Akurat

Waspada Penyebaran Paham Radikal Terorisme dan Intoleransi di Lingkungan Kerja

Mukodah | 6 Juni 2024, 13:13 WIB
Waspada Penyebaran Paham Radikal Terorisme dan Intoleransi di Lingkungan Kerja

AKURAT.CO Para pekerja di instansi pemerintah maupun swasta harus paham dan waspada dengan penyebaran paham radikal terorisme dan intoleransi di lingkungan kerja masing-masing.

Kewaspadaan ini penting agar masyarakat, terutama pegawai, memiliki imunitas dalam menangkal penyebaran paham-paham tersebut.

Hal tersebut dikatakan Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT,) Mayjen TNI Roedy Widodo, saat menjadi narasumber dalam Pembinaan Pencegahan Intoleransi dan Radikalisme kepada Pegawai Negeri pada Polri dan Keluarga di Lingkungan Mabes Polri.

Acara diselenggarakan oleh Asisten Sumber Daya Manusia (As SDM) Polri di Hotel Grand Kemang, Jakarta, pada Rabu (5/6/2024).

"Kita harus dan mengetahui sejak awal bahaya paham radikal terorisme dan intoleransi harus sebagai bekal untuk diri kita sendiri. Bahkan bukan hanya seorang ASN ataupun anggota (polisi) saja tetapi juga untuk seluruh masyarakat," kata Roedy.

Baca Juga: BNPT Tekankan Pentingnya Multilateralisme Melalui Kerja Sama Internasional dalam Penanggulangan Terorisme

Kegiatan yang mengambil tema "Bersama Menangkal Radikalisme Menuju Indonesia Maju" itu diikuti sebanyak 120 ASN Mabes Polri secara offline dan seluruh ASN Polri di seluruh Polda secara daring.

Roedy mengungkapkan bahwa pembekalan kepada pegawai negeri dan anggota Polri ini menjadi bagian yang penting, agar paham dalam bahaya penyebaran ideologi tersebut.

Oleh karena itu, para pegawai dan masyarakat harus memahami bahaya itu.

"Kalau sudah memahami kita bisa mencegah apa yang perlu diantisipasi. Karena tindak pidana dari aksi terorisme yang terjadi di Indonesia ini sasarannya mengarah kepada perempuan, remaja dan anak-anak," jelas alumni Akademi Militer tahun 1990 ini.

Menurutnya, untuk melindungi ASN Polri dan keluarganya dari pengaruh paham radikal terorisme dan intoleransi, mereka perlu membekali diri dengan pengetahuan untuk dapat meningkatkan public resilience (daya tahan) ataupun imunitas, agar tidak terpapar paham-paham tersebut.

"Seperti halnya kalau kita terkena Covid-19, agar tidak terkena virus tersebut maka harus diobati dengan imunisasi. Maka agar kita tidak terpapar paham radikal, kita juga harus seimbang agar imun dari paham-paham tersebut. Caranya yaitu kita harus bekali dengan pengetahuan terkait dengan bahaya radikalisme dari sejak dini," terang Roedy.

Dia menjelaskan, dari hasil penelitian saat ini, perempuan, remaja dan anak-anak menjadi target untuk direkrut oleh kelompok radikal terorisme dan intoleran tersebut.

Baca Juga: Gelar Sekolah Damai di Semarang, Upaya BNPT Ciptakan Lingkungan Pendidikan Aman, Damai dan Penuh Nilai Toleransi

Di mana, pola rekrutmen yang dilakukan saat ini menggunakan kemajuan teknologi informasi yaitu internet melalui platform media sosial.

"Ini yang harus diwaspadai oleh kita semuanya karena kelompok-kelompok tersebut cara merekrutnya tidak lagi bertemu langsung seperti dulu, tetapi sudah memanfaatkan teknologi digital atau internet dengan menggunakan media sosial seperti WhatsApp, Telegram dan sebagainya. Terutama terhadap tiga kelompok rentan tersebut yaitu perempuan, remaja dan anak anak," ujar Roedy.

Untuk itu, mantan Dandim 0603/Lebak ini berharap kepada ASN dan juga anggota Polri ke depannya untuk dapat lebih mewaspadai pola pola rekrutmen yang dilakukan kelompol radikal terorisme sebagai upaya menangkal paham ataupun bahaya intoleransi, radikalisme dan terorisme dari awal.

Dirinya meminta para ASN Polri ini dapat berperan memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa bahaya radikal terorisme itu ada, bukan hanya 'katanya, katanya; tetapi fakta dan nyata.

Roedy menegaskan bahwa daya tahan atau public resilience dan public awareness itu memang datang dari masyarakat.

"Karena dalam rangka menanggulangi terorisme itu bukan hanya dilakukan oleh BNPT semata, tetapi seluruh stakeholder yang ada dan seluruh masyarakat dengan pendekatan secara pentahelix yaitu melibatkan pemerintah pusat dan pemerintahan daerah. Kemudian keduanya masyarakat atau ormas, ketiga yaitu melibatkan media, keempatnya BUMN, BUMD atau pengusaha. Dan kelimanya, akademisi saling berkolaborasi dalam program pentahelix tersebut," pungkasnya menjelaskan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK