Menkes Minta Masyarakat Tak Panik Soal Super Flu: Ini Bukan Virus Baru seperti Covid-19

AKURAT.CO Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, meminta masyarakat tidak perlu merasa khawatir berlebihan terhadap fenomena Super Flu atau virus influenza varian H3N2. Menurutnya, virus ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan virus baru seperti COVID-19 di masa awal pandemi.
Dia menjelaskan, Super Flu sesungguhnya merupakan jenis flu yang sudah lama beredar selama bertahun-tahun. Karena bukan merupakan virus baru, sistem imun manusia secara umum sudah mengenali dan memiliki kesiapan untuk menghadapinya.
"Ini bukan virus baru seperti COVID. Akibatnya imun sistem kita sudah siap. Karena sudah tahunan beredar, asal badan kita sehat, harusnya bisa diatasi oleh imun sistem kita sendiri," kata Budi, dikutip Selasa (13/1/2025).
Baca Juga: Kesiapan Sistem Kesehatan Penting untuk Antisipasi Penyebaran Super Flu Sejak Dini
Menurutnya, virus akan terus bermutasi untuk bertahan hidup dengan cara menurunkan tingkat keparahannya. Meskipun penyebarannya sangat masif (mirip varian Omicron pada COVID-19), tingkat fatalitas H3N2 varian K ini sangat rendah.
Dalam hal ini, Virus cenderung bermutasi menjadi lebih lemah agar inangnya (manusia) tidak cepat meninggal, sehingga virus tetap memiliki tempat untuk hidup. "Varian ini penyebarannya sangat cepat, tapi dia lemah sebenarnya dari tingkat kematian," jelasnya.
Kasus Super Flu di Bandung
Menanggapi adanya laporan pasien meninggal di RSHS Bandung yang dikaitkan dengan Super Flu, dia pun meluruskan bahwa penyebab utama kematian bukanlah virus flu tersebut, melainkan penyakit penyerta (komorbid) yang sudah dimiliki pasien.
Dia juga memberikan analogi sederhana bahwa seseorang yang mengidap flu namun meninggal karena kecelakaan, maka penyebab utamanya adalah kecelakaan, bukan flunya.
Baca Juga: Cegah Penyebaran Super Flu H3N2 dengan Vaksin Influenza
"Meninggalnya bukan karena flu. Yang di Bandung itu karena memang punya penyakit lain yang menyebabkan yang bersangkutan meninggal," tuturnya.
Hingga Senin (12/1/2026), kasus yang menjadi sorotan di Bandung merupakan bagian dari data 62 pasien awal yang telah terdeteksi sebelumnya, melainkan bukan merupakan lonjakan kasus baru yang di luar kendali.
"Masyarakat diimbau untuk tetap menjaga daya tahan tubuh dan menerapkan pola hidup sehat sebagai perlindungan utama terhadap infeksi virus musiman ini," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









