase, jauh di bawah dampak penyesuaian BBM subsidi.
"Tekanan inflasi dari kenaikan harga BBM nonsubsidi relatif terbatas dan hanya bekerja di sisi marjinal, bukan menjadi pendorong utama inflasi keseluruhan," ujarnya.
Baca Juga: Kenaikan BBM Non-Subsidi Tak Pengaruhi Kondisi Ekonomi Masyarakat
Pembukaan singkat Selat Hormuz setelah gencatan senjata sementara sempat meredakan kekhawatiran pasokan, dan mendorong harga minyak Brent turun hampir 10 persen ke USD 86 per barel, didukung optimisme negosiasi, termasuk pembahasan pelepasan dana Iran yang dibekukan.
Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama. AS tetap mempertahankan blokade lautnya. Sementara Iran memberlakukan syarat transit ketat yang secara efektif menjaga kendali atas arus pelayaran.
Ketegangan kembali meningkat pada Sabtu (18/4/2026) ketika Iran menutup kembali Selat Hormuz sebagai respons atas tekanan lanjutan dari AS, termasuk rencana penyitaan tanker terkait Iran, sehingga harga Brent naik kembali di atas USD 90 per barel.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 7KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 8Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon







