Tangkap Peluang Ekonomi Digital, Potensi Serangan Siber Harus Diantisipasi

AKURAT.CO Ekonomi digital di Indonesia, terus mengalami pertumbuhan pesat dan diperkirakan akan mencapai nilai USD360 miliar pada tahun 2030. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut, sektor ini akan berkontribusi antara 20-30 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Namun, di balik peluang besar tersebut, ancaman keamanan siber semakin meningkat, mengancam kepercayaan terhadap ekosistem digital yang menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi digital.
Sepanjang tahun 2024, Indonesia mengalami lonjakan serangan siber dalam berbagai bentuk, seperti infeksi malware, pelanggaran data, dan phishing.
Baca Juga: Core Tax Ditunda, Misbakhun Minta DJP Pastikan Keamanan Siber dan Perlindungan Data
Serangan ini, bahkan semakin canggih dengan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang meningkatkan risiko kerugian finansial dan reputasi bagi individu maupun organisasi.
Oleh karena itu, menjaga kepercayaan dalam transaksi digital serta perlindungan data menjadi faktor krusial untuk memastikan ekonomi digital yang berkelanjutan.
Menanggapi tantangan tersebut, Asosiasi Digitalisasi & Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI) bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) serta Kaspersky menggelar forum strategis bertajuk Cyber Secure 2025: Penguatan Kolaborasi Pemerintah & Swasta Guna Melindungi Masa Depan Digital Indonesia dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi.
Acara ini mempertemukan pemerintah, lembaga internasional, serta dunia usaha untuk merumuskan solusi inovatif dalam menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks.
Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, menegaskan pentingnya sinergi antara regulator dan industri dalam membangun ketahanan siber nasional.
"Kolaborasi strategis antara pemerintah dan dunia usaha sangat penting dalam memperkuat ketahanan siber Indonesia, terutama di tengah ancaman yang terus berkembang. Regulator dan pelaku industri harus memahami prioritas serta kepentingan masing-masing guna menciptakan solusi dan respons bersama," kata Slamet.
Baca Juga: Kurs Rupiah di Google Tampil Janggal: Pakar Keamanan Siber Soroti Kemungkinan Penyebabnya
Sementara itu, Ketua ADIGSI, Firlie Ganinduto, menyoroti pentingnya peran keamanan siber dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital yang berkelanjutan.
"Kolaborasi strategis antara pemerintah dan dunia usaha harus selaras dengan strategi nasional untuk menjadikan ekonomi digital Indonesia sebagai sumber pertumbuhan baru. Forum ini adalah langkah awal dalam merealisasikan tujuan tersebut," kata Firlie.
Sementara itu, Direktur Urusan Pemerintahan dan Kebijakan Publik Kaspersky, Genie Sugene Gan, turut memberikan wawasan mengenai tren keamanan siber global. Dia menyoroti berbagai tantangan, mulai dari penggunaan AI dalam serangan siber, globalisasi rantai pasokan, hingga meningkatnya insiden pelanggaran data.
"Di tengah lanskap keamanan siber yang terus berkembang, pembentukan ADIGSI dilakukan pada saat yang tepat untuk menyatukan pemangku kepentingan dalam industri keamanan siber dan mencari solusi bersama atas tantangan yang dihadapi," ujarnya.
Melalui forum ini, diharapkan lahir strategi inovatif dalam menangani ancaman siber, meningkatkan kesadaran organisasi serta masyarakat terhadap risiko serangan siber, serta memperkuat kepercayaan terhadap ekosistem digital nasional.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan sektor swasta, Indonesia dapat membangun ekonomi digital yang aman dan berkelanjutan, sekaligus mendorong investasi dan inovasi dalam menghadapi era digital yang semakin maju.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








